Berpesta Dengan Duka II

UNAIR NEWS – Laki-laki itu membuatku penasaran, untuk apa pesta ini diadakan. Sebelum aku bertanya pada Durja dan Lukas, aku mengingat obrolan kami suatu siang saat jam istirahat kerja. Aku, Durja, dan laki-laki itu menghabiskan sisa jam istirahat di sebuah balkon tempat kami bekerja.

Laki-laki itu mengawali pembicaraan kami di tengah siang yang tak seterik kemarin.

“aku ingin berpesta” kalimat itu disambung hisapan batang rokok yang cukup panjang.

Saat itu aku baru satu bulan mengenal mereka, maka aku pun bingung menjawabnya. Durja yang melihat kebingunganku, akhirnya angkat bicara menanggapi perkataan laki-laki itu.

“bukannya satu bulan yang lalu saat istrimu keguguran kau sudah berpesta?”

Keguguran? Pesta? Pesta setelah istrinya keguguran? Apa sudah gila laki-laki ini? Aku pun menyela pembicaraan itu.

“maaf bung, maksudnya berpesta saat istri bung keguguran itu bagaimana?”

“dia itu kalau berpesta mana pernah melihat-lihat situasi” Durja menjawab sebelum laki-laki memberi penjelasan panjang pada kami.

“ya, betul. Memang, seperti itu. Aku merayakan kehamilan istriku yang gugur. Jadi, ya itu caraku menghibur diri. Sebab kesedihan itu harus dirayakan kawan. Kau pernah lihat adat orang Toraja ketika ada yang meninggal? Mereka tak meratapi dengan tangisan dan diam di rumah. Kalau kita meratapi, kesedihan justru tinggal lebih lama, kawan. Kau akan sulit keluar dari kesedihan itu. Kebahagiaanmu bakal semakin jauh.”

“ah masak begitu bung Durja?” aku hanya berpura-pura meminta pendapat Durja, karena sungguh ini pertama kalinya aku bertemu seseorang yang berpesta ketika seharusnya ia berkabung.

Durja mengangkat bahu, ia menyalakan batang rokok yang kedua. Masih ada sepuluh menit kira-kira jam istirahat yang tersisa.

“bung, nanti kalau aku membuat pesta, datanglah. Biar kita bisa merayakan kesedihan bersama-sama.”

Aku mengangguk berkali-kali dengan ragu-ragu. Laki-laki itu ternyata mengerti ketidakterimaanku.

“kenapa kau tampak ragu-ragu kawan? Ayolah, kita itu harus berpikir ke depan. Kesedihan itu kan bukan untuk diratapi, ditangisi berhari-hari. Kalau kita sedih terus, ia akan tertawa melihat kita. Semakin betah ia bersama kita. Kebahagiaan perlu dijemput.” Lalu ia melangkah masuk, meninggalkan aku dan Durja.

“kau mungkin berpikir bahwa dia gila, tapi dia pernah lebih gila lagi dari pesta sebulan yang lalu”

“maksudmu Ja?”

“Sebelum aku kenal dia, ada yang bercerita padaku seperti aku bercerita ini padamu. Waktu mertuanya meninggal, ia pun berpesta, tepat satu hari setelah pemakaman.”

“istrinya tak tau soal pesta itu?”

“entahlah bung, yang jelas menurut cerita itu juga, rumah tangganya masih baik-baik saja. Tapi mereka memang sering bertengkar. Setiap habis bertengkar dengan istrinya, dia pasti mengajak kami minum. Dia yang mentraktir.”

Satu minggu setelah pembicaraan kami siang itu, aku diundang berpesta di rumah barunya. Ini baru masuk akal, pikirku.

Aku datang pada pukul delapan malam, saat itu kulihat Durja sudah asyik dengan makanan dan minuman di hadapannya. Di sebelah Durja, duduk seseorang perempuan, dialah Maria. Ia menggunakan tanktop yang dibalut jaket kulit hitam, aku tau itu karena ia sempat melepaskan jaketnya. Roknya sepuluh senti di atas lutut, rambutnya terurai dan bergelombang, danjari-jari lentiknya yang berkutek merah lincah memainkan batang rokok. Wanita ini misterius. Ia tak banyak bicara, bicaranya sedikit-sedikit atau ia hanya akan bicara bila perlu, bila ditanyai. Itulah yang membuatku semakin ingin mengenalnya. Di pesta berikutnya, malam ini, aku sudah lebih banyak berbincang dengannya.

***

Lukas pergi mengambil minum. Hingga tinggal aku dan Durja, lalu Durja mencondongkan badannya ke arahku, dan berbicara dengan sedikit berbisik,

“kau belum tau? Istrinya sudah pergi ke rumah mertuanya. Maksudku dia pulang ke rumahnya. Kemarin mereka bercerai.”

 

Penulis: Zumrotul Fatma Rahmayanti (Mahasiswi S1 Sastra Indonesia Universitas Airlangga)