Ahmad Khalid, Sempat Merasa Kesepian Ketika Hari Raya Tiba

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ahmad khalid
Ahmad Khalid, mahasiswa Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis FKG UNAIR. (Foto: Dokumentasi pribadi)

UNAIR NEWS – Hari Raya Idul Fitri merupakan hari besar bagi umat Islam khususnya di Indonesia yang merupakan negara berpopulasi muslim terbesar di dunia. Momen Idul Fitri biasanya digunakan sebagai ajang silaturahmi keluarga besar dan makan bersama. Namun keadaan ini berbeda dengan Ahmad Khalid.

Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga ini sudah lima tahun merayakan Idul Fitri di Surabaya seorang diri. Khalid bercerita, dirinya selalu merasa kesusahan jika hari raya tiba. Pasalnya, ia kesusahan untuk mencari makan.

“Sangat sepi sekali. Semua orang mudik, saya bingung cari makan, semuanya tutup. Saya cuma ditemani suara tikus-tikus di depan rumah kos saya,” cerita Khalid sambil tertawa.

Selama ia terpisah jarak dengan keluarga, Khalid menghubungi keluarganya di Palestina melalui sambungan telepon. Melalui panggilan suara itulah, penerima Beasiswa Unggulan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi bertukar cerita dan salam dengan sanak keluarganya.

Tak berbeda

Khalid mengatakan, perayaan Idul Fitri di negaranya dan Indonesia tak berbeda. Warga kota Bani Na’im, Palestina, tersebut bercerita, bahwa Idul Fitri dimanfaatkan sebagai momen silaturahmi bersama keluarga besar. Saat Idul Fitri, semua keluarga besar saling menyapa dan bercerita satu sama lain.

“Saat berkumpul, biasanya kita makan kue dan minum kopi. Makanan tradisional yang disajikan di sana sewaktu Idul Fitri yakni Mamool (sejenis kukis) dan juga ada kopi Arabica untuk keluarga. Saya sangat rindu suasana itu, nikmat bersama keluargaku memang terpenting,” kisah mahasiswa FKG UNAIR.

Ditanya mengenai makanan Indonesia, Khalid mengaku meskipun sudah hampir lima tahun berada di Indonesia ia belum sepenuhnya menikmati makanan Indonesia.

“Orang-orang di sini biasanya kalau sahur atau buka kalau tanpa nasi biasanya kurang puas, tapi disana sebenarnya dengan kurma dan air putih saja cukup,” jelasnya.

Ia lantas berharap, dirinya segera menyelesaikan studi dan kembali ke tanah airnya untuk berkumpul dengan keluarga yang ia rindukan.

Penulis: Faridah Hari

Editor: Defrina Sukma S

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu