Lebaran, Dari Petasan Bambu Hingga Tradisi Prepegan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
prepegan
ILUSTRASI ketupat sebagai simbol perayaan lebaran. (Sumber: Google)

UNAIR NEWS – Hari raya Idulfitri atau yang lebih akrab dengan istilah lebaran seperti menjadi hadiah dari Tuhan. Setelah satu bulan penuh menjalankan puasa dengan semua aturan-aturannya, lebaran menjadi satu momen puncak umat manusia untuk menyempurnakan ibadah puasa yang telah ditunaikan.

Mengenai hal-hal indah seputar lebaran, UNAIR NEWS berhasil menemui Direktur SDM Universitas Airlangga, Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum. Purnawan yang juga dosen Ilmu Sejarah UNAIR tersebut bertutur bahwa lebaran merupakan bentuk kembalinya manusia kepada fitrahnya, yakni kesucian.

“Setelah setahun dalam hidup kita yang banyak kesalahan. Nah ini ada upaya membersihkan selama bulan Ramadan. Dalam bulan ini ada upaya membersihkan hati kita, ada perenungan. Jadi pada Idulfitri ada batin yang bersih untuk hidup selanjutnya dan ke depan harus jauh lebih baik. Dan kesalahan yang sudah lalu tidak berulang,” paparnya.

Purnawan pun juga berkisah, mengenai hal-hal unik yang pernah ia alami selama menyambut lebaran hingga lebaran tiba. Mudik salah satunya. Pria asal Banjarnegara, Jawa Tengah ini rutin mudik ke kampung halaman tiap tahun. Meski sibuk dengan berbagai urusan, mudik baginya merupakan suatu hal wajib yang harus dilakukan untuk menyambut lebaran.

“Biasanya saya mudik juga sudah mepet hari raya. Jadi semua pekerjaan sudah selesai dan memasuki hari libur malamnya saya pulang. Berangkat tengah malam, jam satu dini hari biasanya, bawa bekal untuk sahur sekalian. Itu tradisi kami,” paparnya.

Mengenai kenangan lebaran sewaktu kecil, Purnawan menceritakan hal yang tidak bisa dilupakan saat masih hidup di kampung halaman. Satu hal yang selalu ia ingat adalah petasan bambu. Baginya, tradisi membunyikan petasan bambu yang populer di kampungnya saat ia kecil, kini semua telah berubah.

“Tradisi membunyikan petasan bambu saat akhir puasa itu yang sekarang tidak ada lagi, sejak ada larangan petasan-petasan mungkin ya,” kata Purnawan.

Prepegan

Selanjutnya, Purnawan berkisah, ada satu tradisi yang hingga kini masih terpelihara. Ialah prepegan, tradisi belanja ke pasar tradisional secara beramai-ramai di akhir puasa. Mengenai prepegan, Purnawan punya kisah unik. Sewaktu kecil, ia bersama teman-temannya selalu ikut tradisi tersebut, meski tidak banyak membeli keperluan, baginya melihat barang-barang unik yang hanya dijajakan saat prepegan merupakan kesenangan tersendiri.

“Waktu saya kecil, banyak dagangan yang muncul tiba-tiba. Yang saya ingat saya membeli minyak rambut, dan itu dijual dengan murah. Dagangan unik mereka yang datang dari luar kota itu menarik bagi kami untuk sekedar melihat,” terangnya.

Selain itu, satu hal unik dari tradisi prepegan adalah ulah anak-anak yang sering nongkrong di pinggir jalan dan melihat orang yang beli barang aneh-aneh untuk kemudian dikata-katai.

“Jadi orang-orang yang lewat itu kami kata-katain. Nah yang satu ini yang sudah mulai hilang, anak-anak kecil tidak begitu tertarik. Kalau dulu ini tradisi yang selalu kami tunggu,” kenangnya. (*)

Penulis : Nuri Hermawan

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu