studi maskulinitas
Nur Wulan, Ph.D., jadi salah satu pionir riset studi maskulinitas. (Foto: Binti Q. Masruroh)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Ranah studi maskulinitas menjadi suatu fokus penelitian yang masih jarang sekali diteliti. Hal tersebut diungkapkan oleh pakar gender Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Nur Wulan, Ph.D. Wulan, sapaan akrabnya, merasakan tantangan kesulitan menemukan referensi saat ia menyelesaikan disertasi sebelum tahun 2011 lalu.

“Saya tertarik dengan studi maskulinitas ini karena penelitian terkait maskulinitas sangat jarang untuk dilakukan. Kebanyakan peneliti lebih kepada studi perempuan baik feminisme maupun femininitas. Isu mengenai laki-laki yang dipresentasikan sangat sedikit yang membahas,” tutur dosen Sastra Inggris itu.

“Pada zaman 1980-an adalah rezim di mana femininitas dan gerakan feminisme sangat sering diperbincangkan di bumi bagian Barat. Mulai tahun 1960-an banyak gerakan feminisme di Barat. Hal ini memang membuat masyarakat lebih suka menguak bagaimana peran seorang perempuan dibandingkan laki-laki. Karena pada zaman itu, orang mulai sadar perempuan harus diberdayakan. Saatnya perempuan bergerak. Semangat itulah yang membawa situasi semangat para peneliti,” lanjutnya.

Meski masih jarang diteliti, ia berani mengambil tantangan untuk meneliti hal tersebut saat ia menyelesaikan pendidikan doktor di Universitas Sydney, Australia. Perempuan kelahiran Malang ini kemudian meneruskan fokus maskulinitas sampai saat ini.

Wulan mengatakan, sebagian besar orang masih belum menyadari kesetaraan laki-laki dan perempuan. Tak mungkin kesetaraan gender diperoleh jika hanya perempuan saja yang diberdayakan tanpa menyinggung maskulinitas.

“Percuma saja jika tidak menyentuh ranah itu, karena sampai sekarang yang membuat kebijakan adalah kaum laki-laki. Perubahan nasib seorang perempuan bisa terjadi jika didukung dengan perubahan kebijakan,” papar pengajar Studi Asia Tenggara ini.

Terkait sumber penelitian yang masih sedikit, peneliti yang berkecimpung dalam studi maskulinitas harus menjadi pioner bagi peneliti yang akan datang, karena minimnya jumlah peneliti di bidang tersebut di Indonesia.

“Istilahnya seperti babat alas. Masih pionir dan harus memberi arahan yang tepat untuk penelitian selanjutnya,” tutur Wulan yang saat ini sedang meneliti tentang representasi maskulinitas pada sastra anak Indonesia sejak masa kolonial sampai masa reformasi.

Ditanya soal tujuan pencapaian dari hasil risetnya, master lulusan Universitas Auckland ini menuturkan, adalah kesadaran kaum lelaki untuk mendukung kesejahteraan perempuan.

Dalam prosesnya, Wulan juga menggandeng banyak pihak antara lain peneliti maskulinitas, dan mahasiswanya untuk terlibat dalam aktivitas penelitiannya.

Penulis: Ainul Fitriyah

Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone