ratih pusparini
Ratih Pusparini (kanan depan) dalam forum United Nations Special Committee for Peacekeeping Operations di New York. (Sumber: Kementerian Luar Negeri)
ShareShare on Facebook32Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Menjadi perempuan pertama Indonesia yang dikirim ke medan perang sebagai pasukan keamanan menjadi salah satu kebanggaan tersendiri baginya. Ia merasa senang ketika ditunjuk oleh atasannya di Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk diterjunkan langsung di daerah yang penuh pergolakan.

Ia adalah Ratih Pusparini, alumnus S-1 Sastra Inggris Universitas Airlangga tahun 1994 yang bertugas sebagai pembawa misi perdamaian di negara konflik. Meski sudah empat tahun berselang, pengalaman yang ia dapatkan usai bertugas di negara konflik masih begitu jelas tersimpan dalam ingatannya. Tentang bagaimana peperangan antar suku, patroli tentara, dan bunyi timah panas yang berdesing di indera pendengarnya setiap hari.

Tahun 2008 menjadi tahun bersejarah dalam karirnya. Pada tahun itu, Ratih pertama kali mengemban tugas sebagai military observer misi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Republik Demokratik Kongo. Ratih bercerita, suasana politik di Kongo kala itu amat dinamis. Penuh ketidakpastian.

“Masih banyak pertempuran antar suku, antar kelompok-kelompok pemberontak yang tidak hanya berasal dari Kongo tapi juga dari negara-negara di sekitarnya, seperti dari Uganda, Rwanda dan Republik Afrika Tengah. Kami pernah harus tinggal di rumah selama tiga hari tidak diijinkan beraktivitas di luar pagar karena keamanan yang tidak terjamin,” kisah perwira TNI Angkatan Udara itu.

Pada bulan Maret tahun 2012, ia kembali mendapatkan tugas ke Lebanon. Ia menjadi perwira siaga yang memonitor jalannya operasional United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Selang satu bulan berjalan, pada bulan April, ia mendapat perintah dari Mabes TNI untuk bergabung dengan tim aju di Suriah sebagai military observer dan staf operasi di Markas Besar United Nations Supervision Mission in Syria (UNSMIS).

Namun, Ratih tak lama berada di Suriah, negeri yang kini diguncang keberadaan Islamic State in Iraq and Syria (ISIS). Misinya diakhiri pada tiga bulan kemudian karena berbahaya bagi keselamatan pembawa misi perdamaian.

Ia pun kembali ke Lebanon pada bulan September 2012 sebagai Shift Chief Joint Operation Centre UNIFIL. Kali ini, misinya berlangsung selama satu tahun. Di awal penugasan, suasana Lebanon cukup kondusif. Namun, sekitar awal tahun 2013, kontak senjata sempat terjadi di beberapa tempat karena iklim politik di negara tetangganya, Suriah, juga memanas.

Perempuan, agen perdamaian dunia

Mendapatkan mandat sebagai salah satu perempuan militer pertama yang ditugaskan ke negara bertikai menjadi tanggung jawab yang tak mudah bagi Ratih yang kini berpangkat letnan kolonel. Ia merasa bahwa tanggung jawab ini perlu ditunjukkan melalui reputasi yang baik kepada pimpinan, senior, dan junior.

Di penugasan pertamanya di Kongo dan Suriah, ‘hanya’ sekitar 20 perempuan militer yang bertugas. Para perempuan itu berasal dari Indonesia (2 orang), Tiongkok, Afrika Selatan, India, Ghana, Kanada, Malawi, dan Uruguay. Lainnya adalah laki-laki militer yang jumlahnya mencapai 17 ribu pasukan berseragam militer, polisi, dan staf sipil.

Namun, perihal perdamaian, persatuan dan kesatuan adalah tanggung jawab seluruh anak bangsa. Tak pandang laki-laki dan perempuan. Meski demikian, perempuan kelahiran Denpasar 48 tahun lalu ini memandang bahwa perempuan bisa dijadikan agen perdamaian di berbagai wilayah konflik.

“Kita butuh kepercayaan dari mitra kerja kita yang notabene adalah lelaki. Mereka perlu memandang bahwa perempuan pun mampu melaksanakan tugas yang sama dengan yang mereka kerjakan karena sebelum para perempuan diberangkatkan dalam misi, mereka menjalani berbagai pelatihan dan persiapan yang memadai,” tegas Ratih yang semasa kuliah mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa Merpati Putih.

Sejak menjalani misi perdamaian di wilayah bertikai, Ratih yang juga peraih gelar master di Universitas Monash, Australia, diganjar penghargaan Women of Change dari Pemerintah Amerika Serikat tahun 2013. Penghargaan tersebut diberikan bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional saat ia menjalani misi di Lebanon. Ia juga mendapat tanda kehormatan berupa The United Nations (UN) Medal, UN Medal Syria, dan UN Peacekeeping Medal in Lebanon.

Ratih yang menamatkan sekolah dasar hingga menengah atas di Jakarta itu terus melantangkan suaranya hingga ke tingkat forum PBB. Pada akhir Februari 2017 lalu, Ratih bersama Kristin Lund (mayor jenderal asal Norwegia yang juga komandan misi perdamaian PBB) berbicara dalam sesi forum United Nations Special Committee for Peacekeeping Operations di New York.

Dalam forum itu, ia menyampaikan enam pokok pikiran mengenai keterlibatan perempuan dalam misi perdamaian PBB. “PBB harus membuat langkah-langkah afirmatif untuk menambah jumlah perempuan dalam misi PBB. Perlu ada perubahan kebijakan pro perempuan, dan reformasi budaya dan mindset,” cerita Ratih.

Adequate resources (sumber daya yang memadai) untuk meningkatkan peran perempuan dalam misi pemeliharan perdamaian, dan perlunya gender advisory network yang berisikan perempuan-perempuan pengambil keputusan untuk memastikan perspektif gender di semua tingkatan. Selain itu, perlu adanya penugasan perempuan di luar feminine duties seperti medis, logistik, dan administratif,” imbuh Ratih yang kini menjabat sebagai Kepala Sub Departemen Bahasa, Departemen Akademika, Akademi Angkatan Udara.

Ratih lantas bercerita, bahwa kesempatan perempuan untuk menjadi pembawa misi perdamaian sebenarnya terbuka lebar. Perempuan haruslah memiliki kondisi fisik dan mental yang baik, mampu berbahasa asing, dan kemandirian. Ada pula proses seleksi yang harus diikuti dan dilaksanakan terpusat di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

“Peluang terbuka lebar bagi perempuan untuk bergabung dalam misi perdamaian PBB. Tak hanya militer dan polisi, warga sipil pun bisa bergabung. Kita punya banyak relawan PBB perempuan di berbagai misi. Kita punya banyak perempuan TNI dalam misi di Lebanon dan Sudan,” tutur Ratih.

Secara pribadi, ia pun berharap agar perempuan diberi kesempatan yang lebih luas untuk berperan aktif dalam perdamaian dunia. Ia mengatakan, secara perlahan namun pasti, dunia akan menjadi kuat dan damai.

Terkait dengan almamaternya, Ratih menuturkan bahwa keberhasilan UNAIR bertumpu pada sivitas akademika. “Kita harus punya kepedulian yang tinggi dari semua pihak. Baik itu rektorat, dekanat, dan mahasiswa. Ini untuk mendukung keberhasilan UNAIR menuju world class university,” pesannya.

“Good luck, UNAIR!” pungkasnya.

Penulis: Defrina Sukma S

Editor    : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook32Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm
Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).