laboratorium
Suasana visitasi peneliti anggota INDOHUN di Rumah Sakit Universitas Airlangga, Kamis (20/4). (Foto: Defrina Sukma S_
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Peningkatan kualitas kesehatan masyarakat global dan nasional tak lepas dari sektor pendidikan dan riset. Oleh karena itu, diperlukan laboratorium dan sumber daya yang kuat agar virus serta mikroorganisme berbahaya lainnya dapat diatasi dengan tepat. Maka, peran perguruan tinggi diperlukan di sini.

Berkaitan dengan itu, sebanyak dua laboratorium mikrobiologi Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga dilakukan self-assessment oleh para anggota The Indonesia One Health University Network (INDOHUN). Pengujian mandiri itu akan dilakukan selama dua hari pada Kamis dan Jumat, 20–21 April 2017.

Anggota INDOHUN yang akan memvisitasi dua laboratorium di UNAIR, Prof. Dr. drh. Wayan Tunas Artama, mengatakan, visitasi itu diperlukan untuk memverifikasi dokumen yang dikirimkan oleh UNAIR kepada pihak INDOHUN.

“Karena UNAIR sebelumnya sudah mengirimkan kepada kami. Maka, kami datang ke sini untuk melihat laboratorium-laboratorium tersebut sesuai yang dideskripsikan oleh UNAIR,” tutur Wayan.

Menurut pakar penyakit tropik itu, baru ada 12 laboratorium yang memenuhi standar untuk divisitasi oleh anggota INDOHUN. Seluruhnya berasal dari tujuh universitas. Sementara, UNAIR sendiri memiliki dua lab yang dianggap memenuhi standar untuk divisitasi.

UNAIR bersama enam perguruan tinggi negeri lainnya menjadi anggota dari INDOHUN. Perguruan tinggi lainnya di antaranya adalah Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Gadjah Mada.

“Ketika visitasi, kita bisa ketahui apa saja yang kriterianya yang kurang. Kemudian, kita mengadakan workshop untuk mendiseminasikan apa saja yang kurang sehingga nanti bisa fill the gap (memperbaiki mana yang kurang). Setelah itu, kita latih personel yang bertanggung jawab terhadap manajemen, laboratoriumnya, laborannya sehingga nanti bisa memenuhi standar internasional,” imbuhnya.

BACA JUGA:  Lab Proteomik ITD didukung Peralatan Canggih dan Lengkap

Sedangkan, laboratorium yang sesuai standar adalah biosekuritas, manajemen operasional yang terstandarisasi, peralatan, dan sumber daya manusia.

Harapannya, dari penilaian itu, laboratorium perguruan tinggi bisa bekerja sama dengan laboratorium pemerintah untuk memeriksa mikroorganisme yang mengakibatkan wabah.

Guru Besar Mikrobiologi FK UNAIR, Prof. Dr. Ni Made Mertaniasih, Sp.MK (K), mengatakan bahwa laboratorium mikrobiologi di UNAIR memang sudah mumpuni untuk digunakan penelitian-penelitian. Selain itu, dengan adanya perluasan jejaring melalui organisasi seperti ini diharapkan bisa menambah kolaborasi riset dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Kesehatan global

Seperti diketahui, kesehatan telah menjadi tantangan bersama masyarakat global. Dalam waktu singkat, mikrooganisme berbahaya dapat dengan mudah menjangkiti wilayah-wilayah lain karena dipicu sejumlah faktor di antaranya populasi berlebih, perubahan iklim, keamanan pangan, dan transportasi.

Menurut Wayan, peran laboratorium di perguruan tinggi diperlukan untuk membantu pemerintah dalam menaungi wabah-wabah seperti Zika, Anthraks, Flu Burung, dan Tuberkolosis. Perguruan tinggi memiliki peran besar karena para peneliti dihasilkan dari kampus-kampus.

“Ketika terjadi outbreak itu yang dibutuhkan adalah diagnosis dini. Maka, diagnosis dini itu sangat penting. Ketika kita well-prepared dan well informed, penyakit tidak akan cepat menyebar,” tutur Wayan.

Selain itu, ada tiga fakultas yang bisa mengajukan diri agar laboratorium divisitasi oleh anggota INDOHUN yaitu fakultas kedokteran, fakultas kedokteran hewan, dan fakultas kesehatan masyarakat.

Penulis: Defrina Sukma S