riset stem cell
Menristekdikti didampingi peneliti stem cell meninjau laboratorium riset stem cell di Institute of Tropical Disease. (Foto: Helmy Rafsanjani)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kunjungan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi membawa angin segar bagi perkembangan riset stem cell (sel punca). Bagaimana tidak, ia memuji perkembangan penelitian sel punca di Indonesia tak kalah maju dibandingkan negara lain.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mohammad Nasir ketika meninjau hasil riset para peneliti Universitas Airlangga, Jumat (28/4), di Aula Amerta, Kantor Manajemen UNAIR Kampus C.

“(Pengembangan) stem cell di Indonesia tidak kalah lho. Stem cell di Indonesia termasuk negara yang paling bergengsi dalam perkembangan stem cell. Kita (dibandingkan) dengan Cina, Amerika, Iran, kita tidak ketinggalan. Kami ingin mendorong para peneliti untuk terus mengembangkan,” tutur Nasir.

Dalam kesempatan kunjungan tersebut, Nasir juga sempat berdialog dengan salah satu pasien yang diterapi dengan metode stem cell oleh para dokter di Rumah Sakit UNAIR, Andi Muhammad Ardan. Andi mengalami sirosis hepatitis atau kondisi terbentuknya jaringan parut di hati akibat kerusakan hati jangka panjang pada tahun 2013 lalu.

Ketika berdialog, Andi yang berprofesi sebagai dokter spesialis bedah plastik ini telah mendapatkan terapi pengobatan stem cell sebanyak tiga kali. “Dulu sakit tahun 2013 diobati dengan stem cell sebanyak tiga kali. Setelah itu mengalami perbaikan. Sekarang kondisinya sudah normal,” terang Andi.

Menanggapi respon positif dari pasien yang sembuh dengan terapi stem cell, Nasir mengatakan bahwa pihaknya akan terus mendorong inovasi-inovasi pengembangan riset tersebut di perguruan tinggi. Selain itu, dirinya akan mendukung peningkatan mutu laboratorium di perguruan tinggi-perguruan tinggi.

“Ini contoh pengembangan. Inilah yang kami dorong. Dan inovasi semacam itulah yang akan kita kembangkan di perguruan tinggi,” kata Nasir. Nasir pun berharap, agar pengobatan dengan terapi stem cell bisa dijangkau oleh masyarakat luas.

Peneliti stem cell UNAIR, Prof. Fedik Abdul Rantam, mengatakan selama ini UNAIR mengembangkan sel embrionik dan sel dewasa. Riset stem cell yang dikembangkan UNAIR memiliki tingkat keamanan yang tinggi, dan bisa diterapkan untuk mengatasi penyakit degeneratif.

“Kita mengembangkan untuk terapi diabetes mellitus. Kasus ini yang paling banyak untuk mendapatkan treatment di Surabaya. Tapi, ada 12 penyakit degeneratif yang sudah diaplikasikan dengan stem cell, seperti bone fracture, sirosis, kanker, dan cerebral palsy,” terang Fedik.

Penulis: Defrina Sukma S

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone