puasa ramadan
Muhammad Amin Musa, Mahasiswa Chulalongkorn University Thailand. (Foto: Nuri Hermawan)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Sebagai seorang muslim, puasa di bulan Ramadan merupakan sebuah kewajiban. Selain menjadi kewajiban yang datang di setiap tahunnya, momen Ramadan nyatanya mampu meninggalkan jejak kisah.

Kali ini, UNAIR NEWS berhasil menggali sedikit kisah dari salah satu mahasiswa program Academic Mobility Exchange for Undergraduate at Airlangga (AMERTA). Mahasiswa Universitas Chulalongkorn, Amin Muhammad Musa, berkisah mengenai pengalaman perdana menjalankan ibadah puasa Ramadan di Indonesia.

Berada di negara yang masih satu kawasan di ASEAN, bagi mahasiswa yang akrab disapa Amin, perbedaan puasa memang tidak begitu mencolok.

“Bedanya tidak begitu mencolok karena di tempat saya juga ada tarawih berjamaah, buka bersama, hanya saja di sini waktunya lebih awal,” terang Amin. “Kalau di sana, kami baru baru buka puasa itu pukul 18.40,” imbuh Amin.

Perihal makanan, Amin juga berkisah bahwa menyantap hidangan di Indonesia tidak begitu menjadi beban. Selain tidak berbeda dengan Thailand, pada sepuluh hari pertama di bulan Ramadan, Amin memilih memasak di kos bersama teman-temannya untuk santap buka puasa dan sahur.

“Ini memang pertama kali saya puasa di Indonesia. Untuk makanan memang tidak ada beban, karena tidak begitu jauh dengan yang ada di negara kami. Selama puasa ini saya juga sering masak dengan teman saya di kos,” jelasnya.

Mengenai hal-hal yang dirindukan, Amin mengaku menikmati puasa dengan keluarga adalah hal yang kini tidak bisa dirasakan. Meski demikian Amin mengaku bersyukur, selama berpuasa di Indonesia, ia bisa lebih maksimal dalam melakukan ibadah membaca Alquran.

“Ramadan kali ini, syukur Alhamdulillah bisa membaca Alquran lebih rutin, dibanding tahun kemarin yang terlalu sibuk dengan urusan kuliah,” kenang Amin.

Untuk mengisi hari-hari Ramadan selanjutnya, Amin mengaku berencana bakal berkunjung ke beberapa masjid di Surabaya untuk menikmati suasan berbuka dan tarawih bersama.

“Ini kan masih 10 hari pertama puasa, jadi belum bisa menelusuri beberapa masjid di Surabaya, nanti Insya Allah tidak menutup kemungkinan bakal ke masjid-masjid di Surabaya untuk tarawih atau pun buka puasa,” jelasnya. “Untuk rakaat tarawih hampir sama lah, ada yang 20 dan 8,” imbuh Amin.

Ditanya mengenai makna Ramadan di akhir wawancara, mahasiswa asal Patani, Thailand selatan tersebut mengatakan, Ramadan itu adalah kesetaraan. Pasalnya, bagi Amin, saat Ramadan datang orang kaya dan miskin semua bisa membaur, baik saat berbuka puasa atau menjalankan ibadah yang lainnya.

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).