image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tropical Disease Diagnostic Center (TDDC) UNAIR berhasil mengembangkan metode untuk melihat jenis kelamin pada unggas monomorfik (hewan yang sulit dibedakan hanya dari struktur anatomi dan morfologi). Pusat studi yang bermarkas di Institute Tropical Diseases (ITD) tersebut sanggup memastikan, apakah seekor unggas berjenis betina atau jantan, hanya dengan melihat bulunya.

Peternak burung Cucak Ruwo asal Wisma Mukti Sukolilo Surabaya bernama Gunawan sudah membuktikan hal itu. Dia menyebutkan, pengembangan teknologi yang diinisiasi oleh UNAIR itu sudah sukses menerobos banyak mitos. Selama ini, penentuan jenis kelamin Cucak Rowo sekadar mengacu pada kebiasaan. Teknologi dan metode yang dikembangkan peneliti UNAIR, kata Gunawan, memiliki dampak aplikatif dan langsung ke masyarakat. Khususnya, bagi para peternak Cucak Rowo. Nilai ekonomisnya tinggi. Karena, pengetahuan mutlak akan jenis kelamin itu bakal meningkatkan laba penjualan.

BACA JUGA:  Prof. Maria Lucia Inge, Menyeimbangkan Peran Peneliti dan Ibu

Peneliti TDDC Dr. Eduardus Bimo Aksono menjelaskan, metode yang digunakan UNAIR tergolong sederhana dan tidak berbahaya. Tidak ada pengambilan sampel darah maupun rekayasa pada unggas yang akan didiagnosa. Cukup pakai bulu yang sebelumnya melekat pada hewan. Bulu yang jatuh pun bisa dijadikan objek.

Saat ini, metode yang dikembangkan itu sudah memberi manfaat bagi peternak di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, dan beberapa provinsi lainnya.

 

mm
Alumnus S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Penulis buku kumpulan esai "Menyikapi Perang Informasi", kumpulan puisi "Balada Pencatat Kitab", dan kumpulan cerita pendek "Merantau". Editor foto dan berita di www.news.unair.ac.id. Bergiat di www.suroboyo.id.