Dari kiri: Dimas Rangga Yudyanda dan Ahmad Lukman Hakim di kampus Fakultas Kedokteran UNAIR. (Foto: Sefya Hayu)
ShareShare on Facebook282Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Beberapa waktu lalu, Ahmad Lukman Hakim berkesempatan tampil mempresentasikan penelitian kolaborasinya bersama Dimas Rangga Yudyanda, dr di sebuah acara kongres internasional bertajuk 13th  Warsawa International Medical Congress (13th WIMC) di Medical University of Warsawa, Polandia.

Lukman seharusnya berangkat bersama Dimas, sebagai peneliti utama untuk menghadiri acara tersebut. Namun Dimas berhalangan hadir karena bersamaan dengan Ujian Mahasiswa Program Profesi Dokter  (UKMPPD), sehingga  Lukman sendiri yang kemudian  berangkat ke Polandia.

Bagi Lukman ini kesempatan langka, mengingat baru pertama kalinya mahasiswa Fakultas Kedoktaran UNAIR ini berhasil mewakili institusi kebanggaannya di ajang internasional tersebut.

Kongres ini mempertemukan ratusan peserta dari kalangan mahasiswa S1, S2 hingga Ph.D program pendidikan dokter dari berbagai negara, seperti Asia, Malaysia, Jepang, Arab Saudi, Eropa, Jerman, hingga Prancis. Di forum ini, setiap perwakilan institusi saling menampilkan gagasan ilmiahnya, termasuk diskusi. Lukman sebagai salah satu perwakilan dari Indonesia merasakan pengalaman yang begitu berkesan, setelah sepekan lamanya mengikuti kegiatan ini.

Perjalanannya ke Polandia kali ini menjadi pengalaman keduanya ke luar negeri, setelah sebelumnya pria kelahiran Sidoarjo, 27 April 1993 ini juga pernah mengikuti program medical exchange di University of Groningan pada tahun 2016 lalu.

Lukman merupakan satu dari sekian banyak mahasiswa FK UNAIR yang memiliki minat yang cukup besar di bidang karya tulis ilmiah. Selama menempuh pendidikan dokter, ia bahkan sering mengikuti berbagai ajang perlombaan karya ilmiah yang diselenggarakan oleh berbagai perguruan tinggi di tingkat nasional maupun internasional.

Puluhan prestasi pun pernah diraih. Yang terbanyak adalah keberhasilannya memenangkan kejuaraan poster ilmiah dan lomba karya tulis ilmiah. Serta menjuarai lomba essai Ilmiah Al-Qur’an, hingga Lomba Musabaqah Karya Tulis Al-Qur’an.

Dari sekian banyak prestasi, menurutnya yang paling berkesan adalah momen ketika dalam satu minggu, Lukman berhasil memenangkan empat kejuaraan untuk perlombaan karya tulis ilmiah dan poster ilmiah dari tiga ajang perlombaan yang berbeda.

“Rasa percaya diri saya semakin tumbuh setiap kali memenangkan perlombaan. Rasa kepercayaan diri ini  yang tidak saya dapatkan ketika awal masuk menjadi mahasiswa kedokteran,” ungkapnya.

Menjadi dokter adalah cita-citanya sejak kecil, meski awalnya ia sempat  memendam impiannya tersebut, lantaran kondisi perekonomian keluarganya yang pas-pasan.

“Bapak saya petani, sedangkan ibu saya guru SD. Rasanya ndak mungkin kalau saya bisa kuliah kedokteran, karena biayanya mahal. Ya sudahlah, saya pendam keinginan saya menjadi dokter,” kenangnya.

Ketika masih SMA, anak kedua dari tiga bersaudara ini bahkan sempat menjatuhkan pilihannya menjadi seorang guru. Namun, ketika mendekati ujian akhir, nuraninya justru lebih terpanggil untuk menjadi dokter.

“Guru saya yang memotivasi agar saya sebaiknya mendaftar di FK UNAIR dan berusaha mendapatkan beasiswa,” ungkapnya. Ia pun akhirnya lolos masuk menjadi mahasiswa FK UNAIR angkatan tahun 2011 melalui jalur bebas biaya masuk.

Awal masuk menjadi mahasiswa kedokteran, peraih juara I Mahasiswa Berprestasi (MAWAPRES) Universitas Airlangga tahun 2013 ini sebelumnya sempat dilanda keraguan.

“Awalnya sempat minder dengan teman-teman seangkatan yang lebih ‘mampu’ secara ekonomi. Namun karena sudah kadung kecemplung, ya sudah saya berfikir untuk tidak berani macam-macam. Pokoknya bisa lulus jadi dokter dengan selamat itu saja sudah alhamdhulillah,” ungkapnya.

Mulanya, keinginan untuk menekuni dunia penulisan karya ilmiah juga karena coba-coba. Terlebih lagi dengan aktifitas perkuliahan yang begitu padat, rasanya mustahil baginya untuk keluar dari ‘zona aman’ sebagai mahasiswa.

“Nggak menduga sebelumnya. Setelah ikut lomba kesana-kemari, dan akhirnya menang berkali-kali. Sejak saat itu saya semakin percaya diri, dan berfikir kenapa tidak saya tekuni saja bidang tulis menulis karya ilmiah ini,” ungkapnya.

Selain hobi dengan tulis-menulis karya ilmiah, Lukman bahkan pernah menerbitkan sebuah buku berjudul “Dari Mahasiswa untuk Indonesia Berprestasi”. Buku ini berisikan 31 kisah sukses mahasiswa berprestasi di Indonesia yang menginspirasi.

“Buku ini adalah inisiatif dari saya dan  teman-teman MAWAPRES lainnya di Indonesia. Buku ini hadir dengan harapan dapat menginspirasi halayak, bahwa tidak ada alasan untuk tidak berprestasi. Apapun kendalanya, sekalipun kita dari keluarga kurang mampu, selagi mau berusaha pasti akan ada jalan,” ungkapnya.

Setelah lulus dokter,  Lukman berencana ingin bekerja sambil berusaha mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan dokter spesialis.

“Sebetulnya saya ingin nantinya mengabdi jadi dokter di wilayah perifer. Namun karena saat ini ibu saya sedang sakit, dan bapak juga sudah sepuh, maka saya pilih ibadah terdekat dulu jaga orang tua. Kalau bapak-ibu sudah mengijinkan. Maka saya ingin cari pengalaman mengabdi jadi dokter di pedalaman,” ungkapnya. (*)

Penulis : Sefya Hayu

Editor    : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook282Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).