lebah madu
DIANTARA anggota PKM ketika melakukan penelitian madu lebah apis dorsata di laboratorium FKH UNAIR. (Foto: Dok PKM)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Gangguan osteoporosis sering diderita oleh masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga, diusulkan kepada penderita untuk mengonsumni madu lebah Apis dorsata sebagai alternative obat antiosteoporosis.

Usul itu disampaikan sebab kandungan dalam madu Apis dorsata terdapat asam glukonat yang dapat meningkatkan absorpsi kalsium di dalam usus. Kandungan fenol pada madu ini juga dapat berperan dalam metabolisme tulang serta flavonoid dapat mencegah terjadinya pengeroposan tulang.

Kelima mahasiswa peneliti yang tergabung dalam kelompok Program Kreativias Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) itu diketuai M. Huda Ramadhan Ibrahim, dengan anggota Abdullah Hasib, Samsi Yordan, Siti Nur Rohmah, dan Salsabilla Abani.

Dibawah bimbingan Dr. Ira Yudaniayanti, drh., M.P., dosen mereka, penelitian ini kemudian dituangkan dalam proposal PKM-PE dan lolos seleksi Ditjen Dikti, sehingga memperoleh dana penelitian dalam program PKM Kemenristekdikti tahun 2016-2017.

Diterangkan oleh M. Huda Ramadhan, yang dilakukan timnya adalah meneliti kadar abu kalsium dan gambaran histopatologi tulang hewan coba yang telah diinduksi osteoporosis dengan cara pengambilan ovarium atau biasa disebut Ovariohysterectomy dan diberi madu sebagai perlakuan sehari-hari selama empat bulan.

Osteoporosis, lanjutnya, bersal dari kata osteo (tulang) dan porous (keropos), yang disebut juga pengeroposan tulang. Osteoporosis memiliki resiko yang merugikan penderita, dimana akan menyebabkan terjadinya fraktur pada tulang, nyeri pada punggung, dan dapat menyebabkan stres fisik, nyeri pinggang, sakit lutut, sakit persendian, nyeri pada paha, nyeri di kaki, gangguan fungsi aktivitas sehingga menimbulkan hilangnya kemandirian.

Penyebab terbanyak Osteoporosis di Indonesia adalah faktor gender, usia, gangguan metabolisme tulang, kurangnya aktivitas, kekurangan protein, dan kurangnya asupan vitamin D. Seorang wanita diindikasikan empat kali lebih rentan terserang osteoporosis dibandingkan dengan pria.

Dari penelitian itu, kata Huda, hasilnya sangat luar biasa. Kadar kalsium abu tulang menunjukkan hasil tertinggi pada hewan coba yang diberi perlakuan madu dengan dosis tertinggi. Hasil gambaran histopatologi tulang yang diberi madu dengan dosis tertinggi juga menunjukan tidak terlihatnya osteoporosis berbeda dengan tulang yang diinduksi osteoporosis, namun tidak diberi madu sama sekali.

“Dengan penelitian ini diharapkan ada perbedaan gambaran histopatologi dan kadar abu kalsium untuk setiap kelompok perlakuan, dan akhirnya perbedaan itu terlihat nyata sehingga madu dapat dijadikan sebagai obat antiosteoporosis,” ujar M. Huda Ramadhan.

Dari penelitian ini juga diharapkan bahwa madu dapat digunakan sebagai bahan ilmiah yang aman untuk mencegah terjadinya osteoporosis. (*)

Editor: Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone