Inovasi Mahasiswa UNAIR Temukan “Penghalang” Antiadhesi Intraperitoneal Pascabedah

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
adhesi
ANGGOTA Tim PKMPE ini serius melakukan penelitian dan uji coba di Lab FST UNAIR. (Foto: Dok PKMPE)

UNAIR NEWS – Adhesi intraperitoneal atau biasa disebut suatu “perlengketan” di rongga perut, merupakan salah satu kasus serius di kalangan para ahli bedah. Secara sederhana, adhesi intraperitoneal ini dapat dikatakan sebagai perlengketan antara permukaan organ-organ maupun dengan dinding perut pasca-kegiatan pembedahan.

Dari serangkaian permasalahan kasus adhesi intraperitoneal serta uji coba-uji coba dalam usaha mengatasi, mahasiswa Universitas Airlangga melakukan penelitian menemukan bahwa hydrogel dengan serangkaian uji in vitro bisa menghambat anti adhesi intraperitoneal.

Penilaian itu dilaksanakan oleh Wilda Kholida Annaqiyah, Ainia Rahmah Aisyah, Claudia  Yolanda Savira, Yolanda Citra Ayu Priskawati , dan Titin Widya Anjar Sari. Ketika disusun dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKMPE), dibawah bimbingan Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes., S.Bio,CCD., proposal ini lolos untuk memperoleh dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM 2016-2017.

Diterangkan oleh Wilda Kholida Annaqiyah, ketua tim, menurut etiologinya Adhesi intraperitoneal ini adalah pembentukan jaringan atau ikatan patologis yang biasanya terjadi antara omentum, usus, dan dinding abdomen yang merupakan bawaan atau di dapat sebagai reaksi post inflamasi atau pasca operasi. Ikatan ini dapat berupa lapisan jaringan ikat tipis, sambungan fibrous tebal yang berisi pembuluh darah dan saraf, atau perlengketan langsung antara kedua organ (Arung, 2011; Binda, 2004; Schoman, 2009).

Adhesi atau perlengketan ini dapat terjadi pada seseorang yang pernah mengalami riwayat operasi, bahkan tak sedikit kasus ini terjadi saat kegiatan operasi bedah terbuka maupun laparoskopi. Adhesi ini dikatakan kasus yang cukup serius, sebab dampak yang ditimbulkan cukup banyak, antara lain obstruksi usus, infertilitas (kemandulan), nyeri perut kronis, komplikasi serius yang mengharuskan seseorang operasi lagi bahkan meninggal dunia.

Prevalensi kejadian adhesi intraperitoneal sekitar 67-93% setelah operasi laparotomi bedah dan mencapai 97% pada operasi ginekologi. Adhesi antara luka dan omentum terjadi pada 80% pasien dan sekitar 50% melibatkan usus. Lebih dari 34% seseorang yang mengalami adhesi juga kembali dirawat di rumah sakit karena komplikasi yang terkait adhesi, dengan angka kematian 4,6-13% (Hellebrekers et al ,2011).

Menurut Arlan dalam Prasetyo (2012), di Indonesia insiden obstruksi yang disebabkan oleh adhesi peritoneal berada di posisi kedua, atau ketiga setelah hernia inguinalis dan keganasan kolon. Adhesi intraperitoneal juga penyebab tersering ileus obstruktif.

Di Indonesia tercatat 7.059 kasus obstruksi ileus paralitik dan obstruktif tanpa hernia yang dirawat inap, dan 7.024 pasien rawat jalan pada tahun 2004 (Bank Data Departemen Kesehatan Indonesia dalam Romadhan,2012). Obstruksi yang disebabkan adhesi berkembang sekitar 5% dari pasien yang mengalami operasi abdomen dalam hidupnya (Sabara dalam Romadhan,2012).

Guna mengatasi terjadinya adhesi intra peritoneal, banyak dilakukan percobaan terkait barrier (penghalang fisik) untuk mencegah terjadinya dhesi itu seperti obat-obatan/agen farmakologis, barier cair dan barier padat. Tetapi obat kimia seperti kortikosteroid, antikoagulan, antibiotik, bahan fibrinolitik dan hormon dinilai tidak adekuat dan belum efektif dalam menangani adhesi intraperitoneal. Sedangkan barier cair seperti NaCl ,ringer laktat serta larutan polimer N,O-carboxymethil chitosan (NOCC) dan carboxymethil cellulose (CMC) meski digunakan dalam jumlah besar namun dalam aplikasinya terlalu cepat diserap (Grainger et al,1991). Cairan yang paling umum digunakan adalah solusi hipertonik 32% dekstran 70, tetapi mulai ditinggalkan karena mempunyai komplikasi serius (Dizerega, 2000).

Sedangkan untuk barier padat seperti membran dan film dalam penerapannya masih mengalami kesulitan praktis saat diaplikasikan dan hanya mampu menghalangi area tertentu saja bahkan beberapa diantaranya dapat secara agresif melekat pada sarung tangan dokter bedah selama pemasangan (Attard et al, 2007).

Dalam rangka mengatasi kekurangan tersebut dalam menangani adhesi intraperitoneal maka dalam penelitian ini dibuatlah sebuah barier (penghalang fisik), yakni berbentuk hydrogel untuk mencegah terjadinya adhesi selama proses penyembuhan jaringan yang luka.

Hydrogel ini memiliki keunggulan yakni mampu menutupi area luka dan seluruh permukaan organ dengan geometri secara kompleks ketika disuntikkan kedalam tubuh, sehingga mampu menjadi penghalang fisik atau kontak langsung antara dinding perut maupun antar permukaan organ selama proses penyembuhan jaringan (Balakrishnan et al , 2005).

Hydrogel ini dibuat dengan bahan polimer berbasis methylcellulose dan hyaluronic acid dengan penambahan nano silver (AgNPs). Methylcellulose dan hyaluronic acid dipilih karena sifatnya yang biokompatibel, biodegradabel dan non-toksik. Selain itu Hyaluronic acid diketahui dapat meningkatkan proliferasi pada sel mesothelial peritoneal (Reijnen et al, 2000). Sedangkan nano silver berfungsi sebagai agen anti-bakteri mengingat prevalensi infeksi oleh bakteri di rongga perut yang tidak steril cukup besar.

Untuk melihat potensi hydrogel itu maka hydrogel akan melewati beberapa serangkaian uji in vitro, yakni uji swelling untuk melihat kemampuan mengembang dan penyerapan cairan tubuh. Uji degradasi untuk melihat seberapa lama sampel bertahan di dalam tubuh, uji sitotoksisitas untuk menguji sifat toksik sampel.Lalu uji antibakteri untuk melihat kemampuan antibakteri dari nano silver, dan uji Fourier Transform Infra Red (FTIR) untuk menggambarkan ikatan kimia pada bahan.

”Jadi hydrogel ini sudah melewati serangkaian uji in vitro dan memenuhi sebagai barier anti adhesi intraperitoneal. Harapan kami hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam bidang medis untuk aplikasi agen anti adhesi intraperitoneal dan dapat dilanjutkan dalam tahap uji in vivo dan uji klinis,” kata Wilda Kholida Annaqiyah. (*)

Editor: Bambang Bes

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu