seksualitas
Dewi Rokhmah, wisudawan terbaik S-3 FKM UNAIR. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook70Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Sebagai aktivis yang sering menggeluti bidang kesehatan dan seksualitas, Dewi Rokhmah banyak melakukan penelitian terkait perilaku seksual yang terjadi di daerah asalnya, Jember. Dalam disertasi yang ia tulis, Dewi memaparkan empat faktor penyebab seorang laki-laki memiliki orientasi homoseksual atau laki-laki suka laki-laki (LSL).

Keempat faktor penyebab perilaku homoseksual itu muncul pada laki-laki adalah pengalaman traumatik pada masa kecil yang menjadi korban kekerasan seksual, pola asuh orang tua yang tidak tepat, pengaruh lingkungan pergaulan termasuk penggunaan gawai, dan paparan pornografi.

Peraih IPK sempurna alias 4,00 ini menerangkan, proses pembentukan orientasi seksual berlangsung bertahap. Dimulai dari masa anak-anak, khususnya bagi penyintas kekerasan seksual.

“Dampaknya, anak-anak akan kebingungan menentukan orientasi seksual ketika ia memasuki masa remaja. Masa inilah yang menjadi titik balik atau turning point yang menyebabkan seseorang menjadi homoseks,” terang Dewi.

Selanjutnya, pada masa remaja, mereka mencari identitas seksual dengan mencari pembuktian adanya orientasi homoseksual. Pada usia ini mereka mengalami masa disosiasi dan signifikasi, yakni menyadari bahwa ia berorientasi homoseksual dan melakukan hubungan seks sesama jenis.

“Pada masa dewasa, mereka sudah berani membuka identitas diri sebagai homoseks atau LSL di komunitas dan bahkan publik,” imbuh dosen kelahiran Malang ini.

Menurutnya, pembentukan orientasi homoseksual bisa dicegah asal masyarakat tak bersikap acuh tak acuh kepada sosok pribadi dan komunitas. Tujuannya, agar keberadaan komunitas tak kian eksis. Di sisi lain, masyarakat tak boleh memberikan stigma apalagi mendiskriminasi kaum homoseksual.

Orang tua juga harus menanamkan pola asuh yang tepat, pendidikan seks usia dini, pemahaman agama, pembangunan komunikasi yang efektif, mengenali tema bergaul, dan membangun online resilience dengan anak.

Pemerintah juga perlu berperan. Di tingkat daerah, pemerintah perlu berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Komisi Perlindungan Anak, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pendidikan guna mengeluarkan program peningkatan peran keluarga serta sekolah terkait pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas.

Di tingkat pusat, pemerintah harus melek media dengan menyeleksi tayangan yang menampilkan perilaku homoseksual, baik di televisi, bioskop, maupun jejaring internet. Selain itu, pemerintah harus memberikan sanksi tegas bagi pelanggar. (*)

Penulis : Defrina Sukma S.

Editor : Bambang E.S

ShareShare on Facebook70Tweet about this on Twitter0Email this to someone