terbaik
Indah Laili Rahmawati, wisudawan terbaik S2 Program Studi Vaksinologi dan Imunoterapi. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

WARTA UNAIR – Indah Laili Rahmawati terbilang gigih dalam menuntaskan pendidikan S2 Program Studi Vaksinologi dan Imunoterapi. Melalui penelitiannya tentang analisis asam amino gen fusion (F) dan prediksi epitop sel B virus Newcastle Disease yang memiliki sifat imunogen tinggi sehingga dapat digunakan vaksin berbasis epitop di Indonesia, perempuan kelahiran Banjarbaru, 16 Oktober 1993 ini meraih predikat wisudawan terbaik dengan IPK 3,92.

“Alasan saya mengambil riset ini karena penyakit Newcastle Disease sangat menular pada ayam, spesies burung peliharaan dan burung liar, dan menyebabkan kerugian ekonomi di industri perunggasan di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan vaksin berbabis epitop yang mampu menanggulangi penyakit tersebut,” tuturnya.

Perjalan Indah tidaklah mudah. Ia mengalami beberapa kendala terkait manajemen waktu. Awalnya ia kerepotan mengatur waktu. Namun seiring berjalannya waktu ia mulai memahami prosedur-prosedur penelitian. Hal itu membuatnya mampu mengatur waktu dan mengatasi kesalahan dalam penelitian.

Ia mengaku perjuangannya membuahkan hasil setimpal. Beragam perjuangan ia lakukan, mulai mencari sampel di pagi-pagi buta, mengulangi hasil pemeriksaan yang gagal, menunggu hasil dari sebuah uji, serta masalah klasik yaitu revisi. “Saya bahagia karena dikelilingi orang-orang yang membantu saya, tim yang hebat, serta pembimbing-pembimbing yang luar biasa,” kata Indah.

Indah mengaku segala hal yang dilakukan karena cinta akan mendorong untuk bekerja keras, tidak mudah menyerah, tekun, dan memberikan yang terbaik. Terlepas dari itu, motivasinya adalah untuk membanggakan orang tua.

“Kelak apabila diberi kesempatan, saya ingin melanjutkan penelitian ini lebih dalam,” kata perempuan alumni SMA Negeri 1 Amuntai ini.

Baginya, semakin mendalami sesuatu maka akan timbul kesadaran bahwa masih banyak hal yang belum diketahui. Maka dari itu, ia tidak ingin berhenti belajar. (*)

Penulis : Siti Nur Umami

Editor : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm
Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).