tulungagung
Para pemateri workshop berfoto bersama peserta dalam acara workshop Penulisan Sejarah Lokal Tulungagung, Sabtu (22/4)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satu tanggung jawab universitas adalah melakukan pengabdian kepada masyarakat (pengmas) sesuai bidang ilmu yang dimiliki. Hal inilah yang menjadi dasar dilakukannya pengmas oleh Departemen Ilmu Sejarah dan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Ilmu Sejarah Universitas Airlangga di Kabupaten Tulungagung pada Sabtu (22/4) pekan lalu.

Pengmas tersebut berbentuk workshop dengan tema Penulisan Sejarah Lokal Tulungagung. Departemen dan IKA Ilmu Sejarah menggandeng komunitas Rumah Baca Onderan untuk mensukseskan acara ini. Mereka mengajak serta masyarakat setempat yang terdiri dari guru pengajar mata ajar Sejarah, pelajar SMA, dan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap seni dan budaya di Tulungagung.

Workhshop ini mengundang tiga pembicara kunci yang berasal dari alumni Ilmu Sejarah UNAIR. Mereka adalah dosen muda UNAIR Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari (alumnus th. 2003), Adrian Perkasa (alumnus th. 2006), dan Akhmad Ryan Pratama (alumni th. 2007).

Dalam kesempatan ini, Adrian menyampaikan wawasan seputar sejarah lokal. Ia juga mencontohkan kepada peserta tentang topik-topik terkait sejarah lokal di Tulungagung yang menarik untuk ditulis.

“Sejarah tidak selalu berkutat pada penguasa, dalam hal ini sejarah orang-orang besar semata, tetapi juga mengembalikan peran serta masyarakat kecil dalam panggung penulisan sejarah kita. Tidak akan ada perubahan tanpa peran serta masyarakat,” ujar Adrian.

Sementara Ikhsan Rosyid, banyak memberikan wawasan kepada peserta tentang metode dan teknik penulisan sejarah yang bisa dipraktikkan oleh peserta. Dalam kesempatan ini ia juga menjelaskan bahwa program studi Ilmu Sejarah UNAIR memiliki kajian yang unik, yakni sejarah perkotaan.

“Topik-topik sejarah perkotaan di UNAIR banyak tercermin dari judul-judul skripsi mahasiswa yang memiliki tema sub-altern, kelompok minoritas, dan permasalahan khas perkotaan. Kekhasan ini menjadi kunci agar historiografi di Indoneisa proporsional,” ujar Ikhsan.

Menariknya dalam workshop ini, peserta bisa mengajukan tema yang akan mereka tulis untuk diterbitkan dalam sebuah buku. Harapannya, tema-tema yang beragam itu bisa dipublikasikan dalam sebuah artikel sejarah yang diterbitkan menjadi Buku Bunga Rampai oleh Departemen Ilmu Sejarah UNAIR. Sehingga usai workshop, peserta bisa langsung merealisasikan ilmu yang didapat melalui penulisan artikel bertema sejarah lokal.

Dalam mencapai tujuan itu, Pandu Diptya Yoga selaku ketua komunitas Rumah Baca Onderan mengaku siap untuk mengawal peserta workshop yang akan mengumpulkan artikel.

“Antusiasme peserta yang besar untuk menulis sejarah lokal yang ada di daerahnya merupakah kebanggaan tersendiri kami sebagai alumni. Harapannya, pengetahuan tentang asal-usul sejarah masyarakat di Tulungagung dapat diabadikan dalam bentuk budaya literasi untuk bekal cerita anak cucunya nanti,” kata Ryan yang juga staf pengajar di Universitas Ciputra.

Suasana keakraban dan rasa senang terpancar dari peserta workshop yang didesain dalam suasana cangrukan dan diskusi santai itu. (*)

Penulis : Yudi Wulung

Editor    : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm
Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).