Prof Rachmah Ida, UNAIR Media Professor.
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS - Pakar media Universitas Airlangga Prof. Dra. Rachmah Ida, M.Com., Ph.D., memberikan pandangan yang menarik mengenai permasalahan pemberitaan hoax yang tengah hangat di masyarakat. Pandangan itu disampaikan pada acara Gelar Inovasi Guru Besar, Kamis (16/3).

Pada diskusi yang mengangkat tema “Peran Aktif Masyarakat Menghadapi Hoax di Media Sosial”, Prof. Ida sapaan akrab guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR tersebut menegaskan bahwa maraknya informasi hoax di tengah masyarakat sejatinya merupakan peran pelaku media (masyarakat, -red) itu sendiri. Pasalnya, menurut Prof. Ida, hoax menjadi sebuah hal yang terkadang memang dibutuhkan oleh masyarakat.

“Nah dalam hal ini apakah hoax itu informasinya dibutuhkan atau tidak oleh masyarakat. Kalau tidak dibutuhkan masyarakat kita tidak perlu melihatnya. Kalau masyarakat kita ingin tahu, itu beda lagi,” jelasnya.

Selanjutnya Prof. Ida menegaskan, informasi hoax bisa membawa dampak besar jika menyangkut pada sistem yang lebih besar, misalnya negara. Jika hanya pada tataran yang kecil, menurutnya hoax tidak begitu menjadi sebuah permasalahan.

“Kita kan sering dapat pesan singkat bahwa mendapat hadiah atau menang undian. Ini kan hoax, tapi tidak menjadi masalah dan cenderung kita abaikan. Makanya hoax akan menjadi masalah jika berdampak kepada kepentingan negara, politik, atau pejabat sebuah institusi. Itu persoalannya,” tegas Prof. Ida.

Untuk mengurangi dampak hoax yang terus menyebar luas di masyarakat, Prof. Ida menjelaskan perlunya memberikan pengajaran literasi kepada masyarakat. Pembelajaran itu menurutnya bisa dengan menjelaskan tentang penggunaan media sosial dan fungsi dari adanya media sosial.

BACA JUGA:  Ajang Pencarian Bakat dan Diskusi oleh PT Telkom di UNAIR

“Masyarakat menggunakan media sosial bukan karena mereka tahu terlebih dahulu, tapi mereka menerima dulu dan tahu begitu saja. Mereka tidak tahu apa itu WA, BBM. Mereka gunakan itu karena eforia yang terjadi di masyarakat,” paparnya. “Nah, kewajiban kita itu menyadarkan, mendidik, dan menjelaskan fungsi media sosial, agar mereka melek media,” imbuhnya.

Pada kesempatan ini Prof Ida memberikan apresiasi terkait maraknya gerakan-gerakan anti hoax yang dibuat oleh beberapa komunitas masyarakat. Ini menunjukkan ada upaya mengajak masyarakat untuk sadar akan persoalan berita hoax yang terus menyebar.

“Gerakan itu semacam aktivitas sosial untuk penyadaran. Tapi kalau gerakan hanya pada eforia saja, ya tidak pas lah. Namanya gerakan harus menuju pada tindakan nyata, tidak sekedar seremonial saja tanpa langkah apa-apa. Jangan hanya diresmikan setelah itu diam,” tegasnya.

Di akhir acara, Prof. Ida menegaskan bahwa salah satu upaya yang cukup efektif mengurangi maraknya pemberitaan hoax adalah dengan aplikasi software. Selain itu diperlukan upaya menegaskan tentang adanya sebuah etika dalam bermedia.

“Kita memang tidak bisa menghapus hoax. Tapi ada upaya-upaya yang bisa kita gunakan untuk menguranginya, seperti menyentuh sisi spiritual mereka, kebijakan politik, dan pemahaman etika dalam bertukar informasi,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Binti Q. Masruroh

mm
Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).