Ilustrasi caseygriffin.com
Ilustrasi caseygriffin.com
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Ia mengundangku ke rumahnya. Laki-laki itu memang gemar sekali berpesta, bahkan ia tak pernah melihat situasi saat berpesta. Baru saja seminggu yang lalu ia mengundangku untuk berpesta, atas kenaikan gajinya di sebuah perusahaan, tempat ia bekerja selama tiga tahun belakangan. Pesta itu dilangsungkan di sebuah cafe, yang sepertinya sudah ia kosongkan khusus untuk tamu-tamu pestanya. Istrinya tak turut hadir di sana, katanya ini khusus.

Satu bulan yang lalu kami juga berpesta, saat itu ia baru saja pindah rumah. Ke tempat ia mengundangku sekarang. Masih sama, tak ada yang berubah dari rumah ini. Hanya kuingat saat pertama kali menginjakkan kaki ke rumah barunya, aku melihat sebuah pigora foto. Di dalamnya terbingkai dua orang suami istri berbalut baju pernikahan adat Jawa.Pigora itu tak terpasang lagi ketika tadi aku masuk. Dindingnya lebih lengang dari sebelumnya, tapi masih ada satu lukisan yang di dalamnya ada kuda-kuda yang berlari di pantai, dengan warna cat agak muram, pasir hitam, dan langit mendung.

Hari ini pestanya lebih ramai dari dua pesta yang kuhadiri sebelumnya.Mau pesta apa lagi dia, pikirku.

Seperti biasa saat aku datang di sana sudah banyak tamu lainnya. Ada yang asyik berbincang dengan lawan jenisnya, ada yang bergerombol membincangkan politik dan tetek bengek, ada yang memilih menyendiri di pojok dan menikmati minumannya di samping jendela, ada juga yang berdiri di sebelah meja makanan, sibuk memperhatikan makanan apa yang akan dicomotnya. Usia mereka rupa-rupa. Jadi pesta ini tak sama sekali identik dengan reuni SMA satu angkatan. Mirip reuni akbar, tempat para orang tua berusaha menjodohkan anak-anak mereka.

Tak semua tamu aku kenal. Aku kenal Durja, pria bertubuh besar, tinggi, dan tegap, kulitnya coklat terbakar. Ia memakai kemeja denim dan melambaikan tangannya ke arahku ketika aku datang. Aku kenal Lukas, yang sedang berbincang dengan Durja. Lukas bertubuh lebih pendek dari Durja, tapi perutnya sedikit membumbung ke depan dari pada perut Durja yang rata. Rambutnya botak. Kutahu dari pemilik rumah bahwa ia orang yang tak pernah absen dari pesta. Aku bergabung bersama mereka. Mereka sedang membicarakan pesta ini saat aku tiba.

“aku nggak ngerti apa sih maksud dia, masak suasana hati kayak gimana pun dipestain sama dia?”

“Durja..durja..dia memang suka pesta. Mau tidak mau kita juga harus datang sebagai teman. Hitung-hitung makan gratis.”

“Soal makanan bukan perkara, tiap hari aku masih bisa beli makanan pakai hasil kerjaku.”

“ya mau gimana lagi, dia itu kan nggak suka sepi. Hura-hura terus memang. Apa kau lupa sewaktu kita kuliah, dia yang paling banter ngajak kita ke klub.”

“tentu nggak, Kas. Aku bertemu istriku di sana. Meskipun harus mabuk dulu.”

Kubiarkan mereka berbicara dulu, sebelum aku masuk dan ikut pembicaraan mereka. Sambil kuperhatikan sekelilingku, barang kali istri pemilik rumah muncul tiba-tiba di tengah pesta. Di pesta ini jumlah perempuan tak sebanyak tamu laki-laki. Beberapa dari mereka merokok. Maria, mengenakan gaun hitam selutut, rambutnya hitam berkilau, kukunya dikutek hitam, jari-jarinya yang lentik menggenggam sebatang rokok yang baru saja dinyalakannya. Aku mengenal Maria di pesta rumah baru satu bulan yang lalu. Baru hari ini aku melihatnya kembali. Badannya semakin berisi, dadanya menyembul keluar seperti ingin tumpah, rambutnya dipotong menyerupai laki-laki, bibirnya bergincu merah, semakin cantik saja ia.

“Kalian sudah lama datang?”

“Setengah jam yang lalu. Durja lebih dulu, aku menyusul.”

Laki-laki pemiliki rumah menghampiri gerombolan kami. Ia menyapa dan basa-basi seperlunya. Setelah berbincang dengan Durja tentang pekerjaan, suasana hening.Aku pun mencoba bertanya.

“kemana istrimu?”

“tidak ada.”

“apa dia sedang keluar rumah?”

“Tidak.”

“lantas, kemana? Kok dari tadi aku tak melihatnya.”

“Tidak ada.”

Kemudian, ia mengirimkan gestur kepada kami dengan menepuk lengan atas kiriku, dengan kalimat “aku tinggal dulu ya, nikmati pestanya kawan-kawan!” yang tak terucap. Ia melangkah pergi meninggalkan gerombolan kami menuju dua orang yang nampaknya baru saja memasuki pesta.

Penulis: Zumrotul Fatma Rahmayanti (Mahasiswi S1 Sastra Indonesia Universitas Airlangga)

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone