ahmad lukman
Ahmad Lukman Hakim, mahasiswa S-2 Fakultas Kedoktaran UNAIR. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Beberapa waktu lalu, Ahmad Lukman Hakim berkesempatan tampil mempresentasikan penelitiannya di sebuah acara kongres internasional bertajuk 13th Warsawa International Medical Congress (13th WIMC) di Medical University of Warsawa, Polandia. Ini kesempatan langka, mengingat, baru pertama kalinya mahasiswa Fakultas Kedoktaran UNAIR berhasil mewakili institusi kebanggaannya di ajang internasional tersebut.

Kongres ini mempertemukan ratusan peserta dari kalangan mahasiswa S-2 maupun program Ph.D pendidikan dokter dari berbagai negara. Seperti Asia, Malaysia, Jepang, Arab Saudi, Eropa, Jerman, hingga Prancis. Di forum ini, setiap perwakilan institusi saling menampilkan gagasan ilmiahnya, termasuk diskusi. Lukman sebagai salah satu perwakilan Indonesia merasakan pengalaman yang begitu berkesan, setelah sepekan lamanya mengikuti kegiatan ini.

Perjalanan Lukman ke Polandia kali ini menjadi pengalaman keduanya ke luar negeri. Sebelumnya, pria kelahiran Sidoarjo, 27 April 1993 ini juga pernah mengikuti program medical exchange di University of Groningan tahun 2016 lalu.

Lukman merupakan satu dari sekian banyak mahasiswa FK UNAIR yang memiliki minat besar di bidang karya tulis ilmiah. Selama menempuh pendidikan dokter, ia bahkan sering mengikuti berbagai ajang perlombaan karya ilmiah yang diselenggarakan oleh berbagai perguruan tinggi di tingkat nasional maupun internasional.

Puluhan prestasi pernah diraih Lukman. Yang terbanyak adalah keberhasilannya memenangkan kejuaraan poster ilmiah dan lomba karya tulis ilmiah. Ia juga tercatat pernah menjuarai lomba essai ilmiah Al-Qur’an hingga Lomba Musabaqah Karya Tulis Al-Qur’an.

Dari sekian banyak prestasi, menurutnya yang paling berkesan adalah momen ketika dalam satu minggu Lukman berhasil memenangkan empat kejuaraan untuk perlombaan karya tulis ilmiah dan poster ilmiah dari tiga ajang perlombaan yang berbeda.

“Rasa percaya diri saya semakin tumbuh setiap kali memenangkan perlombaan. Rasa kepercayaan diri ini yang tidak saya dapatkan ketika awal masuk menjadi mahasiswa kedokteran,” ungkapnya.

Menjadi dokter adalah cita-citanya sejak kecil. Meski awalnya, Lukman sempat  memendam impiannya lantaran kondisi perekonomian keluarga yang pas-pasan.

“Bapak saya petani, sedangkan ibu saya guru SD. Rasanya ndak mungkin kalau saya bisa kuliah kedokteran, karena biayanya mahal. Ya sudahlah, saya pendam keinginan saya menjadi dokter,” kenangnya.

Ketika masih SMA, anak kedua dari tiga bersaudara ini bahkan sempat menjatuhkan pilihannya menjadi seorang guru. Namun, ketika mendekati ujian akhir, nuraninya justru lebih terpanggil untuk menjadi dokter.

“Guru saya yang memotivasi agar mendaftar di FK UNAIR dan berusaha mendapatkan beasiswa,” ungkapnya. Ia pun akhirnya lolos masuk menjadi mahasiswa FK UNAIR angkatan tahun 2011 melalui jalur bebas biaya masuk.

Awal masuk menjadi mahasiswa kedokteran, peraih juara I Mahasiswa Berprestasi (MAWAPRES) UNAIR tahun 2013 ini sempat dilanda keraguan.

“Awalnya sempat minder dengan teman-teman seangkatan yang lebih ‘mampu’ secara ekonomi. Namun karena sudah kadung kecemplung, ya sudah saya berfikir untuk tidak berani macam-macam. Pokoknya bisa lulus jadi dokter dengan selamat itu saja sudah alhamdhulillah,” ungkapnya.

Mulanya, keinginan untuk menekuni dunia penulisan karya ilmiah juga karena coba-coba. Terlebih, dengan aktivitas perkuliahan yang begitu padat, rasanya mustahil baginya untuk keluar dari ‘zona aman’ sebagai mahasiswa.

“Nggak menduga sebelumnya. Setelah ikut lomba kesana-kemari, akhirnya menang berkali-kali. Sejak saat itu saya semakin percaya diri, dan berfikir kenapa tidak saya tekuni saja bidang tulis menulis karya ilmiah ini,” ungkapnya.

Selain hobi menulis karya ilmiah, Lukman bahkan pernah menerbitkan sebuah buku berjudul Dari Mahasiswa untuk Indonesia Berprestasi. Buku ini berisi 31 kisah sukses mahasiswa berprestasi di Indonesia yang menginspirasi.

“Buku ini adalah inisiatif dari saya dan teman-teman MAWAPRES lainnya di Indonesia. Buku ini hadir dengan harapan dapat menginspirasi khalayak, bahwa tidak ada alasan untuk tidak berprestasi. Apapun kendalanya, sekalipun kita dari keluarga kurang mampu, selagi mau berusaha, pasti akan ada jalan,” ungkapnya.

Setelah lulus dokter, Lukman berencana ingin bekerja sambil berusaha mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan dokter spesialis.

“Sebetulnya saya ingin nantinya mengabdi jadi dokter di wilayah perifer. Namun karena saat ini ibu saya sedang sakit, dan bapak juga sudah sepuh, maka saya pilih ibadah terdekat dulu menjaga orang tua. Kalau bapak ibu sudah mengizinkan, maka saya ingin cari pengalaman mengabdi jadi dokter di pedalaman,” ungkapnya. (*)

Penulis : Sefya Hayu

Editor    : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm
Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).