Baitul Maal Wat Tamwil
Peneliti lembaga keuangan mikro konvensional dan syariah, Schohrul Rohmatul Ajija. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Penelitian dan publikasi riset sudah tak asing lagi bagi pengajar Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Schohrul Rohmatul Ajija, S.E., M.Ec. Lulusan International Islamic University Malaysia (IIUM) ini aktif melakukan riset mengenai keberadaan lembaga keuangan mikro (LKM) konvensional dan syariah.

LKM berperan penting guna mendorong sektor riil di Indonesia. Hal ini didukung dengan dominasi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah. “Saya melihat LKM di Indonesia sangat membantu pertumbuhan sektor riil dan yang menarik adalah sebagian besar LKM di Indonesia muncul secara swadaya dari masyarakat,” jelas Ajija.

“Berawal dari tesis saya mengenai Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) pada tahun 2012 dan beberapa alumnus Ekonomi Pembangunan UNAIR mendirikan BMT Muda. Kami merasakan betul manfaat adanya LKM. Oleh karena itu, tidak ada lagi keraguan bagi saya untuk semakin concern dalam bidang ini,” kata Ajija yang juga mengajar Ekonometrika di FEB UNAIR.

Dalam publikasinya berjudul The Effectiveness of Baitul Maal wat Tamwil in Reducing Poverty, ia melakukan observasi terhadap efektivitas BMT dalam mengurangi kemiskinan. Ia melakukan studi lapangan di sebuah BMT di Pasuruan, Jawa Timur.

Ajija menguji produk pembiayaan bai’ bitsamanil ajil (BBA) dan pembiayaan mudharabah (MDA). BBA sendiri merupakan kredit yang diberikan kepada nasabah debitur dalam rangka memenuhi kebutuhan barang modal (investasi) dengan cara jual beli. Sedangkan, MDA ialah pembiayaan akad kerjasama (syirkah) BMT dan anggota membiayai usaha tanpa penyertaan manajemen BMT di dalamnya.

Penelitian dilakukan selama satu tahun pada tahun 2011-2012 dengan mewawancarai nasabah produk BBA atau MDA. Kemudian, tingkat keefektifan BMT dievaluasi dengan membandingkan pendapatan sebelum dan sesudah menerima pembiayaan.

Data yang diperoleh diukur dengan menggunakan statistika deskriptif, dan beberapa indeks pengukuran kemiskinan, seperti Poverty Gap, Sen Index, dan Foster-Greer-Thorbecke (FGT) Index. Hasilnya, perbandingan ketimpangan kemiskinan menurun dari 24 menjadi 11,3 persen berdasarkan perhitungan Poverty Gap. Artinya, ketimpangan karena perbedaan pendapatan yang didapatkan masyarakat miskin dapat dikurangi dengan pembiayaan BMT.

Dari sisi lain, banyak responden yang merasakan peningkatan pendapatan setelah menerima pembiayaan dari BMT. Tidak hanya menurunkan kemiskinan dan mengembangkan usaha lokal, BMT mampu mengurangi peminjaman illegal yang menjebak masyarakat dari kemiskinan.

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone