Ilustrasi she.id
Ilustrasi she.id
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – “Buk, aku mau beli sepatu. Yang lama sudah rusak”

“Yasudah, itu ambil uangnya di bawah koran dalem lemari”

Dini mengikuti petunjuk ibuknya, namun urung. Dia  kembali.

“Buk,ndak cukup”

“Lha kok bisa ndak cukup. Wong biasanya segitu bisa dapet dua pasang sepatu”

“Aku mau yang kayak temenku”

Waktu itu Dini berjanjian akan kerja kelompok. Teman – teman sekelompoknya sepakat akan mengerjakan di ruang belajar lesehan. Untuk masuk ke ruang itu, harus melepas alas kaki dan meletakkan di rak besar  luar ruangan itu. Dia sempat ragu meletakkan sepatunya sederet dengan teman – temannya. Di sana berjejer sepatu – sepatu bermerek mahal. Sepatu Dini hanya flatshoes tipis yang akan mengelupas setelah dipakai tiga bulan. Akhirnya Dini meletakkan sepatunya jauh dari deretan sepatu teman sekelompoknya. Sayangnya, di deretan lain Dini menemukan merek sepatu yang juga tergolong mahal. Apa  hanya dia yang memakai sepatu murah ke kampus?

“Sepatu kayak apa to nduk?”

Dini diam. Dia sadar keterbatasannya. Ibunya hanya seorang buruh cuci. Sementara ayahnya seorang guru honorer. Dia beruntung bisa kuliah dengan bantuan beasiswa. Pendapatan kedua orangtuanya hanya cukup untuk kebutuhan sehari – hari. Terkadang mungkin ditambahi dari beasiswa Dini. Rasa – rasanya Dini tak pernah menikmati uang beasiswanya. Dia menyerahkan sepenuhnya uang itu pada ibuk.  Ibuk lebih berhak mengaturnya. Dini tak masalah. Tapi untuk urusan sepatu ini, Dini menjadi sedikit pusing.

“Yasudah Buk, aku belinya kapan – kapan aja.”

“Loh kok gak jadi to?”

Ibuk hanya bisa tersenyum atas tingkah Dini. Dalam hati sebenarnya ibuk merasa  bersalah. Ibuk merasa kecewa tidak bisa memberikan yang anaknya inginkan. Ibuk benar – benar sedih, sayangnya dia hanya bisa diam. Keadaaan tidak kompromi padanya. Semua orangtua selalu ingin mewujudkan keinginan anaknya. Bukan semata – mata untuk balas budi di kemudian hari.  Lebih dari itu, orangtua selalu ingin melihat anaknya bahagia. Namun ibuk tidak mampu.

 

bersambung

 

Penulis: Tsurayya Maknun Mahasiswa Psikologi

mm
Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).