stem cell
Ketua Pusat Kedokteran Regeneratif dan Stem Cell, Dr. dr. Ferdiansyah, Sp.OT. (Foto: Sefya H. Istighafrica)
ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Dunia kedokteran terus berinovasi mengembangkan teknologi stem cell. Yang terbaru saat ini, para pakar stem cell dunia sedang mengembangkan riset berupa metode replace dengan memanfaatkan organ tubuh yang telah mati. Pusat Kedokteran Regeneratif dan Stem cell Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RSUD Dr. Soetomo pun sedang mengarah kesana.

Ketua Pusat Kedokteran Regeneratif dan Stem cell FK UNAIR–RSDS Dr. Ferdiansyah, dr., SpOT, mengungkapkan, pihaknya sedang melakukan pengembangan atas riset tersebut. Di antaranya sedang memproses pembelian peralatan pendukung seperti bioreactor.

Saat ini, metode replace yang menggabungkan prosedur transplantasi dengan metode stem cell masih dalam tahap uji pada hewan coba. Mulanya berkembangnya inovasi ini adalah untuk menjawab problematika keterbatasan jumlah donor organ. Bermula dari kondisi tersebut, pengembangan inovasi stem cell pun kemudian mengarah pada pemanfaatan organ mati.

Terbatasnya jumlah pendonor organ mengakibatkan lonjakan angka kematian pasien transplantasi yang cukup tinggi. “Ini menjadi permasalahan di banyak negara, banyak sekali pasien transplantasi akhirnya meninggal karena kesulitan memperoleh donor organ,” ungkapnya.

Prinsipnya, ketika seseorang hendak mentransplantasikan organnya kepada orang lain, maka pendonornya harus hidup. Atau pendonornya dalam kondisi mati namun sirkulasi sel dalam tubuhnya masih berjalan sehingga organnya masih hidup. Dengan begitu, maka dapat dilakukan prosedur transplantasi ke tubuh orang lain.

Jika disesuaikan dengan prinsip kerja stem cell yang sifatnya meregenerasi sel- sel yang rusak, maka Ferdi optimis metode replace ini akan berhasil menghidupkan kembali sel pada organ yang sebelumnya telah mati atau tidak berfungsi. Dengan memasukkan sel hidup ke dalam organ mati, diharapkan organ mati ini dapat ‘hidup’ kembali, sehingga dapat ditransplantasikan ke tubuh orang lain.

“Yang sudah berjalan adalah metode stem cell yang kaitannya dengan jaringan seperti kulit dan tulang. Sementara stem cell untuk organ kita pelan-pelan sedang mengarah kesana,” ungkapnya.

Di luar negeri, metode replace semacam ini sudah masuk tahap uji hewan coba. Melalui rekayasa jaringan, metode ini memanfaatkan organ mati pada jasad seekor babun. Dalam prosesnya,  dilakukan pengambilan seluruh sel asli dari organ ginjal babun yang telah mati tersebut. Kemudian disterilkan menggunakan alat ‘pencuci’ khusus. Sementara itu, juga dilakukan pengambilan sel hidup dari organ ginjal miliki baboon yang masih hidup.  Kemudian sel hidup ini dimasukkan ke ginjal yang mati tadi.  Dan berhasil. Ginjal yang tadinya mati tak berfungsi akhirnya bisa hidup kembali.

BACA JUGA:  Departemen Obgyn Gandeng Australia Atasi Kasus Kematian Ibu

Tetap Mengutamakan Etika

Bicara soal etika, setiap kemajuan inovasi bisa saja berbenturan dengan etika, dan pada akhirnya memunculkan persoalan baru. Apakah menghidupkan organ yang mati bertentangan dengan etika?

“Kita bicara asas kemanfaatan ya. Ilmu itu kan bagai pisau bermata dua. Output-nya dapat bermanfaat atau bisa juga disalahgunakan. Dalam hal ini, kami tetap mengutamakan aspek etika,” tegas Ferdi.

Ke depan, inovasi tersebut akan mengarah pada metode pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit yang belum dapat disembuhkan dengan metode pengobatan saat ini. Juga untuk kepentingan transplantasi jenis penyakit terminal seperti  gagal ginjal, gagal jantung, kelainan tulang, hingga sirosis.

Stem cell merupakan inovasi pengobatan masa depan, maka diperlukan dukungan luar biasa dari berbagai aspek. Terlebih lagi, RSUD Soetomo telah disahkan oleh Menkes sebagai pusat pengembangan pelayanan dan pendidikan stem cell dan bank jaringan sejak tahun 2014 bersama dengan RSCM Jakarta.  Itu artinya, kapabilitas para pakar Stem cell FK UNAIR-RSDS diakui mampu dalam mengembangkan berbagai inovasi stem cell.

“Kendala pengembangan stem cell sejauh ini disebabkan karena pendanaan yang kurang. Ini krusial karena menyangkut dana riset dan pengadaan barang. Kalau di luar negeri, penyediaan peralatan hanya butuh waktu satu sampai dua tahun saja, sementara di Indonesia masih harus menunggu sampai sepuluh tahun,” ungkapnya.

Penulis: Sefya H. Istighfarica

Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone