wapres
TIM UNAIR yang antara terdiri Rektor dan pengurus Yayasan Ksatria Medika Airlangga diterima oleh Wapres M. Jusuf Kalla, di kantornya, Selasa (2/5). (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Bagaikan “kado” dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2017, Tim Yayasan Ksatria Medika Airlangga (YKMA) yang akan menaungi operasional Rumah Sakit Terapung (RST) “Ksatria Medika Airlangga”, diterima Wakil Presiden Drs. H. M. Jusuf Kalla, di kantornya, Selasa (2/5) siang.

Kepada tim Universitas Airlangga yang dipimpin Rektor Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., Wapres menyatakan bangga dan sangat mengapresiasi dan sangat mendukung gagasan kemanusiaan ini. Bahkan secara spontan dan pribadi, Wapres Jusuf Kalla memberi bantuan Rp 100 juta untuk penyelesaian pembuatan kapal phinisi yang akan digunakan sebagai RST tersebut.

”Alhamdulillah kami sangat berbahagia memperoleh apresiasi dan dukungan yang luar biasa dari Pak Wapres, beliau mendukung sekali,” kata Suwaspodo Henry Wibowo, dr., Sp.And., MARS., Sekretaris Yayasan YKMA kepada UNAIR NEWS, Selasa petang sebelum bertolak dari Jakarta menuju Surabaya.

Tim YKMA bersilaturahim menghadap Wapres itu dipimpin Rektor UNAIR Prof. Moh Nasih. Dalam tim juga terdapat Ketua YKMA Christrijogo Sumartono, dr., Sp.An.KAR, Ketua Umum IKA-UA Drs. Ec. Haryanto Basoeni, Ketua IKA-FK UNAIR Dr. Poedjo Hartono, dr., Sp.OG(K)., Bendahara YKMA Herni Suprapti, dr., M.Kes, penggagas awal RS Terapung dr. Agus Hariyanto, Sp.B (alumni FK UNAIR yang sehari-hari berdinas di kawasan kepulauan Maluku), IDGN Nalendra J. I., dr., Sp.B, Sp.BTKV (alumni FK-UA, Direktur RSAL Dr. Ramelan yang berpengalaman dalam tugas KRI Bantuan Rumah Sakit Dr. Soeharso), dan beberapa pengurus yayasan yang lain.

Diterangkan oleh dr. Henry Wibowo, Wapres Jusuf Kalla juga berjanji nanti akan membantu biaya operasionalnya yang diperkirakan akan jauh lebih besar. Untuk itu Wapres akan mempertimbangkan bentuknya seperti apa bantuan itu nanti. Misalnya saja dengan beberapa alternatif, seperti dengan BPJS dan juga berjanji akan menghubungkan dengan yayasan amal milik Bill Gates.

”Pak Wapres menyarankan agar beroperasi dahulu, nanti pasti akan ketemu pada bagian mana yang perlu dibantu dan sebagainya,” kata Henry Wibowo mengutip penjelasan Wapres.

Bahkan Wapres juga bersedia untuk hadir dan meresmikan peluncuran RS Terapung “Ksatria Medika Airlangga” ini, seperti yang disampaikan oleh Rektor kemungkinan besar akan diluncurkan pada tanggal 10 November 2017 bersamaan dengan peringatan Dies Natalis ke-63 Universitas Airlangga.

wapres
KONDISI kapal phinisi untuk RS Terapung, selesai 75% (awal Mei 2017). (Foto: Istimewa)

Kepada Wapres, Rektor UNAIR Prof. Moh Nasih juga menjelaskan, bahwa rencana RS Terapung ini digunakan untuk membantu pelayanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat yang masih banyak membutuhkan, terutama di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK). Mungkin sebagai awalnya melayani beberapa kepulauan di Jawa Timur, dan kemudian meluas hingga ke kawasan Indonesia Timur dimana banyak kepulauan berpenghuni yang terpencil dan terluar. RS Terapung itu nanti juga akan dioperasionalkan oleh dokter-dokter ahli lulusan UNAIR.

Penjelasan Rektor itu juga dipertegas dengan keterangan dr. Agus Hariyanto, SpB., inisiator RS Terapung yang mengusulkan ide ini berdasarkan pengalaman empirisnya melayani kesehatan bagi masyarakat di ribuan pulau di Maluku.

”Di Maluku saja ada 1.040 pulau, 400 diantaranya berpenghuni. Tapi dari 400 pulau itu hanya enam pulau yang ada rumah sakitnya, antara lain di Ambon, Pulau Seram, Tanimbar, dan Kei Besar,” kata Agus.

Cara mengakses layanan dokter juga sulit. Bayangkan dari empat pulau hanya ada seorang dokter umum, untuk mengelilingi ratusan pulau itu dalam pelayanan kesehatan membutuhkan waktu 40 hari. Bahkan di Pulau Lirang, Maluku Barat Daya, ada penderita kanker anus terpaksa harus berobat ke Timor-Leste, karena minimnya fasilitas disana, kata alumni FK UNAIR angkatan 1985 itu.

Ketua YKMA, dr. Cristrijogo pernah menerangkan, RS Terapung ini akan dirancang sebagaimana Rumah Sakit Tipe C. Untuk itu memerlukan total biaya Rp 5 milyar, dimana separonya untuk kapal sepanjang 27 meter dan lebar 7,2 meter, dan sisanya untuk biaya peralatan medis. Sampai awal Mei 2017 ini kondisi kapal phinisi sudah 70% jadi, bahkan mesin kapal juga sudah naik ke perahu dan sedang dipasang oleh mekaniknya. (*)

Penulis: Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm
Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).