metabolit stem cell
Pengembangan penelitian produk peremajaan kulit berbahan dasar metabolite product stem cell dari amnion. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook27Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Teknologi stemcell terus berkembang di Indonesia. Baru-baru ini tim dokter dari Departemen Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga-RSUD Dr. Soetomo bekerja sama dengan Institute of Tropical Disease (ITD) UNAIR Surabaya sedang berinovasi mengembangkan penelitian produk rejuvenation (peremajaan kulit) berbahan dasar metabolite product stem cell dari amnion.

Beberapa bulan terakhir, tim peneliti dari Departemen Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RSUD Dr. Soetomo, Surabaya sedang melakukan serangkaian tahap uji coba atas produk topikal yang mereka teliti.

Tim pengembang penelitian tersebut yaitu DR. Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa. Sp.KK(K), FINS-DV, FAA-DV, dr. Dwi Murtiastutik, Sp.KK(K), FINS-DV, dr. Evy Ervianti, Sp.KK(K), FAA-DV, dr. Diah Mira, Sp.KK, dr. Irmadita Citrashanty, Sp.KK, dr. Febrina Dewi Pratiwi, dr. Zada Febrial, dan dr. Dewi Nurasrifah. Penelitian ini juga bekerjasama dengan Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam, drh. dari ITD UNAIR serta didukung dana riset FK UNAIR.

Ditemui UNAIR NEWS, Cita mengungkapkan saat ini sedang dikembangkan metabolite product stem cell dalam bentuk topikal untuk peremajaan kulit yang berasal dari amnion. Serum ini dikembangkan untuk mengatasi dua kasus. Pertama, untuk meremajakan kulit yang mengalami penuaan dini (premature skin aging). Kedua, untuk mengobati luka kronis pada penderita kusta.

“Kemiripan kondisi luka kronis dan penuaan dini. Keduanya sama-sama terjadi disregulasi pada growth hormone, atau kekurangan beberapa unsur growth factor dan growth hormone. Pemberian produk topikal ini, diharapkan dapat memberikan efek peremajaan sel kulit dengan cepat,” ungkapnya.

Produk rejuvenation topikal yang sedang dikembangkan saat ini berbahan dasar metabolite product stemcell dari amnion. Amnion merupakan bagian dari plasenta. Penggunaan amnion ini tentu saja yang sudah tidak terpakai dan mendapat persetujuan dari pasien. Setelah melalui proses karakterisasi dan memastikan bahwa amnion yang digunakan telah memenuhi syarat tertentu untuk penjaminan keamanan, maka selanjutnya amnion di ambil sebagai bahan metabolite product stem cells.

“Dari analisis yang dilakukan di Laboratorium farmasi, ditemukan bahwa metabolite product stemcell yang berasal dari membran amnion lebih baik dibandingkan Platelet Rich Plasma maupun metabolite product stemcell yang berasal dari Peripheral Blood Mononuclear Cells, Umbilical cord, dan jaringan lemak,” ujar Cita.

Melihat kenyataan itu, Cita dan tim memutuskan untuk memilih amnion. Ia dan tim kemudian bekerjasama dengan Departemen Obstetri dan Ginekologi FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo.

Saat ini, problem penuaan dini semakin banyak ditemui. Banyak ditemui seseorang dengan wajah yang terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.

“Kita harus dapat membedakan antara menua dengan wajar, dengan menua secara dini. Misal seseorang yang berumur 50 tahun tampak seperti 70 tahun, itu namanya penuaan dini,” ungkapnya.

Premature skin aging atau penuaan dini ini bisa disebabkan oleh banyak faktor. Gaya hidup serta pola manajemen stres amat berpengaruh dalam proses penuaan dini. Selain itu, paparan sinar ultra violet secara berlebihan tanpa proteksi krim tabir surya juga memicu penyebab penuaan dini.

“Sayangnya penggunaan sunblock maupun sunscreen belum membudaya secara merata pada masyarakat. Perlu edukasi pada masyarakat agar menyadari pentingnya sunblock untuk menangkal efek buruk sinar UV,” ungkapnya.

Untuk hasil maksimal, Cita bahkan menggabungkan metabolite product stemcell dengan menggunakan teknik micro needling, yaitu suatu teknik peremajaan kulit dengan memanfaatkan jarum-jarum  berukuran mini. Jarum-jarum ini kemudian diaplikasikan pada wajah, setelah itu dilanjutkan dengan mengoleskan metabolite product stemcell.

“Kami coba bandingkan antara kelompok pasien yang wajahnya diterapi menggunakan metabolite produk stemcell dan micro needling, dengan kelompok pasien yang hanya diterapi dengan micro needling tanpa dioles metabolite produk stemcell. Hasilnya, 20 pasien yang diberi metabolite produk stemcell dan micro needling menunjukkan hasil yang lebih memuaskan. Parameter perbaikan menggunakan Janus Methods yaitu tone, wrinkle, pigmen dan tekstur kulit,” ungkap Cita.

Pada dasarnya, teknik micro needling sudah berperan untuk peremajaan kulit. Karena teknik ‘mengamplas’ kulit wajah ini akan memberikan hasil akhir dimana kulit jadi lebih segar. Sementara penambahan unsur metabolite product stem cell, diharapkan dapat mempercepat proses peremajaan kulit. Sehingga, hasil yang diperoleh lebih optimal, khususnya dalam mengatasi problem penuaan dini.

Selain untuk tujuan estetika, rejuvenation serum ini juga ditujukan untuk mengatasi problem luka kronis pada penderita kusta.

“Pasien penderita kusta seringkali mengalami luka kronis di bagian telapak kaki. Luka tersebut sulit sekali disembuhkan. Kalaupun sembuh hanya sebentar, kemudian muncul lagi lukanya. Ini merupakan masalah bagi kami,” ungkapnya.

Setelah dilakukan penelitian, Cita dan tim mencoba membuktikan keampuhan metabolite product stemcell. Dari beberapa sampel luka, Cita membandingkan antara luka yang dioles dengan metabolite product stemcell dibandingkan dengan luka yang hanya diberi terapi standar selama tiga bulan.

“Ternyata kelompok metabolite product stemcell tidak mengalami luka kembali, sementara kelompok terapi standar ada yang mulai terjadi luka kembali,” ungkapnya.

Sejauh ini terbukti bahwa dibandingkan dengan pengobatan standar selama ini, pemberian metabolite product stemcell pada luka kronis berdampak lebih baik dalam mempercepat penyembuhan luka serta mencegah munculnya kembali luka. (*)

Penulis : Sefya Hayu

Editor    : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook27Tweet about this on Twitter0Email this to someone