Aksi Turun Jalan
Suasana Aksi Turun Jalan Mahasiswa FK UNAIR Rayakan Hari Kartini. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Mewarnai Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April, puluhan mahasiswa dari Program Studi Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RSUD Dr. Soetomo berduyun-duyun turun ke jalan. Dengan mengenakan busana adat warna-warni, mereka kompak menyuarakan anti kekerasan pada perempuan.

Sembari mengusung spanduk panjang dan poster yang bertuliskan “Stop Kekerasan pada Perempuan”, rombongan mahasiswa ini berkonvoi di sepanjang Jalan Prof. Dr. Moestopo Surabaya, Jumat (21/4). Berteman teriknya matahari, rombongan mahasiswa ini bersemangat berorasi sambil membagi-bagikan leaflet ‘Stop Kekerasan Pada Perempuan’ kepada para pengguna jalan.

Ketua Program Studi Ilmu Kedokteran Jiwa Nalini Muhdi, dr., SpKJ(K) bersama Wakil Dekan II FK UNAIR Prof. Dr. Budi Santoso, dr., SpOG(K) pun turut mendampingi acara tersebut. Ditemui di sela-sela acara, dr Nalini mengungkapkan, setiap tahun pihaknya selalu memperingati hari Kartini dengan menggelar berbagai macam kegiatan. Namun di tahun ini, pihaknya menyelenggarakan acara dengan sedikit berbeda. Jika sebelumnya acara peringatan hari Kartini lebih sering ‘indoor’, kali ini Nalini mengajak mahasiswanya pawai turun ke jalan.

“Setiap tahun kami selalu peringati hari Kartini dengan tema pemberdayaan perempuan. Tidak lupa kami juga selalu kenakan baju daerah, baik yang laki-laki maupun perempuan. Bahkan ada murid kami dari Aceh yang pesan baju adat langsung dari Aceh. Mereka niat sekali,” ujarnya sumringah.

Acara ini makin meriah, karena setiap tahun pawai baju adat ini juga dilombakan. Bagi peserta yang mengenakan kostum daerah paling keren, akan menerima bingkisan menarik dari panitia.

“Tahun lalu tema kostumnya adalah profesi di luar profesi dokter. Menarik sekali, dari peserta ada yang pakai kostum pilot karena om nya ada yang pilot, ada yang dandan jadi ojek. Ada juga yang dandan jadi dukun pakai menyan dan ada yang jadi setan-nya, seru sekali,” ungkapnya.

Korban Harus Berani Speak Up

Kegiatan turun ke jalan kali ini bukan sekedar acara pawai baju daerah saja, ada misi yang mereka usung. Yaitu menyosialisasikan kepada masyarakat untuk menghindari aksi kekerasan pada perempuan.

“Dari dulu saya ingin menyosialisasikan  hal ini. Karena beberapa tahun terakhir kasus  kekerasan publik berupa pemerkosaan, bullying, hingga kasus KDRT menyita perhatian masyarakat,” ungkapnya.

Di Indonesia, kekerasan seksual menempati peringkat pertama di ranah komunitas sebanyak 74 persen. Jenis kekerasan yang paling mendominasi adalah pemerkosaan sebanyak 1.036 kasus. Artinya dalam sehari ada 12 orang perempuan Indonesia yang mengalami kasus pemerkosaan. Parahnya, 93 persen kasus pemerkosaan di Indonesia tidak pernah dilaporkan. Ini terjadi karena seringkali korban enggan melapor, dengan alasan takut disalahkan.

“Ini fenoma di Indonesia, dimana kebanyakan korban pemerkosaan selalu diposisikan sebagai pihak yang bersalah. Korban tidak dibela, malah dipojokkan. Ini mindset yang perlu diluruskan. Karena yang terjadi, kebanyakan korban pemerkosaan yaitu perempuan selalu disalahkan dengan alasan karena cara berpakaian atau perperilaku ‘mengundang’ sehingga memicu pemerkosaan,” pungkasnya.

Penulis: Sefya Hayu

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone