Direktur RSUA: Idulfitri Kembali pada Fitrahnya Manusia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
idulfitri
Direktur RSUA Prof Nasronudin. (Foto: Istimewa)

“Manusia itu kembali pada fitranya, yaitu bersih dan suci yang ditugaskan untuk beribadah. Salah satu ibadah yang wajib adalah puasa ramadan. Bulan ramadan dibagikan menjadi tiga kelompok. Sepuluh hari pertama adalah hari yang penuh rahmat, sepuluh hari kedua mendapatkan pengampunan, dan sepuluh hari ketiga adalah upaya pembebasan dari api neraka,” papar Prof. Nasron, Direktur Rumah Sakit Universitas Airlangga.

Baginya, Idulfitri dimaknai sebagai kembali ke fitrah. Budaya Idulfitri dijadikan sebagai silaturahmi dengan sanak keluarga. Di Indonesia, budaya lebaran masih konsisten di tengah arus globalisi.

“Fenomena mudik telah menjadi hal yang wajib di Indonesia dengan negara muslim terbesar di dunia. Ini bagus dalam gegap gempita di era keterbukaan untuk terus mempertahankan identitas bangsa,” ucap Nasron.

Sebagai manusia yang kembali fitrah, Nasron mengatakan bahwa telah menjadi hakikat bahwa manusia diciptakan sebagai mahluk yang unggul dibandingkan mahluk lain. Manusia yang dibekali dengan hati, jiwa, pemikiran, dan otak harusnya bisa mengingat akan hidup sesuai fitrahnya. Dikaruniahi hati dan jiwa harus bisa membawa pada positive feeling, sedangkan pemikiran dan otak akan membawa pada positive thinking.

Nasron menambahkan, hal inilah yang bisa dijadikan manusia untuk dikombinasi menjadi positive action. Maksudnya, agar manusia bisa membangun serta mengkondisikan kebaikan antar sesama dengan tujuan untuk kemaslahatan umat.

Bisa menjalankan ibadah puasa menjadikan Nasron manusia yang penuh rasa syukur. “Bahaginya bisa mencicipi makanan-makanan yang khas unutk lebaran, seperti opor yang jarang ditemukan di hari biasa. Ini memberi kebahagian tersendiri, yang walaupun seusia saya sudah harus membatasi,” lanjutnya.

Diamanahi sebagai Direktur RSUA, tentu Nasron memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kebutuhan masyarakat akan sarana kesehatan. Hal ini menjadikannya pribadi yang menomorsatukan kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan masyarakat, dibanding dengan kepentingannya pribadi.

“Masyarakat sakit jauh lebih penting tanpa mengurangi makna dari keluarga. Mengemban amanah Direktur Rumah Sakit, juga untuk karyawan yang dibiarkan lembur tanpa kehadiran saya, ini masih dalam ranah tanggungjawab saya sebagai Direktur RSUA. Sebagai konsekuensi logis harus ada skala prioritas,” ungkapnya. (*)

Penulis : Helmy Rafsanjani

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu