banyuwangi
USAI pelatihan, ibu-ibu anggota PKK Kel. Boyolangu, Banyuwangi, bersama anggota Tim PKMM UNAIR Banyuwangi. (Foto: Dok PKMM)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Di Kelurahan Boyolangu, salah satu sentra penghasil pisang terbesar di Kabupaten Banyuwangi, kulit pisang menjadi persoalan tersendiri. Dianggap sebagai limbah dan selayaknya harus dibuang. Padahal, ada banyak manfaat gizi yang cukup lengkap terkandung dalam kulit pisang, jika kita dapat mengolahnya.

Karena itulah untk memanfaatkan benda yang seakan sudah tak berguna tadi, tim mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi, melakukan pelatihan bisnis mengolah kulit pisang menjadi produk bernilai ekonomis sebagai upaya meningkatkan pendapatan masyarakat, kepada Ibu-ibu PKK Kelurahan Boyolangu, Kabupaten Banyuwangi.

Mahasiswa yang mengabdikan diri para pemberdayaan masyarakat tersebut adalah Tsania Ysnaini Mawardi (angkatan 2016, ketua tim), Dessy Rizky Putri (2016), Indah Oktavia Utami (2016), Tri Nur Afiyah Wulandari (2015), dan Rosalinda Mattylda (2014).

Menurut Tsania Ysnaini, selaku Ketua tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-M) UNAIR Banyuwangi, hasil pelatihan itu sekarang ibu-ibu rumah tangga anggota PKK di Kel. Boyolangu yang rata-rata tidak bekerja, kini terampil membuat produk minuman segar dari kulit pisang, keripik buah pisang, dan makanan lain yang terbuat dari pisang.

“Kami menginisiasi segera terbentuk UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dan menghasilkan produk untuk menopang penghasilan keluarga. Selain itu jumlah limbah kulit pisang yang cukup banyak akan teratasi menjadi produk yang miliki nilai jual dan menguntungkan karena dimanfaatkan sebagai bahan pangan,” kata Tsania.

banyuwangi
USAI pelatihan Banskin Business di Kel. Boyolangu, Banyuwangi. Mereka dilatih membuat makanan dari kulit pisang. (Foto: Dok PKMM)

Di desa itu diakui banyak pohon pisang yang sengaja ditanam di sepanjang rel di seberang rumah warga. Secara tidak langsung pula menjadikan buah pisang sebagai makanan semi-pokok bagi warga setempat. Bahkan semua warung kopi menyediakan makanan dari pisang, misalnya pisang goreng, sale dan keripik.

Ditambahkan, selama ini masyarakat awam tidak banyak mengetahui bahwa pisang, baik buah, daun, batang, jantung, dan kulitnya sekalipun, dapat dimanfaatkan. Menurut Basse (2000), porsi (volume) kulit pisang itu cukup banyak, mencapai sepertiga dari buah pisang sebelum dikupas. Kandungan gizi kulit pisang juga cukup lengkap, seperti karbohidrat, lemak, protein, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin B, vitamin C dan air. Unsur-unsur gizi inilah yang dapat digunakan sebagai sumber energi dan antibodi bagi tubuh manusia.

PKMM “Banana Skin (Banskin) Business ini hadir untuk memberikan pelatihan bisnis. Tujuannya untuk mengubah mindset para mitra yang sebelumnya menganggap kulit pisang hanyalah limbah, padahal bisa dibuat menjadi suatu produk. Luaran lain yang diharapkan adalah terbentuknya UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) pada kader yang telah dilatih tersebut.

Dari pre-test yang dilakukan pada kelompok ibu-ibu PKK di Kelurahan Boyolangu tersebut hampir semua ibu-ibu anggota PKK yang tidak bekerja, hanya menjadi ibu rumah tangga, bahkan sebagian besar hanya lulusan SD. Meski begitu, 50% dari mereka punya impian bisa buka suatu usaha di masa depan.

Tim PKMM melakukan pelatihan bisnis Banskin Business sebanyak 4 kali. Tim bukan hanya mengajari bagaimana mengolah kulit pisang menjadi produk bernilai ekonomis, namun juga mengajarkan packaging, kandungan gizi, hingga perijinan perihal UMKM di Kabupaten Banyuwangi. Tim juga menghadirkan pemateri dari UMKM dan Dinas Kesehatan Kab. Banyuwangi. (*)

Editor: Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm
Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).