Gunawan (kiri), salah satu peternak yang dibina oleh Doktor Bimo Aksono (kanan) / Foto: Rio F. Rachman
ShareShare on Facebook41Tweet about this on TwitterEmail this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS - Eduardus Bimo Aksono H. (Dr., M.Kes., drh.) adalah dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) yang selama ini menjadi peneliti di Tropical Disease Diagnostic Center (TDDC). Dia bersama tim peneliti di TDDC, yang merupakan bagian dari Institute of Tropical Disease (ITD) UNAIR, tak pernah henti membuat terobosan yang aplikatif  di masyarakat. Mereka selalu menyerap persoalan di akar rumput dalam segala bidang, lantas menciptakan solusi kongkret.

Salah satu karya Bimo dan kawan-kawan adalah pencetusan metode untuk melihat jenis kelamin pada unggas monomorfik (hewan yang sulit dibedakan hanya dari struktur anatomi dan morfologi). Setelah melakukan riset di rentang 2012-2014, TDDC sanggup memastikan, apakah seekor unggas berjenis betina atau jantan, hanya dengan mengamati sampel bulu.

Bimo menjelaskan, riset tersebut berawal dari diskusinya dengan seorang peternak burung Cucak Rawa asal Wisma Mukti Sukolilo bernama Gunawan. Waktu itu, Gunawan mengeluhkan soal sulitnya mengetahui jenis kelamin burung. Kendala itu berimbas pada kesukaran mengawinkan pasangan. Yang kemudian berimplikasi pada kerumitan dalam upaya pengembangbiakan. Problem ini, kata Gunawan, tidak hanya menjadi masalah dirinya sendiri. Namun juga, menjadi persoalan bagi seluruh peternak Cucak Rawa.

Dari hasil obrolan itu, kata Bimo, tim TDDC UNAIR bergerak untuk melakukan penelitian. Selain pengamatan lapangan, dibutuhkan pula pencarian sampel dari burung sebagai bahan untuk diamati di laboratorium. Awalnya, sempat terpikir untuk mengambil sampel DNA dari darah. Namun, burung Cucak Rawa rentan stress. Pengambilan darah bisa menyebabkan mereka tertekan bahkan tak mustahil lekas mati.

Akhirnya, diputuskan untuk mengambil sampel berupa bulu. Dengan pertimbangan, gampang didapatkan dan relatif tidak mengganggu burung. Karena, bisa diperoleh dari jatuhan bulu di sekitar burung. Yang terpenting, di ujung bulu terdapat Kalamus yang mengandung kromosom pembawa jenis kelamin.

Sampel itu kemudian dibawa ke laboratorium untuk diamati dengan metode PCR (kependekan dari istilah bahasa Inggris polymerase chain reaction), yang merupakan suatu teknik atau metode perbanyakan (replikasi) DNA secara enzimatik tanpa menggunakan organisme. Dari sejumlah tahap pengamatan sampel kromosom yang dilakukan di TDDC bakal tampak jenis kelamin burung. Tak hanya Cucak Rawa, metode ini juga bisa melihat jenis kelamin pada unggas monomorfik (hewan yang sulit dibedakan hanya dari struktur anatomi dan morfologi) lainnya.

BACA JUGA:  Excelzyme, Produk Ramah Lingkungan yang Siap Dukung Kemandirian Bangsa

“Dari bulu itu, kami akan melihat kromosom. Kalau kromosomnya heterozigot  berarti betina. Jika kromosomnya homozigot berarti jantan,” kata pria yang juga menjabat sebagai Sekretars Pusat Informasi dan Humas UNAIR tersebut.

Pengembangan teknologi yang diinisiasi oleh UNAIR itu sudah sukses menerobos banyak mitos. Selama ini, penentuan jenis kelamin Cucak Rawa sekadar mengacu pada kebiasaan. Misalnya, ada yang bilang kalau kepala burung besar, maka ia jantan. Atau, jika buntutnya pendek, ia betina. Perspektif itu nyaris seratus persen salah. Mungkin, kata Gunawan, yang paling mendekati benar hanya soal suara. Ada perbedaan suara antara burung jantan dan betina.

Persoalannya, suara itu hanya dapat dideteksi oleh orang yang sudah lama bergelut di bidang ini. Problem kembali bertambah karena suara tersebut hanya terdengar saat burung birahi. Yang jadi masalah, ada burung jantan yang suka ikut-ikut suara betina. Jadi, telaah melalui aspek suara ini cukup rumit.

Nah, ketidaksanggupan untuk menentukan jenis kelamin burung ini memiliki imbas turunan yang beragam. Mitos-mitos yang tak dapat dipertanggungjawabkan pun makin mengemuka. Contohnya, ada yang mengatakan kalau burung Cucak Rawa sulit diternak, gampang stress dan lain sebagainya.

Padahal, kunci sukses ternak Cucak Rawa itu adalah mengetahui jenis kelamin. Kalau sudah dapat jenis kelamin, akan lebih mudah menjodohkan. Keuntungan ekonomisnya jadi jelas dan bisa diukur. Nah, di luar sana banyak yang masih pakai pendekatan tebak-tebakan. Jadi, satu kandang itu bisa diisi burung-burung homo atau lesbi. Otomatis tidak bisa bertelur dan berkembang biak.

Bimo mengungkapkan, metode ini sudah terbukti bermanfaat di masyarakat. Dari segi ekonomi, sudah mampu menaikkan nilai jual burung. Dengan demikian, sumbangsih kongkretnya dapat dirasakan langsung bagi peternak atau penghobi burung. Tak hanya di Surabaya, hasil penelitian ini juga sudah dirasakan masyarakat di daerah lain. Misalnya, Blitar, Jakarta, Semarang, dan lain sebagainya. (*)

Editor: Nuri Hermawan

 

ShareShare on Facebook41Tweet about this on TwitterEmail this to someone
mm
Alumnus S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Penulis buku kumpulan esai "Menyikapi Perang Informasi", kumpulan puisi "Balada Pencatat Kitab", dan kumpulan cerita pendek "Merantau". Editor foto dan berita di www.news.unair.ac.id. Bergiat di www.suroboyo.id.