ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Pengembangan teknologi di bidang Sensor Serat Optik (SSO) merupakan sebuah keniscayaan bagi Indonesia. Teknologi tersebut aplikatif dan diperlukan untuk banyak kebutuhan fundamental sehari-hari. Yang selama ini, dicukupkan oleh produk impor.

Basis SSO diwujudkan dalam bentuk laser yang bisa digunakan untuk kebutuhan medis, analisis bahan kimia, dan kebutuhan fisika terapan. Melalui sinar laser yang melakukan scan terhadap getaran di objek yang “ditembak”, bisa dideteksi kondisi di lokasi tersebut. Contoh gamblangnya, terdapat teknologi laser yang dapat mendeteksi detak jantung. Bisa pula diperoleh info tentang kandungan bahan kimia pada larutan atau zat yang “ditembak”. Demikian juga, bisa diketahui kondisi pada satu lokasi yang tempatnya tersembunyi dan hanya bisa ditembus dengan sinar laser.

Penggunaan sinar laser memiliki sejumlah keunggulan dibanding metode lainnya. Antara lain, non contact atau tanpa kontak langsung pada objek, non-listrik, dan lebih fleksibel karena ringan sekaligus efektif.

Salah satu pakar UNAIR yang mendalami bidang ini adalah Prof. Dr. Moh. Yasin, M.Si., Guru Besar dalam bidang Ilmu Fisika Optik pada Fakultas Sains dan Teknologi (FST). “Ada banyak alat di sekitar kita, yang nyaris semuanya impor. Padahal, sering kita pakai. Maka itu, Indonesia mesti punya fokus pada pengembangan teknologi ini, supaya bisa mandiri. Tidak hanya menjadi pasar pihak asing,” ungkap Yasin saat ditemui di ruang kerjanya pertengahan Mei lalu.

Alat yang dimaksud antara lain, lensa kamera, alat kedokteran dan kesehatan yang digunakan untuk mendeteksi kondisi organ dalam, mikroskop dan lain-lain. Lelaki yang kerap menjadi reviewer buku atau jurnal ilmiah internasional itu mengatakan, demi mewujudkan cita-cita swasembada tersebut, semua elemen masyarakat mesti berkolaborasi. Yang dimaksud antara lain, akademisi, pengusaha atau swasta, pemerintah, dan komunitas atau masyarakat.

Disampaikan oleh Yasin, Fisika Optik merupakan cabang Ilmu Fisika yang mempelajari tentang pembangkitan radiasi elektromagnetik, sifat radiasi, dan interaksi cahaya dengan bahan. Interaksi cahaya dengan bahan ini dapat terjadi berdasarkan atas fenomena optis seperti pantulan, pembiasan, transmisi, dan hamburan.

SSO merupakan bagian dari sensor optik adalah sensor yang menggunakan serat optik sebagai unsur pengindera perubahan fisis yayang akan terjadi. Intinya, ada cahaya laser ditembakkan ke suatu media dan dipantulkan. Nah, pantulan itulah yang dimodifikasi dan uraikan informasinya.

Kendati metode yang diungkapkan Prof. Yasin terbilang sederhana, namun banyak peralatan yang menggunakan metode serupa yang kemudian dibanderol dengan harga yang mahal. Bahkan, ada sebuah produk yang harganya sampai Rp 5 miliar.

Terkait metode yang telah dijelaskan tadi, Gubes yang pernah meraih penghargaan sebagai sivitas dengan Publikasi Terbanyak di UNAIR tahun 2015 ini tengah membuat sebuah prototype dengan piranti SSO. Prototype ini diharapkan dapat membantu bidang medis dan industri. Bahkan, ia berharap pada tahun 2020 nanti sudah berhasil membuat sistem SSO sebagai fundamental yang kuat dalam penguasaan teknologi SSO untuk aplikasi di bidang medis dan industri.

Menurut Yasin, teknologi SSO ini memiliki beragam keunggulan, baik bidang medis maupun industri. Dalam bidang industri, SSO dapat dimanfaatkan untuk banyak aplikasi seperti suhu, getaran, tekanan, regangan, arus listrik dan lainnya.

“Salah satu keunggulan di bidang medis adalah bisa sebagai aplikasi deteksi dini kanker payudara. Bisa juga digunakan sebagai pengukur detak jantung,” jelasnya.

Kaya prestasi

Prof. Yasin kerap menuliskan publikasi ilmiah di beberapa jurnal internasional. Sejak 2008 hingga 2016, setidaknya sudah 49 artikel ilmiah yang membahas mengenai Sensor Serat Optik (SSO) sudah ditulisnya di jurnal terindeks Scopus. Karena kontribusinya, baru-baru ini ia tercatat di dalam 146 Sosok Panutan Dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan, menurut situs www.indonesia2045.com. Dia menduduki peringkat 63.

Pada 2015, dia mendapat penghargaan publikasi terbanyak dan unggul di Universitas Airlangga. Prestasi gemilang lain yang ditorehkan Yasin ialah penghargaan dari penerbit internasional Emerald Publisher pada kategori Highly Recommended Paper Award pada 2013. Ia menduduki peringkat kedua dari 40 artikel yang ditulis penulis di seluruh dunia.

Pada 2007, Yasin mengembangkan aplikasi sensor pergeseran serap optic. Penelitian ini ia kembangkan dan sudah menghasilkan banyak publikasi. Yasin pun mendapatkan Hibah Kompetensi di bidang Serat Optik. Penelitian ini berjudul “Aplikasi Sensor Mikro Pergeseran Dengan Menggunakan Serat Optik Bundel 1000 RF untuk Deteksi Kalsium”.

Agar aplikasi tersebut mempunyai optimalisasi kinerja yang tinggi, Yasin akan meningkatkan stabilitas sensor dan juga meningkatkan sensitifitas dengan teknik penyirnergian panjang gelombang sumber cahaya laser. (*)

 

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone