nganjuk
DALANG Wayang Timplong, Pak Suyadi, di Desa Kepanjen, Kec. Pace, Kab. Nganjuk bersama mahasiswa UNAIR. (Foto: Dok PKMSH FISIP)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS - Wayang Timplong merupakan salah satu dari puluhan jenis wayang yang “hidup” dalam khasanah seni budaya di Nusantara. Wayang khas Nganjuk ini sangatlah unik. Wujud badannya terbuat dari kayu pahatan, sedangkan tangannya terbuat dari kulit. Kisah-kisah cerita yang dimainkan pun berkisar sejarah di Pulau Jawa. Ini berbeda dengan wayang Purwa umumnya yang menceritakan kisah Mahabarata ataupun Ramayana.

Namun sayangnya, sekarang ini pertunjukan wayang kayu khas Kabupaten Nganjuk ini sudah tak seramai di era tahun 1990-an. Seakan ikut tergerus oleh gemerlapnya dunia hiburan modern. Fakta inilah yang menggelitik lima mahasiswa FISIP Universitas Airlangga untuk melakukan penelitian dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Sosial Humaniora (PKM-SH).

Lima mahasiswa FISIP itu adalah Julia Permata Maulidhia, Hanavia Ria Pratiwi, Widya Ayu Kartikasari, Rizal Gunawan, dan Nur Alif Nugroho. Mereka kemudian menuangkan idenya dalam proposal PKM-PSH dengan judul “Eksistensi Wayang Timplong Sebagai Upaya Pelestarian Kebudayaan Lokal di Desa Kepanjen, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk.” Proposal ini pada tahap pertama berhasil lolos penilaian Kemenritekdikti 2016 dan meraih pendanaan.

wayang
TIM PKM-SH wawancara dengan Dinas Pariwisata, Kepemudaan, Olahraga, dan Kebudayaan Kab. Nganjuk. (Foto: Dok PKMSH FISIP)

Seperti juga wayang-wayang lazimnya, wayang Timplong juga sebagai alat menyosialisasikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Tentu saja melalui cerita-cerita yang dipertunjukkan. Sayangnya, saat ini sudah jarang terlihat ada pertunjukan wayang tradisional ini, bahkan banyak remaja yang belum pernah mendengar nama wayang timplong.

”Pertunjukan wayang Timplong saat ini hanya sebatas untuk acara bersih desa. Itupun hanya berlangsung pada beberapa dusun dan yang meminati pertunjukan pun hanya kalangan orang-orang tua,” kata Julia Permata Maulidhia, ketua Tim PKM-SH ini.

Tim mahasiswa FISIP itu antara lain juga melakukan wawancara dengan Pak Suyadi, dalang Wayang Timplong di Desa Kepanjen, Kecamatan Pace, Kab. Nganjuk, juga dengan pihak Dinas Pariwisata, Kepemudaan, Olahraga, dan Kebudayaan Kabupaten Nganjuk.

Seiring dengan meredupnya pertunjukan, jumlah dalang pun dapat dihitung dengan jari. Dalang yang tersisa pun usianya sudah dibilang tua. Dari keadaan inilah, simpul sementara, wayang Timplong perlu dukungan generasi penerus untuk melanjutkan dan melestarikan.

wayang
DIANTARA wujud wayang Timplong khas Nganjuk. (Foto: Dok PKMSH FISIP)

Selama ini, tambah Julia, penerus dalang yang terbatas hanya pada lingkup garis keturunan, diperkirakan inilah yang membuat para dalang juga kesulitan dalam mencari penerusnya. Sebab minat masyarakat dan peran serta pemerintah akan turut andil terhadap keberlangsungan wayang kayu khas Nganjuk ini.

”Padahal apabila dikembangkan dengan adanya program pemerintah, misalnya, serta adanya minat masyarakat, maka wayang Timplong ini dapat menjadi media pembelajaran untuk pendidikan formal, sebab dalam cerita-ceritanya dapat memberikan pendidikan berkarakter untuk anak-anak dan remaja,” kata Julia Permata.

Selain itu juga dapat dikembangkan ke dalam bidang industri kreatif, yaitu industri wisata dimana suatu kebudayaan lokal dikembangkan dan dipromosikan sebagai ikon suatu daerah. Jika upaya seperti berhasil, diyakini akan bisa memberikan nilai tambah bagi keberlangsungan kesenian itu sendiri maupun untuk daerah. (*)

Editor: Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone