koyo
ANGGOTA Tim PKM-PE dari Fakultas Farmasi UNAIR ketika berada di laboratorium. (Foto: Dok PKMPE FF)
ShareShare on Facebook22Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kanker diketahui sebagai penyakit yang mengerikan. Ini antara lain karena efek penyakitnya dan efek samping terapi obat kanker (kemoterapi) yang menyakitkan bagi pasien. Di Indonesia, kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak dengan prevalensi 12/100.000 perempuan (Kemenkes RI – 2015).

Doxorubicin dapat digunakan sebagai kemoterapi pasien kanker payudara melalui injeksi intravena. Hal tersebut menguntungkan karena obat dapat bekerja secara cepat. Akan tetapi juga memiliki kekurangan yaitu menyebabkan nekrosis dan perdarahan (ulserasi) akibat penyuntikan, dan kerja obat tidak spesifik,  sehingga menyebabkan efek samping sistemik, serta bila terjadi alergi perlu waktu untuk penanganannya.

Tergerak dari keprihatinan terhadap pasien kemoterapi kanker payudara itulah, lima mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKMPE) yaitu Ayu Tarantika Indreswari, Vita Fitria, Galuh Damar, Nurul Azizah, dan Beatrice mengembangkan sediaan berupa koyo (patch) yang mengandung Doxorubicin yang dapat ditempel di kulit payudara.

Patch Doxorubicin menggunakan sistem penghantaran obat transdermal dan dibantu dengan arus listrik (iontoforesis), sehingga Doxorubicin dapat menembus kulit dan masuk ke dalam jaringan terjangkit kanker payudara. Dalam menjamin kualitas, keamanan, dan kenyamanan penggunaan Patch Doxorubicin maka dilakukan berbagai uji skala laboratorium, seperti uji keseragaman bobot, keseragaman diameter, keseragaman tebal patch, uji pH, kandungan lengas, kuat tarik, FTIR, dan DSC.

Ditemui di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Ayu Tarantika Indreswari, ketua Tim ditemani keempat rekannya, menuturkan kelebihan sediaan Patch Doxorubicin buatan tim ini. Dikatakan, penggunaannya mudah dan tidak menyakitkan pasien, targetnya spesifik pada jaringan kanker payudara sehingga efek samping kemoterapi lebih sedikit, serta bila terjadi tanda-tanda alergi maka patch dapat segera dilepas dari kulit si pasien.

“Sampai saat ini penelitian kami masih dalam skala laboratorium. Harapan kedepan, kami ingin penelitian ini berlanjut sampai aplikasi reservoir patsh transdermal Doxorubicin ini dapat menunjang keamanan, keefektivitasan, dan kenyamanan kemoterapi pada pasien kanker payudara,” kata Ayu.

Bahkan, kata mereka, penelitian ini telah mendapat penghargaan salah satu gagasan terbaik dari ISPE (International Society Pharmaceutical Engineering) yaitu salah satu forum professional dari Industri Farmasi yang diselenggarakan bulan Mei lalu di Jakarta. “Bahkan kami diberi penawaran untuk penelitian lebih lanjut di beberapa Industri Farmasi,” tambah Ayu.
“Karena itu kami berharap penelitian ini tidak berhenti sekedar penelitian, tetapi kedepannya dapat benar-benar dikembangkan dan diproduksi dalam skala industri sehingga industri farmasi di Indonesia dapat memimpin inovasi obat kanker, khususnya untuk kanker payudara berbasis koyo,” kata Ayu mengakhiri penjelasan. (*)

Editor: Bambang Bes

ShareShare on Facebook22Tweet about this on Twitter0Email this to someone