Beberapa hasi penelitian Dr Ernie yang berkualitas dan aplikatif. Foto: Rio F. Rachman/UNAIR News
ShareShare on Facebook89Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kepakaran Dr. Ernie Maduratna Setiawatie, drg., M.Kes., Sp.Perio di bidang periodontal tak perlu diragukan lagi. Bagaimana tidak, perempuan kelahiran Malang yang biasa disapa Erni ini telah menghasilkan tujuh produk yang dipatenkan. Produk yang telah dipatenkan itu adalah Antimicrobial Topical: Tetracycline Gel (gel tetrasiklin dari antimikroba lokal), Minocycline Mouth Wash (obat kumur untuk mencegah periodontitis), dan Periobrush (sikat gigi untuk mendeteksi dini radang gusi).

Ada pula Nigela Sativa Mouth Wash (obat kumur antibakteri, antiinflamasi, dan antioksidan), Photosensitizer Ekstrak Moringa (sensitizer untuk terapi fotodinamik pada kasus radang gusi), Hyaluronic Acid Gel (terapi pascaoperasi pemasangan implan dan pencegahan resesi gusi), dan Periodontal Tissue Engineering (terapi gigi goyang dan dental implant).

Seluruh produk paten itu berawal dari penelitian yang dilakukan Ernie sejak dia menggarap tesis dan disertasi. Ketekunan itu berlanjut pasca perempuan kelahiran Malang ini rampung menyelesaikan program doktor. Kini, ia memiliki tim peneliti lintas fakultas untuk menyelesaikan riset-riset yang akan datang.

Salah satu hal yang mendasarinya untuk terus melakukan riset dan berproduksi adalah demi kemandirian bangsa. Ernie mengatakan, selama ini produk yang digunakan untuk mengobati penyakit radang gusi dan jaringan pembentuk gigi masih diimpor dari luar negeri. Akibatnya, pasien harus merogoh kocek terlalu dalam untuk membayar biaya kesehatan.

Produk-produk yang ia hasilkan, bila diproduksi massal dan dijual, dihargai cukup terjangkau. Di klinik-klinik atau rumah sakit, harga laser versi impor bisa mencapai Rp 15 juta. Sedangkan, miliknya berada di kisaran Rp 5 juta. Untuk klorofil daun kelor (moringa oleifera) yang digunakan sebagai photosensitizer organik/alam pada fotodinamik dengan activator dento laser biru 405 nm, harga per 10 mili sekadar Rp 50 ribu. Sedangkan versi impor, dengan ukuran serupa dan bahan yang berbeda meski berfungsi sama, dibanderol Rp 400 ribu. Padahal, kualitas keduanya bisa diadu.

Artinya, produk dari peneliti UNAIR mampu bersaing di kancah internasional. Mutu terjamin dengan harga yang kompetitif. “Tujuan utama saya dan kawan-kawan bukanlah komersial semata. Tapi lebih pada pengabdian ke masyarakat. Dengan harga yang murah, kualitas yang bagus, puskesmas-puskesmas atau klinik di semua daerah di Indonesia dapat menjangkaunya,” papar dosen Fakultas Kedokteran Gigi yang melakukan riset Klorofil Daun Kelor serta Aktivator Dento-Laser Biru 405 nm bersama Dr Suryani Dyah Astuti, M.Si, tersebut. (*)

ShareShare on Facebook89Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm
Alumnus S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Penulis buku kumpulan esai "Menyikapi Perang Informasi", kumpulan puisi "Balada Pencatat Kitab", dan kumpulan cerita pendek "Merantau". Editor foto dan berita di www.news.unair.ac.id. Bergiat di www.suroboyo.id.