Ilustrasi
Ilustrasi
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Baju yang dilipat ibuk tinggal sedikit. Ibuk merasa terbantu karena Dini. Meskipun sedari tadi Dini cuma diam. Ibuk paham, Dini kecewa. Begitulah Dini. Dia tidak pernah melampiaskan rasa kecewa pada ibunya. Padahal biasanya ibuk akan bercerita banyak hal pada Dini ketika mereka bersama. Walaupun seringnya Dini hanya mendengarkan dan sesekali tertawa atas pembicaraan itu. Ibuk selalu berhasil membangun suasana dengan Dini. Baginya, Dini adalah anak yang baik. Dia selalu menerima keadaan orangtuanya, dan benar – benar memahami. Dini tidak pernah minta macam – macam.

Besoknya Dini kembali masuk kuliah. Semakin dia sering melihat sepatu teman – temannya. Bahkan ketika ada orang lewat, yang dia lihat pertama kali adalah sepatunya. Entah setan apa yang merasukinya sampai bisa sebegitunya pada sepatu. Selesai kuliah jam kedua, Dini masih duduk di kursinya. Perkuliahan selanjutnya masih satu jam lagi. Lagi – lagi Dini masih terpaku memandangi sepatunya dengan sol yang mulai menipis. Kalau saja ada uang lebih untuk membeli sepatu yang lebih bagus dan tidak mudah rusak. Dini memutuskan untuk tidak beranjak dari tempat duduknya.  Perkuliahan selanjutnya di ruang yang sama.

“Din, ayuk  ke kantin”

“Aku di sini aja. Bawa bekal kok”

Ndakpapa. Bawaen bekalmu, kita makan bareng di kantin. Masa enak, makan sendirian. Ayuk lah”

Dini mengangguk. Dia menyambargoodie bag yang isinya kotak bekal dan air mineral. Bersama Hani, dia menuju kantin. Teman – temannya menyambut mereka. Dini pikir, apa yang perlu dirisaukan dari persahabatan ini. Teman – temannya menerima Dini apa adanya. Mereka semua berlima, sudah bersahabat sejak semester pertama. Dini melihat ke bawah meja. Dilihatnya sepatu  teman – temannya. Semua dari merek berbeda, yang ia tahu pasti mahal. Sepatu Dini juga bermerek, meski tidak terkenal. Sepatu Dini juga mahal, karena di situ dia bisa melihat hasil jerih payah orangtuanya. Sepatu Dini penuh kasih sayang.  Dia bersyukur, memiliki keluarga dan sahabat yang menyayanginya.

Penulis: Tsurayya Maknun (Mahasiswa Psikologi UNAIR)

selesai

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone