Prof Nyoman (kanan) bersama para peneliti ITD (foto: Dilan Salsabila)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Produk ramah lingkungan Excelzyme yang dihasilkan peneliti Universitas Airlangga (UNAIR) Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si., dan tim, bakal segera dihilirisasi. PT Petrosida Gresik sudah menyampaikan kesiapan untuk mem-back up keinginan ini. Kesepakatan bersama antara UNAIR dan perusahaan tersebut secara resmi dikemukakan di Ruang Sidang Pleno Kantor Manajemen kampus pada rabu, 8 Maret 2017.

Prof Nyoman menyampaikan, Excelzyme adalah nama dagang. Merujuk pada temuan dia dan kawan-kawannya, terhadap enzim yang memiliki banyak kegunaan. Excelzime sendiri terdiri dari enzim-enzim konsorsium yang bekerja dan beraktifitas untuk memaksimalkan limbah pertanian, nan kaya lignoselulosa.

Yang menarik, bahan dasar Excelzyme berasal dari tempat-tempat kaya sumber daya alam di Indonesia. Jadi, buah pemikiran Prof Nyoman dan segenap peneliti dari Laboratorium Proteomik Institute of Tropical Disease salah satu tujuannya adalah memaksimalkan potensi yang ada di nusantara.

Disampaikan Prof. Nyoman, penelitian ini sudah dilakukan sejak tahun 90-an. Fokusnya dilaksanakan pada sekitar 1999, dan masih berjalan hingga saat ini. Pada 2007, telah mulai dikomersialisasikan, meski masih dalam lingkup terbatas. Pada 2011, patennya terbit, sedangkan pada 2016, terbit paten formulasi produksinya. Sampai sekarang, pengembangan formula ini setidaknya sudah berjalan lebih dari 17 tahun.

Produk Excelzyme saat ini sudah memiliki empat varian. Excelzyme 1 (membantu proses deinking untuk daur ulang kertas), Excelzyme 2 (membantu pembuatan pakan ternak organik), Excelzyme 3 (membantu pembuatan pupuk organik), dan Excelzyme 4  (varian ini masih dalam pengembangan, ditujukan untuk proses pengurangan lignin yang aplikasi diterapkan pada industri kertas atau industri berbahan dasar kayu). “Exelzyme dicetuskan untuk bisa memberikan sumbangsih pada industri ramah lingkungan. Dengan produk kami, pemakaian bahan kimia untuk sejumlah keperluan dapat diminimalkan,” papar Prof Nyoman.

Proses daur ulang kertas, umumnya membutuhkan banyak bahan kimia. Limbahnya, tentu tidak baik buat lingkungan. Dengan produk Excelzyme, penggunaan bahan kimia dapat ditekan sekecil mungkin. Dengan hasil daur ulang yang semaksimal mungkin.

Dengan temuan aplikatif ini, Indonesia bisa secara bertahap melepaskan diri dari ketergantungan terhadap impor enzim. Disampaikan Prof. Nyoman, enzim dengan fungsi yang sama dengan Excelzyme, per kilogram harganya bisa mencapai 150 sampai 200 ribu rupiah. Sedangkan produk dalam negeri yang “diracik” tim UNAIR, nilainya jauh di bawah itu.

Fakta ini menunjukkan bahwa kemandirian bangsa di bidang ini dapat segera dicapai. Sekaligus, logis dan realistis untuk terkabul. Meski memang, butuh proses yang tidak sekejap mata. Asalkan, ada keseriusan dari pihak kampus dan perusahaan dalam negeri untuk terus mengembangkannya. Yang harus diyakini, khazanah sumber daya alam Indonesia sudah tidak terbantahkan. Maka itu, perlu dioptimalkan untuk kesejahteraan bangsa.

“Baik kampus maupun pihak swasta dan pihak lain yang punya visi membangun kemandirian bangsa harus peduli pada penelitian. Khususnya, penelitian yang sudah dijalankan dalam tempo lama dan konsisten serta telah tampak hasilnya. Karena memang, penelitian itu butuh proses panjang,” kata dia.

Diapresiasi Banyak Pihak

Mengeksplorasi kekayaan alam lokal melalui penelitian enzim, kemudian memanfaatkan limbah pertanian demi pengembangan bidang argoindustri, adalah aktifitas yang dilakukan Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, Dra., M.Si. bersama tim di laboratorium Proteomik ITD UNAIR. Excelzyme, nama dagang yang dipakai mereka atas temuan aplikatif itu, diapresiasi oleh Direktur Pengembangan Teknologi Industri Dr. Eng, Hotmatua Daulay, M.Eng, dari Kemenristekdikti. Hotmatua merespon positif terhadap keberhasilan UNAIR dalam menghilirisasi hasil penelitian menjadi produk yang akan siap dipakai oleh industri dan masyarakat. “Ini merupakan langkah tepat dalam menyikapi persaingan,” tutur Hotmatua.

Direktur Utama PT Petrosida Gresik Hery Widyatmoko juga memberikan respon positif. Dia yakin, produk ini bakal memberi sumbangsih di masyarakat. Termasuk, memompa optimisme kemandirian bangsa. “Tentu saja kami mendukung pengembangan dan penelitian gagasan ini,” papar dia.

Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak., mengutarakan, ada banyak peneliti di UNAIR yang memiliki produk bagus. Semua itu siap dihilirisasi atau diperbanyak dalam lingkup industri yang luas. “Kami berkomitmen untuk menciptakan gagasan, konsep, maupun temuan yang bermanfaat kongkret dan langsung di masyarakat,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut. (*)

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm
Alumnus S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Penulis buku kumpulan esai "Menyikapi Perang Informasi", kumpulan puisi "Balada Pencatat Kitab", dan kumpulan cerita pendek "Merantau". Editor foto dan berita di www.news.unair.ac.id. Bergiat di www.suroboyo.id.