Pengabdian Masyarakat FKH Ajarkan Masyarakat Hidup Sehat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Pengmas
Suasana pengabdian masyarakat di Desa Selogabus Tuban. (Foto: Siti Nur Umami)

UNAIR NEWS – Departemen Kedokteran Dasar Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR, kembali menghelat pengabdian kepada masyarakat guna mengimplementasikan salah satu pokok Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pada tahun ini, kegiatan pengabdian masyarakat tersebut dilangsungkan di Desa Selogabus, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, Sabtu (22/07).
“Tujuan utama pengabdian masyarakat ini yakni untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada masyarakat, khususnya dalam penggunaan bahan penyedap dan mengelola makanan cepat saji. Ibu-ibu pastinya tahu, kemesraan diawali dari dapur, sehingga harapannya kegiatan ini dapat bermanfaat dan dapat diterapkan untuk keluarga masing-masing,” tutur Dr. Eduardus Bimo H M.kes., drh, selaku ketua panitia saat memberikan sambutan.
Hal serupa disampaikan Sukiman, selaku Sekretaris Desa Selobagus tersebut mengatakan bahwa ilmu yang diberikan nantinya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakatnya karena disampaikan oleh pakar-pakar dibidangnya.
“Semoga dalam pemberdayaan kali ini, ibu-ibu yang hadir dapat memetik ilmu yang diberikan. Tak lupa ucapan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya untuk segenap tim pengabdian masyarakat FKH UNAIR,” terangnya.
Pengabdian masyarakat kali ini murni diprakarsai oleh para dosen pengajar di Departemen Kedokteran Dasar Veteriner. Hal ini membuktikan bahwa tidak hanya mahasiswa yang turun langsung dalam pengabdian masyarakat.
Prof. Sri Agus Sudjarwo drh., Ph.D dalam kegiatan pengmas kali ini memberikan pemaparan dampak dibalik lezatnya monosodium glutamat (MSG) dalam makanan. Mengingat masyarakat awam banyak mengkonsumsi MSG lantaran dirasa memberi kelezatan pada makanan.
Dalam kesempatan ini, ibu-ibu yang hadir di balai desa antusias mendengarkan pemaparan. Mengingat dalam kesehariannya selalu menggunakan MSG sebagai penyedap makanan.
“Produk yang mengandung MSG atau biasa disebut micin secara perlahan dapat membunuh manusia, prosesnya tidak terlihat,” tutur Prof. Agus usai memberi pertanyaan tentang penggunaan MSG.
Prof. Agus juga menambahkan berbagai bahaya MSG terhadap kesehatan manusia, seperti kerusakan otak, merusak sistem saraf, penyakit kardiovaskuler, dan berbagai penyakit lainnya. Tak hanya itu, Prof. Agus turut memberikan bukti penelitan seperti penelitian pada hewan coba tikus putih. Tikus yang diberikan makanan mengandung MSG akan mengalami obesitas (kegemukan). Hal ini dipicu adanya peningkatan pembentukan leptin dalam darah yang merangsang pusat nafsu makan.
Selain itu, Prof. Agus juga memberikan wawasan sejarah MSG pertama kali ditemukan oleh ahli kimia Jepang, Ikaeda Kikunae, disebut “umami” yang berarti enak, gurih atau lezat. Namun, dewasa ini MSG dikenal dengan berbagai sebutan seperti ajinomoto, miwon, vetsin, sasa, masako, royco, dan sebagainya.
“Harapannya ibu-ibu jangan terlalu mudah mencampurkan MSG kepada makanan. Disamping enak, tetapi juga membahayakan. Sebaiknya tidak melebihi takaran, 6mg/kg berat badan manusia setiap hari dan anak kecil atau ibu yang sedang mengandung sebaiknya menghindari,” tutup Prof. Agus.

Penulis : Siti Nur Umami
Editor : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu