Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Hardiknas
INSPEKTUR upacara Prof. Joko Santoso, dr., Sp.PD-KGH., PhD., FINASIM, Wakil Rektor I Universitas Airlangga, hormat Sang Saka merah Putih pada upacara Hari Pendidikan Nasional 2016, di halaman Rektorat UNAIR, Selasa (2/5). (Foto: Bambang Bes)

UNAIR NEWS – Menyambut peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei setiap tahunnya, sivitas akademika Universitas Airlangga melaksanakan upacara bendera. Upacara bendera tersebut diikuti oleh kalangan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan jajaran pimpinan.

“Peningkatan Relevansi Pendidikan Tinggi untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi” diangkat menjadi tema peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini. Wakil Rektor I Prof. Djoko Santoso, Ph.D., yang menjadi pembina upacara menyampaikan, momentum Hari Pendidikan Nasional tak sekadar refleksi hari lahir Ki Hadjar Dewantara, tetapi cerminan atas upaya pengembangan kebijakan pendidikan yang mampu berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Mengutip pidato Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Djoko menyampaikan bahwa perguruan tinggi sebaiknya responsif dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. Selain itu, Wakil Rektor I juga menyampaikan agar para dosen dan mahasiswa secara rutin mempublikasikan penelitian.

“Penelitian juga tak boleh berhenti di publikasi saja, tetapi harus dikembangkan sampai tahap Technology Readiness Level (tingkat kesiapan teknologi) sembilan,” tutur Djoko.

Selain itu, perguruan tinggi juga diharapkan mampu menerapkan kebijakan dan strategi yang mampu mendukung iklim hilirisasi produk penelitian ke industri.

Dalam upacara yang sama, pemerintah melalui UNAIR memberikan penghargaan kesetiaan Satya Lancana Karyasatya kepada 69 orang dosen dan tenaga kependidikan. Pemberian penghargaan diberikan kepada tiga orang perwakilan yang telah mengabdi kepada negara selama 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun.

Ketiganya adalah Badri Munir Sukoco (dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis) masa bakti 10 tahun, Prof. Dr. Drs. Abdul Shomad (Fakultas Hukum) masa bakti 20 tahun, dan Susetiyono (tenaga kependidikan) masa bakti 30 tahun.

Tantangan kecerdasan bangsa
Salah satu pengajar Fakultas Hukum UNAIR, Dr. Herlambang Wiratraman, mengatakan tantangan pendidikan masa depan adalah menumbuhkan kepekaan sosial. Sebab, menurutnya pelaksanaan pendidikan saat ini baru sebatas mengolah kecerdasan pikiran namun belum memaksimalkan kecerdasan lainnya.

“Kepekaan ilmuwan dan pendidikan tinggi yang diharapkan mampu menjawab tantangan teknologi, keragaman kebudayaan, serta kekayaan alam yang melimpah, sejatinya tak berbanding lurus dengan keadilan dan perlindungan kewargaan, sebaliknya justru memperlihatkan situasi meluasnya pemiskinan sosial,” terang Herlambang yang juga Ketua Pusat Studi Hak Asasi Manusia FH.

Herlambang yang juga peneliti tamu di FH National University of Singapore tahun 2017 mengingatkan, agar institusi pendidikan mengarahkan keberpihakannya untuk berani memijakkan kakinya kembali pada cita-cita konstitusi. Yakni, mencerdaskan kehidupan bangsa.
Penulis: Defrina Sukma S

Editor : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu