zamzam mutazam
Chaq El Chaq Zamzam Multazam, mahasiswa baru termuda Universitas Airlangga, bersama kedua orang tuanya. (Foto: Binti Q. Masruroh)
ShareShare on Facebook2.2kTweet about this on TwitterEmail this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Chaq El Chaq Zamzam Multazam, mahasiswa baru termuda Universitas Airlangga ini baru saja menyelesaikan proses administrasi registrasi ulang, Kamis (18/9). Ditemani kedua orang tuanya, ia berkisah tentang perjalanan menimba ilmu dan cita-citanya.

Zamzam, sapaan akrabnya, yang baru berusia 15 tahun berhasil diterima di Program Studi S-1 Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran, melalui jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN).

Sejak kecil, Zamzam yang memiliki dua saudara kandung sudah menorehkan banyak prestasi. Di bangku taman kanak-kanak, ia pernah menjuarai lomba bercerita tentang pengalaman pribadi. Di tingkat sekolah dasar, Zamzam berhasil mewakili negara Indonesia pada olimpiade matematika yang saat itu berlangsung di Filiphina.

Saat menginjak kelas X sekolah menengah atas, ia mengikuti ekstrakurikuler karya ilmiah remaja. Hasil karya ilmiahnya diapresiasi oleh Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia karena dianggap memiliki gagasan terunik mengenai penyakit tuberculosis (TB).

“Saat itu saya sering konsultasi dengan bapak. TBC merupakan penyakit menular tiap tahun bertambah terus. Dari kesukaan saya terhadap pelajaran Matematika, saya berusaha menjawab permasalahan itu,” tutur Zamzam.

Mahasiswa baru itu menciptakan rumus pemodelan matematika untuk mengkalkulasi jumlah penderita penyakit TB di Lamongan. Dengan pemodelan tersebut, pemangku kebijakan bisa memonitor jumlah penderita, angka kesembuhan, dan sebagainya.

BACA JUGA:  Minyak Zaitun Terozonisasi Efektif Taklukkan Bakteri MRSA

“Nantinya bisa diambil langkah preventif sehingga tren penderita TB ini akan menurun dan bisa mendekati nol,” ucap pelajar lulusan SMAN 2 Lamongan.

Berbagai raihan prestasi yang diraih Zamzam tak lepas dari peran orang tua. “Peran orang tua sangat besar. Ibu membacakan Surat Yasin saat saya mengikuti tes seleksi. Apa yang saya capai tidak lepas dari doa kedua orang tua saya,” terang remaja kelahiran 2 Oktober 2001.

Ayah Zamzam, Suadi Rachman, menambahkan bahwa belajar dan berdoa adalah satu kunci dalam meraih sesuatu. “Tidak boleh takut dan tidak boleh malu jadi orang desa. Selalu percaya diri dan menjaga semangat,” pesan Suadi kepada anaknya.

Zamzam ingin agar cita-citanya menjadi seorang dokter bisa tercapai. Keinginan untuk bisa membantu sesama yang membutuhkan menjadi landasan dirinya dalam memilih prodi pendidikan dokter.

“Sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi orang banyak. Itu akan jauh lebih baik,” ucap Zamzam yang juga peraih nilai ujian nasional tertinggi di Kabupaten Lamongan 2017.

“Pencapaian tertinggi tidak akan ada, karena pasti akan ada yang lebih tinggi. Untuk itulah, kita tidak boleh cepat merasa puas,” pungkasnya.

Penulis: Helmy Rafsanjani

Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on Facebook2.2kTweet about this on TwitterEmail this to someone