Wakil Rektor Empat Cerita Pengalaman Menarik Saat Mudik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
mudik
Wakil Rektor IV Junaidi Khotib, Ph.D. (Foto: Alifian Sukma)

UNAIR NEWS – Hari Raya Idul Fitri merupakan momen untuk bersilaturahmi bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Tak terkecuali bagi Wakil Rektor IV bidang kerjasama bisnis dan alumni, Junaidi Khotib, Ph.D.

Bagi pengajar Fakultas Farmasi yang akrab disapa Junaidi, momen lebaran selalu ia manfaatkan untuk pulang ke kampung halamannya di Jombang. Dari sederet pengalaman mudiknya, Junaidi pernah memiliki cerita menarik saat ia mudik ke kampung halaman ketika masa kuliah.

Junaidi bercerita, dirinya baru bisa pulang ke kampung halaman untuk merayakan lebaran pada saat malam takbiran. Pasalnya, ia harus mengikuti kegiatan kuliahnya yang padat dengan praktikum. Maklum, Junaidi adalah alumnus tempatnya ia mengajar sekarang.

Setelah kegiatan praktikumnya selesai pada malam hari, ia langsung mencari bis antarkota untuk mengantarkan dirinya pulang ke kampung asal.

Namun, ia terkadang harus bersikap ‘nakal’ kepada kenek bis. Pasalnya, meski bis antarkota yang ia tumpangi searah menuju Jombang, Junaidi kerapkali ditolak oleh kenek bis karena jarak tempuhnya yang terlampau dekat dari Surabaya.

“Waktu itu, saat bisnya ramai, mereka malah nggak mau dengan yang jarak dekat. Ketika mau naik bis, saya bilang kalau tujuan mudik saya ke tempat yang lebih jauh, tapi ketika mau membayar, saya bilang turun di Jombang,” kenangnya sambil tertawa.

Menurut Junaidi, mudik adalah sebuah aktivitas budaya yang biasa dilakukan sebagian besar masyarakat untuk berkumpul bersama keluarga. Oleh sebab itu, tak jarang sebagian kalangan rela menghabiskan waktunya di jalan sekaligus merogoh kantong yang dalam untuk bersilaturahmi bersama keluarga.

Demi alasan yang sama, Junaidi tetap melakoni kebiasaan mudik itu hingga sekarang. Bedanya dengan masa kuliah, Junaidi mudik ke Jombang bersama keluarga kecilnya setelah bersilaturahmi dengan pihak keluarga istri di Surabaya.

Saat berkumpul bersama keluarga, ia melepaskan diri sejenak dari rutinitas sehari-harinya di kampus. Bersama keluarga besar, lelaki berusia 47 tahun itu saling berbagi cerita hingga menyantap makanan favoritnya, opor ayam.

“Kita bertemu dengan famili yang selama ini sama-sama sibuk di waktu yang berbahagia. Pekerjaan tentu kita lepaskan semua. Kita bisa merasakan bahwa keluarga itu begitu damai dan bersama. Kita menjadi pribadi yang apa adanya. Kita saling bercerita, menasehati, dan berbagi pengalaman,” kisah anak ketiga dari lima bersaudara.

Bagi pakar Farmasi Klinis, momen Idul Fitri dan Ramadan merupakan sebuah ruang dan waktu bagi manusia untuk berintrospeksi diri. Lelaki kelahiran 22 Oktober 1970 itu menambahkan, kualitas diri usai beribadah selama bulan Ramadan haruslah meningkat dari aspek hubungan manusia dengan Tuhan, serta hubungan antara manusia dengan manusia.

“Termasuk hubungan dengan saudara dan rekan kerja. Kita harus menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadan dan Idul Fitri,” pungkasnya.

Penulis: Defrina Sukma S

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu