Agamaku, Surga-Neraka dan Puasaku I

UNAIR NEWS – Nyaris aku tersinggung karena orang-orang bisa hidup lebih religius. Sangat Islam dan punya Islam sebagai penolong mereka dalam agenda menuju surga.

Aku sama sekali merasa lepas dari upaya untuk baik seperti mereka. Diriku tak punya apa-apa. Tak punya ulama untuk ku bela, dan tak punya hafalan Al-Qur’an yang bisa kubanggakan. Hingga aku tak berkesempatan untuk membela ulama’ maupun merasa ternistakan oleh orang yang memelintir kitab suci itu.

Aku sendari awal dilahirkan di Indonesia dalam lembaran takdir. Orang tuaku suku Jawa, kakek nenekku lahir dan beragama Islam. Tak pernah ku dengar dari Mbah Modin tentang khilafah. Kami hidup mengagumi Sukarno dan bersholawat kepada Kanjeng Nabi. Menurutku, kekhalifahan sudah tergelar di tanah air kami, baik dari titik start Indonesia dengan Bung Karno dan Bung Hatta. Maupun kekhilafahan versi Kasultanan Demak era Sultan Patah dan wali songo penasehatnya.

Harus diakui, Islam adalah agama yang kuterima dari didikan Ibu Bapak dan dari pengaruh lingkungan yang diturunkan dalam tradisi bergilir turun temurun. Ku terima itu tanpa aku punya kesempatan lain membantahnya. Tapi aku tetap saja tidak punya perangkat kompetensi agama apa-apa, sehingga diriku aman untuk tidak dicap sebagai santri, orang alim, nahdiyin, muhammadiyin, aktivis HTI atau lain sebagainya.

Meski begitu, dalam hati kecilku berat bagiku untuk makar keluar dari agama ini. Aku mungkin menjadi orang-orang buta yang sekadar menjalankan syariat sebagai penggugur kewajiban. Katakanlah itu munafik, dan memang aku merasa takut juga jika tidak diakui dalam rumpun keluarga Islam itu sendiri. Entah kenapa nuraniku cukup ciut untuk dituduh neko-neko, semisal kafir, liberal atau setingkat atheis. Jikapun ada yang terlanjur menuduhku atau menuduh orang lain dengan istilah itu. Kuharap meraka yang menuduh itu adalah yang tidak kafir, yang tidak liberal dan yang tidak punya sesembahan lain kecuali Allah dimanapun juga, baik di daging maupun dihatinya. Karena aku takut otoritas mereka itu menjadi patah gara-gara harus meladeni orang-orang remeh seperti aku. Meski aku yakin mereka tak mungkin kurang bukti, tak mungkin kurang rasa istiqomah. Bahkan kedekatan dan kedalaman meraka dalam menelaah kontekstualisasi Islam pastilah tepat. Mereka amat dekat dengan Allah.

Tetapi sebagai pembelaan, aku akan kekehtetap mengklaim bahwa diriku berlindung dalam kuasaan ke-Esaan-Nya, meski rumpunku itu dicela oleh otoritasapapun juga. Tak jua masalah, meski rumpunku dikonotasikan dengan istilah Islam Kejawen, Islam Tradisi, Islam Abangan, Islam Nusantara atau Islam Warisan. Memang harus diakui bahwa the truth of Islam, bukanlah kelas kami-kami ini.

bersambung…

 

Penulis: Sukartono (Alumni Matematika UNAIR)