pendidikan karakter
Mahasiswa Berprestasi Universitas Airlangga, Imamatul Khair, kini tengah bersaing dengan 17 mawapres lainnya se-Indonesia. (Foto: Defrina Sukma S)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – “Pemerintah baru melakukan intervensi di sisi academic achievement, tetapi belum memberikan pendidikan karakter kepada anak-anak.” Itulah ungkapan yang disampaikan oleh mahasiswa berprestasi (mawapres) Universitas Airlangga tahun 2017, Imamatul Khair.

Imamatul, sapaan akrabnya, kini tengah berlaga di ajang mawapres nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Kompetisi yang dilangsungkan di Hotel Swiss-Bellinn Surabaya dilaksanakan pada 10–12 Juli. Kompetisi tersebut diikuti 24 mawapres dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Ketika diwawancarai, Imamatul menyampaikan inspirasinya yang melatari gagasan tentang pendidikan karakter. Di sebuah kawasan wisata di Pamekasan, ia banyak menemui anak-anak yang suka meminta-minta meskipun mereka tidak berasal dari kalangan ekonomi ke bawah.

Imamatul menilai, kebiasaan tersebut disebabkan oleh kurangnya pendidikan karakter yang ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini. Akibatnya, mereka tak berpikir tentang kebermanfaatan terhadap orang lain. Ia menyebutnya dengan istilah human achievement.

Melalui gagasan bernama project based learning, ia ingin memberikan pelajaran karakter secara berkelanjutan yang menyasar anak-anak.

“Salah satunya, kami ingin agar mereka menulis semacam daily journal atau buku harian. Isinya cukup tentang kegiatan sehari-hari. Kemudian isi buku harian tersebut didiskusikan dengan guru selaku wali kelasnya sehingga guru bisa melakukan intervensi pendidikan karakter,” tutur mahasiswa Program Studi S-1 Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB).

Kecintaannya pada pendidikan bukan saja kali ini diakui oleh Imamatul. Meski mengenyam pendidikan di bangku sastra, gadis asal Sumenep ini punya komunitas yang aktif memberikan edukasi bagi anak-anak. Komunitas bernama Saghara Elmo ia dirikan sejak tahun 2016.

Sejak tahun lalu, ia bersama sekitar 20 rekannya dari berbagai kalangan termasuk mahasiswa di Jawa Timur mengunjungi para pelajar di wilayah Pamekasan dan Sumenep untuk menanamkan edukasi karakter.

Meski kini ia masih disibukkan dengan ajang mawapres, perempuan kelahiran 11 Juli 1995 ini menyimpan asa untuk melanjutkan pendidikan master ke Inggris. Imamatul ingin menekuni bidang pendidikan dan pengajaran.

Sebagai mawapres UNAIR, pengagum novelis Ilana Tan ini tak pernah berhenti meraih juara. Peraih beasiswa Aktivis Nusantara itu juga menjadi delegasi “The 3rd Asian Undergraduate Summit di National University of Singapore” dan UNAIR tahun 2017. Dalam ajang itu, ia meraih predikat Best Cultural Performance.

Mahasiswa S-1 Sastra Inggris itu juga pernah menjadi peserta terpilih Young Southeast Asian Leaders Initiative Camp U-Theory Leadership in Collaboration with United in Diversity pada tahun 2016.

Penulis: Defrina Sukma S

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone