lebaran
Ilustrasi lebaran. (Sumber: English Cafe)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Usai menjalankan ibadah puasa Ramadan selama satu bulan penuh, umat Islam merayakan kemenangan dalam momen Idul Fitri yang jatuh tanggal 25–26 Juni. Pengajar mata kuliah Filsafat Ilmu, Listiyono Santoso, M.Hum., mengungkapkan makna di balik nama Idul Fitri yang disebut Lebaran oleh masyarakat Jawa.

Menurut Listiyono, lebaran bukanlah sekadar penanda akhirnya kewajiban berpuasa di Bulan Ramadan melainkan suatu kondisi pintu ampunan yang terbuka lebar dari Allah setelah umat Islam menuntaskan kewajiban puasa.

Makna Lebaran tak dapat dipisahkan dengan bakdo kupat atau ngaku lepat (mengakui kesalahan). Tidak hanya pada Allah melainkan juga sesama umat manusia. Selain itu, Lebaran juga bermakna laku papat (empat tindakan) yang dilakukan masyarakat usai Ramadan.

“Pertama, lebaran bermakna selesai atau terbukanya ampunan. Kedua, luberan yang bermakna meluber atau melimpah. Luberan ini merupakan simbol ajaran bersedekah untuk kaum papa. Pengeluaran zakat fitrah menjelang Lebaran juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia,” tutur Listiyono.

Makna lainnya adalah leburan yakni melebur kesalahan dengan saling memaafkan atas segala kesalahan. Terakhir, laburan sebagai simbol manusia untuk selalu menjaga kesucian dan kebersihan.

Selain itu, masyarakat Jawa juga sering menyebut Lebaran dengan istilah riyaya (hari raya) yang dimaknai sebagai hari kemenangan. Kata “raya” dalam perayaan merujuk istilah peristiwa kemenangan umat Islam selama satu bulan penuh mengalahkan berbagai hawa nafsu dan menahan diri.

Riyaya itu bermakna hari kemenangan bagi umat Islam, bukan mengalahkan musuh di luar dirinya, melainkan musuh di dalam dirinya sendiri, yakni hawa nafsu. Selain itu, orang Jawa juga sering menggunakan istilah ba’da untuk menyebut hari raya. Ba’da bermakna sesudah atau fase setelah menjalankan ibadah puasa yang membuat manusia mendapatkan rahmat-Nya, ampunan-Nya sehingga terbebaskan dari siksa api neraka,” tutur Listiyono saat diwawancarai.

Secara substantif, hari kemenangan hanyalah dimiliki oleh umat Islam yang menjalankan ibadah puasa dengan menahan makan dan minum, menahan keinginan-keinginan yang bisa membatalkan puasa serta mengurangi pahala puasa.

“Idul fitri kan bermakna kembali kepada kesucian, sebagaimana bayi yang baru lahir dalam keadaan suci tanpa kesalahan. Kembali fitri karena segenap dosa-dosanya yang telah lalu diampuni Allah SWT. Indikator diampuni dosanya adalah perilaku kesehariannya justru menunjukkan peningkatan kualitas iman dan takwa kepada Allah. Disebut meningkat, karena kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah lebih baik dari sebelumnya,” terang penulis buku Epistemologi Kiri.

Penulis: Ainul Fitriyah

Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone