denali
Para anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Airlangga saat mendaki puncak Semeru. (Foto: Dokumentasi pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Setelah 18 hari pendakian, para atlet Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDeX) Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (Wanala) Universitas Airlangga bersiap menggapai puncak tertinggi Amerika utara, Gunung Denali.

Saat ini, Selasa (13/6) waktu Alaska, ketiga atlet AIDeX yang beranggotakan Muhammad Faishal Tamimi (mahasiswa Fakultas Vokasi/2011), Mochammad Roby Yahya (mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan/2011), dan Yasak (alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) telah berhasil sampai di kamp lima.

Kamp lima yang berada di ketinggian 17.200 kaki merupakan kamp tertinggi sebelum akhirnya para pendaki melakukan pendakian menuju puncak Denali setinggi 20.073 kaki atau 6.118 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Pendakian menuju kamp lima bukan tak menemui aral melintang. Selama tujuh hari, tim atlet AIDeX dan pendaki lainnya terkendala cuaca buruk berupa badai salju, angin kencang, snow showers (anomali cuaca cerah dan hujan salju), dan whiteout (kondisi kabut tebal).

“Pada pukul tiga pagi tanggal 13 Juni, tim melakukan perjalanan dari kamp empat (14.100 kaki) menuju kamp lima (17.200 kaki). Tim sampai di kamp lima pada pukul tiga sore,” terang Roby.

Beberapa faktor menjadi penyebab lamanya perjalanan pendakian. Pertama, kondisi fisik yang sudah lama tak bergerak selama tujuh hari. Kedua, curamnya jalur pendakian yang memiliki sudut antara 50 hingga 60 derajat.

Pengaruh cuaca

Pada tiga jam awal perjalanan, kecepatan tim atlet AIDeX sempat melambat karena stamina. Selain itu, kondisi cuaca turut mempengaruhi perjalanan tim. Menurut perkiraan cuaca, kecepatan angin di Denali mencapai 30 km per jam dengan suhu mencapai minus 39 derajat Celsius dan ketebalan salju mencapai 18 sentimeter.

Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama di kamp lima, ketiga atlet AIDeX harus terbiasa mengkonsumsi makanan kering. Tak hanya itu, tim atlet AIDeX juga membangun tenda selama dua jam.

“Karena kita harus menggali salju dan membuat dinding es yang cukup tebal bahkan lebih tebal dari kamp sebelumnya karena angin kencang dapat mengikis dinding balok es. Ditambah pula dengan badai yang bisa datang kapan saja,” tutur Roby.

Manajer atlet AIDeX Wahyu Nur Wahid mengatakan, bila kondisi cuaca di medan Denali memungkinkan, tanggal 15 Juni waktu Indonesia para atlet akan melakukan perjalanan menuju puncak.

“Kami mohon bantuan doa kepada sivitas akademika dan masyarakat agar cuaca di Denali terus bersahabat agar tim dapat mencapai tujuan dan kembali ke tanah air dengan selamat,” terang Wahyu.

Tim atlet AIDeX telah menghabiskan waktu selama 18 hari di Gunung Denali terhitung sejak tanggal 27 Mei waktu Alaska. Kelancaran tim atlet dalam melalui rintangan di Denali tak lepas dari berbagai persiapan yang telah dilakukan selama berada di Indonesia. Selama 18 bulan, persiapan tim AIDeX banyak dibantu oleh PT. PP Properti (Tbk) dan PT. Pegadaian Persero.

Denali bukanlah puncak pertama yang didaki oleh anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (UKM Wanala). Empat dari tujuh puncak tertinggi yang telah digapai tim adalah Puncak Carztenz Pyramid (Indonesia/1994), Kilimanjaro (Tanzania/2009), Elbrus (Rusia/2011), dan Aconcagua (Argentina/2013).

Selain ke Denali, ekspedisi ke Vinson Massif di Antartika serta Everest di Himalaya akan menggenapi ekspedisi seven summits anggota UKM Wanala.

Penulis: Wahyu Nur Wahid (manajer atlet AIDeX)

Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone