rumput
PROSES pengujian pemberian limbah padat karagenan pada simulasi kolam tambak di aquarium. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Prospek pembangunan perikanan dan kelautan di Indonesia sangat cerah karena posisinya yang sangat strategis. Negara yang terdiri dari 17.502 pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000 km ini, otomatis memiliki wilayah perikanan sekitar 5,8 juta km2. Komoditas rumput laut menjadi salah satu komoditas ekspor utama sumber daya perairan laut setelah ikan tuna dan udang.

Berdasarkan data penelitian Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan tahun 2002-2003, jumlah limbah padat yang dihasilkan pada pengolahan karagenan berkisar 70-80%. Terpicu oleh besarnya limbah karagenan itu empat mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga melakukan inovasi melakukan penelitian agar limbah yang dihasilkan dari pengolahan rumput laut Echeuma cottonii dapat memberikan nilai tambah dan meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan serta untuk menunjang pertumbuhan phytoplankton di kolam tambak.

Empat mahasiswa FPK Universitas Airlangga itu adalah Elki Andriyanto, Hafizha Millati Novanda, Dessy Nuraini, dan Kautsar Senja. Dibawah bimbingan dosennya, Annur Ahadi Abdillah, S.Pi., M.Si., mereka menyusun penelirtiannya itu dalam proposal bertajuk “Optimasi Mikronutrien dari Ekstraksi Limbah Padat Karagenan (Euchema cottonii) Sebagai Penunjang Pertumbuhan Phytoplankton di Kolam Tambak Budidaya”.

Proposal tersebut lolos dari penilaian Dikti sehingga memperoleh pendanaan penelitian dari Dirjen Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) Kemenristekdikti tahun 2016-2017.

Dijelaskan oleh Elki Andriyanto, ketua tim, manfaat penelitian ini untuk menambah kekayaan komoditi lokal dan menambah nilai guna dari limbah-limbah yang kurang termanfaatkan seperti limbah hasil produksi karaginan olahan rumput laut serta menunjang pertumbuhan phytoplankton di kolam tambak dengan penambahan pupuk alami dari limbah padat karagenan. Apabila phytoplankton di kolam tambak tumbuh baik, maka ikan yang ada akan terpenuhi kelangsungan hidupnya dan mengurangi penggunaan pupuk kimia yang mahal.

rumput
ANGGOTA Kelompok PKM-PE dari FPK UNAIR. (Foto: Istimewa)

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah aquarium, selang kecil, aerator, ember, kabel olor, mikroskop, haemocytometer, refractometer, DO meter, pH meter, toples kaca, batu aerasi, pipet tetes, lampu TL, gelas ukur, corong kaca, kertas label, plastic tahan panas, plastic klip, kain blancu, dan timbangan analitik.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah air tambak, limbah rumput laut, aquades, chlorin, lugol, tetes tebu (molase), probiotik em4 kuning, dan antichlorin. Prosedur kerja dari penelitian ini adalah metode optimasi mikronutrien LPK menggunakan metode fermentasi dengan penambahan molase, EM4 kuning dan aquades yang difermentasikan selama 24 jam. Penelitian juga menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan (kontrol, 0,25 ml/L, 0,50 ml/L, 0,75 ml/L, dan 1,0 ml/L) dengan 4 kali pengulangan yang diamati selama 7 hari.

Dalam penelitian ini mengutamakan pemanfaatan limbah hasil pengolahan karagenan untuk menciptakan produk bernilai ekonomis tinggi yang berupa pupuk cair sebagai penunjang pertumbuhan phytoplankton di kolam tambak.

Hasil penelitian ini adalah penggunaan pupuk cair hasil optimasi mikronutrien LPK pada dosis C  (0,50 ml/L) merupakan dosis yang paling baik untuk menunjang pertumbuhan fitoplankton. Phytoplankton yang teridentifikasi pertumbuhannya dalam kolam air tambak adalah Chlorella sp, Volvox sp, Paramecium sp. Spesies-spesies tersebut merupakan spesies phytoplankton yang menjadi pakan alami bagi ikan-ikan di tambak. (*)

Editor: Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone