Herdian
Herdian Putranto, Mahasiswa Baru FH UNAIR Penghafal Injil. (Foto: Istimewa)
ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Diantara 1.865 calon mahasiswa baru (camaba) Universitas Airlangga yang diterima melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN), Herdian Putranto adalah salah satu yang terhitung istimewa. Laki-laki beragama Kristen Protestan ini adalah pengafal Injil, kitab yang menjadi pedomannya dalam menjalani hidup.

Herdian, camaba Fakultas Hukum UNAIR ini, memutuskan untuk mulai menghafal injil ketika masih duduk di bangku kelas tiga SMP. Tentu, tidak banyak pemuda seusianya yang bertekad untuk menghafal isi kandungan Injil. Tekadnya itu bermula dari perkumpulan pemuda gereja yang mendorongnya untuk lebih mendalami Injil.

“Ada perkumpulan pemuda yang mendorong saya untuk selalu aktif dalam kegiatan gereja, dan selalu mengajak untuk menumbuhkan iman rohani saya. Dari situ saya mulai berkembang mempelajari Injil,” ucapnya ditemui UNAIR NEWS disela-sela waktu daftar ulang, Kamis (19/5).

Alumnus SMAN 1 Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung ini mengaku, kandungan yang terdapat dalam kitab Injil-lah yang memotivasinya untuk mendalami kitab Injil.

“Kitab Injil kan berisi pedoman hidup. Apalagi menginjak usia dewasa, banyak pergumulan hidup yang silih berganti kita hadapi. Untuk dapat melewati berbagai pergumulan hidup, saya rasa selain dengan berusaha kita harus mendekatkan diri dengan Tuhan melalui alkitab,” ucap laki-laki kelahiran Tulungagung, 1 Juli 1998 itu.

Konsisten

Pada mulanya, Herdian cukup mengalami kesulitan dalam proses mempelajari kitab Injil. Sebab ketika itu, dalam seminggu, hanya satu kali kesempatan yang ia miliki untuk belajar, yakni ketika persekutuan doa di gereja.

BACA JUGA:  Pasutri Polisi, Kuliah Bareng S2 Kajian Ilmu Kepolisian

“Saya rasa-rasa, masa satu minggu sekali saya bisa hafalan. Lalu saya inisiatif sendiri ketemu dengan kakak pembina, menambah intensitas belajar tentang rohani menjadi dua hari sekali,” ujarnya.

Herdian mengakui, sebelum menghafal, ada kesulitan dalam memahami isi dari kitab Injil. Namun seiring berjalannya waktu, dengan niat yang kuat, pada waktu duduk di bangku kelas tiga SMA-lah ia hafal seluruh isi kitab Injil.

“Untuk semua orang nasrani harusnya hafal. Karena kitabnya sendiri masa nggak hafal,” candanya. “Tapi ada beberapa orang yang masih belum tergugah hatinya untuk menghafal kitab tersebut. Padahal, dalam kitab-kitab tersebut kita mendapat pedoman hidup dalam bersosialisasi,” tambahnya.

Laki-laki berkulit sawo matang ini mengaku, dengan konsisten mempelajari Injil, ia semakin memahami bagaimana seharusnya menjalani kehidupan. Karena seperti yang ia tuturkan, kitab Injil merangkum pedoman-pedoman tentang menjalani hidup, dengan dasar menebarkan cinta kasih. Untuk menjaga kekonsistensian, setidaknya dalam satu hari, dua kali ia membaca kitab Injil.

Sementara itu dalam bidang akademik, meski mengaku memiliki prestasi yang biasa-biasa saja, Herdian tercatat menduduki peringkat kedua tertinggi dalam Ujian Nasional bidang Ilmu Sosial se-Kabupaten Tulungagung.

“Dalam pendidikan saya ini biasa-biasa saja, kok. Kayak anak-anak biasa. Mungkin lebih tekun aja,” tuturnya malu-malu. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor : Nuri Hermawan

ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone