masker terapi
KEMASAN masker terapi “Coco Mask” buatan mahasiswa FST UNAIR, dapat menangkal flu dan batuk. (Foto: dok PKMK FST)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kelompok yang terdiri lima mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga berhasil berinovasi membuat masker terapi yang mengandung aroma ekstrak herbal yang bisa membantu mengatasi flu dan batuk.

Masker yang dinamai “COCO-MASK (Common Cold Mask) ini merupakan masker yang memang diproduksi sebagai terapi dan upaya mengatasi flu dan batuk. Keunggulan masker ini dibandingkan masker biasa di pasaran, COCO MASK mengandung the best FST (Flexible design, Sambiloto herbal extract dan Top Grade) Masks. Sambiloto memiliki kandungan Andrographolide yang bisa meningkatkan imunitas (kekebalan) pada saluran pernafasan hidung sehingga efektif untuk mengatasi common cold (flu dan batuk).

“Masker ini efektif digunakan selama 3-5 hari setelah gejala muncul,” kata Ayu Ummi Maufiroh (Biologi 2015), ketua kelompok. Sedang empat anggota kreatif lainnya adalah Lusky Andriana (Biologi 2015), Fitria Mustianingsih (Biologi 2015), Elza Ismaya Dewi (2015), dan Arjun Niam Al (Kimia 2014).

Inovasi tersebut dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) berjudul  “COCO-MASK (Common Cold Mask) Terapi Herbal Ekstrak Daun Andrographis paniculata sebagai Upaya Mengatasi Flu dan Batuk”. Setelah diseleksi oleh Kemenristekdikti, proposal tersebut lolos dan memperoleh dana hibah pengembangan dari Dirjen Dikti tahun 2016.

Latar belakang dibuatnya inovasi ini, kata Ayu, secara umum pengobatan awal flu dan batuk atau common cold lebih sering menggunakan obat-obat simptomatis yang bisa dibeli bebas di pasaran (apotik atau toko obat). Misalnya obat analgesik (anti nyeri), antipiretik (penurun panas), dan antibiotik sederhana. Padahal dari beberapa jurnal Internasional menyebutkan bahwa pengobatan penyakit ini dengan menggunakan obat tersebut memberikan efek samping pada saluran cerna dan resistensi patogen.

Penderita flu batuk akibat Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) non-spesifik merupakan infeksi yang disebabkan virus kategori air borne disease. Infeksi menular ketika tetesan patogen terkontaminasi dengan udara sehingga terhirup oleh manusia. Selain itu didukung pula suhu lingkungan yang cenderung berubah karena Indonesia yang memiiki iklim tropis dengan intensitas curah hujan yang tinggi.

Gejala umumnya terlihat sekitar 1-3 hari setelah penularan dari batuk yang mengandung virus. Tanda dan gejala meliputi hidung berair dan tersumbat, sakit tenggorokan, batuk, sakit kepala ringan, dan mata berair. Dalam meminimalisir penularan efek tersebut,  masyarakat umum cenderung menggunakan masker hidung.

masker terapi
DIANTARA mahasiswa anggota Tim PKMK memasarkan Coco Mask dalam bazar di Mulyorejo Surabaya. (Foto: Dok PKMK).

Produk COCO-MASK ini dijual secara eceran dan dikemas dalam kardus. Satu kardus berisi 6 masker herbal, sedang per lembar masker dijual Rp 5.000,-. Dengan tampilan produk masker yang warna-warni, sehingga menarik minat calon pembeli dari kalangan mahasiswa sampai masyarakat umum.

Ditambahkan oleh Ayu, selama tiga bulan produk ini dibuat, sudah terjual 108 buah masker yang tersebar ke beberapa daerah di Jawa. Kedepan produk ini akan dipasarkan ke luar Jawa, bahkan diproyeksi juga ke luar negeri. Selain itu “COCO-MASK” bisa dipesan melalui instagram dengan akun cocomask_herbal atau line dengan id @syr3010a.

“Dengan harga yang ekonomis dan tidak menguras kantong, tetapi sudah bisa mendapatkan masker yang memiliki manfaat lebih sebagai terapi dibandingkan masker biasa,” kata Ayu Ummi M dengan nada optimis. (*)

Editor: Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone