Ilustrasi: Alifian Sukma / UNAR News
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Gunawan, salah satu peternak Cucak Rawa asal Wisma Mukti Surabaya, binaan peneliti Tropical Disease Diagnostic Center (TDDC) Institute of Tropical Disease (ITD) UNAIR, Eduardus Bimo Aksono H. (Dr., M.Kes., drh) mengutarakan, metode dan teknologi penentuan jenis kelamin burung yang digagas Bimo dan tim memiliki nilai ekonomis tinggi. Maksudnya, keuntungan dari segi materi saat berbisnis dengan sentuhan ilmiah seperti ini memberikan margin laba yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

Sebab, selama ini, penentuan jenis kelamin burung monomorfik (hewan yang sulit dibedakan hanya dari struktur anatomi dan morfologi) hanya berdasarkan perasaan dan kebiasaan. Padahal, kepastian terkait jenis kelamin itu sangat menentukan kesuksesan pengembangbiakan burung.

“Dulu, dari dua puluh pasang burung, yang menghasilkan cuma dua pasang. Kenapa? Diduga kuat, pasangan yang lain itu jenis kelaminnya sama,” ungkap pria yang mulai merintis bisnis ini sejak 2009 tersebut.

Saat pertama kali menggunakan metode ini di tahun 2014, Gunawan langsung memasangkan 30 ekor burung miliknya. Dari 15 pasang itu, yang berhasil menetaskan telur dan menghasilkan sejumlah 10 pasang.

Jadi, bila dulu yang menghasilkan sekadar 10 persen dari jumlah pasangan. Setelah disentuh teknologi ini, yang menghasilkan mencapai 66 persen.

“Tapi, bukan berarti yang lima pasang itu jenis kelaminnya sama, lho. Mereka tetap berpasangan dan bisa menghasilkan. Hanya, nunggunya harus lebih sabar,” tambah Gunawan.

Perbandingan yang lebih gampang, berdasarkan pengalaman Gunawan, dulu peternakannya sekadar menghasilakan laba bersih maksimal dua juta rupiah perbulan. Saat ini, bisa mencapai minimal 38 juta perbulan. Bahkan, lelaki yang sekarang sudah memiliki puluhan pasang burung Cucak Rawa itu sudah berencana mindahkan penangkarannya ke kawasan Pandaan. Sebab, di sana, dia bisa beternak dengan lebih lapang dan cuacanya jauh lebih pas buat burung. (*)

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
Alumnus S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Penulis buku kumpulan esai "Menyikapi Perang Informasi", kumpulan puisi "Balada Pencatat Kitab", dan kumpulan cerita pendek "Merantau". Editor foto dan berita di www.news.unair.ac.id. Bergiat di www.suroboyo.id.