Prof. Dr. Sukardiman, Apt., MS, merupakan Guru Besar Fakultas Farmasi UNAIR di bidang Farmakognosi tersebut. (Foto: Istimewa)
Prof. Dr. Sukardiman, Apt., MS, merupakan Guru Besar Fakultas Farmasi UNAIR di bidang Farmakognosi tersebut. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Salah satu pakar farmasi dan obat herbal yang berasal dari Universitas Airlangga (UNAIR) adalah Prof. Dr. Sukardiman, Apt., MS. Dia telah banyak melakukan penelitian panjang tentang tumbuh-tumbuhan berkhasiat di Indonesia. Salah satu yang saat ini tengah digagas untuk dapat diproduksi secara massal dan dipasarkan dengan bebas adalah ramuan ekstrak kulit manggis dan kumis kucing. Manfaat ramuan yang dimaksud ada dua. Yakni, sebagai obat herbal antidiabetes (penurun kadar gula) dan antikolesterol yang merusak.

Guru Besar Farmasi itu mengungkapkan, setidaknya ada tiga pendekatan untuk mencari khasiat obat pada tanaman. Pertama, melakukan full screening pada semua tumbuhan. Dari situ, dapat terlihat, tumbuhan yang satu berkhasiat apa, sedangkan tumbuhan yang lain, berkhasiat apa. Kedua, melakukan pemetaan berdasarkan “keluarga” tanaman. Misalnya, bila satu tanaman memiliki kandungan yang dapat menyembuhkan penyakit tertentu, bisa jadi, tanaman lain yang berasal dari “keluarga” yang sama memiliki kandungan yang sama.

Sedangkan yang ketiga, dan inilah yang dilakukan oleh Sukardiman selama ini, dengan cara etnofarmasi. Yakni, melakukan pemetaan berdasarkan data empirik yang ada di masyarakat. Tepatnya, dari kebiasaan masyarakat di Indonesia, yang diwariskan secara turun-temurun, terkait khasiat tanaman tertentu untuk obat penyakit tertentu. “Bangsa Indonesia mesti bersyukur. Kekayaan dan kearifan lokal di negeri ini sudah membuat para leluhur gampang mendapatkan obat alami. Obat-obat tradisional itu yang bisa kita nikmati khasiatnya hingga sekarang,” papar dia.

Khazanah alam yang begitu melimpah di Nusantara juga berpotensi membuat negara ini unggul di bidang obat-obatan herbal. Tak ayal, saat ini Kementerian Kesehatan lagi gencar-gencarnya menjalankan program kemandirian pengadaan bahan baku obat dan bahan baku obat tradisional. Meski memang, birokrasi untuk menuju ke arah swasembada itu juga perlu dibenahi.

Sukardiman mengatakan, sudah sepantasnya, izin produksi obat herbal terstandar melalui proses yang panjang. Namun, tidak pas juga bila birokrasi dibuat berbelit. Apalagi, bila SDM yang berada di balik produk obat herbal itu adalah mereka yang sudah terbukti memiliki integritas dan komitmen bagi kemajuan bangsa. Di sisi lain, pengawasan terhadap promosi obat herbal juga harus dibuat proporsional. Selama ini, ada banyak pihak yang bebas melakukan promosi obat herbal di televisi, padahal kompetensi yang bersangkutan masih dipertanyakan. “Saya pernah lihat, ada satu obat tetes yang bisa menyembuh banyak sekali penyakit. Saya heran, itu logikanya di mana? Apakah kandungannya memang tercukupi? Apakah penelitiannya sudah melalui banyak proses?” papar dia.

Sebab, saat membuat obat herbal, ada tiga aspek yang harus diperhatikan. Pertama, kualitas bahan baku yang terstandar. Hal ini terkait pula dengan penelitian yang komprehensif tentang bahan baku tersebut. Tak terkecuali, di mana lokasi bahan baku itu diambil. Kedua, jaminan produk yang aman bagi kesehatan. Hubungannya dengan dosis dan berapa lama produk dapat dikonsumsi. Ketiga, khasiat dari obat herbal itu sendiri. Untuk melihat khasiat, harus melalui tahapan pengujian yang tidak pendek.

Maka itu, pemerintah harus turun tangan untuk mengawasi obat-obat herbal yang ada di pasaran dan dipromosikan dengan gencar di media massa. Sebab, ini terkait standar khasiat dan keamanan masyarakat.

Selain melakukan eksteraksi kulit manggis dan kumis kucing, Sukardiman juga telah melakukan riset tumbuh-tumbuhan yang lain. Dia mencetuskan banyak produk yang aplikatif bagi masyarakat. Antara lain, membuat obat kanker dari sambiloto, obat kanker dari kencur, obat diabetes dari sambiloto dan mahoni, obat pegal linu dari kencur, dan peningkat stamina dari kencur.

Sukardiman optimistis, bangsa Indonesia dapat menjadi mendiri di bidang obat-obatan. Asalkan, ada koordinasi yang baik antar instansi plat merah yang mengurusi segala hal terkait. Pemerintah pun mesti mendukung program riset unggulan dari dosen ataupun peneliti yang dilakukan dengan serius dan cermat.

Sukardiman adalah salah satu dosen Fakultas Farmasi yang memiliki catatan cemerlang. Dia adalah Guru Besar Termuda Fakultas Farmasi pada 2008. Pria kelahiran Kebumen ini tercatat sebagai anggota reviewer penelitian DIKTI sejak 2010, dan Penelitian Binfarkes Kemenkes RI sejak 2013. Selain itu, dia juga menjadi Anggota Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) sejak tahun 2010 dan Anggota Bidang Obat Bahan Alam dari Koligeum Ilmu Farmasi Indonesia (KIFI) pada tahun 2016. Di sela kesibukannya, dia produktif menghasilkan buku dan menorehkan paten.

Prestasi yang sudah banyak dia raih, sudah dimulai sejak dahulu. Misalnya, pada 1999, Sukardiman mendapatkan penghargaan “Young Investigator Award” dari Perhimpunan Dokter Ahli Mikrosirkulasi Asia. Selain itu, dia juga ditetapkan sebagai Penyaji Terbaik Hasil Penelitian Ilmu Penelitian Dasar (IPD) oleh DIKTI pada 2004. (*)

 

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone