etika informasi hoax
Pakar psikologi industri dan organisasi Prof. Dr. Cholichul Hadi, Drs., M.Si. (Foto: Dilan Salsabila)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tujuan penyebaran hoax adalah mencari keuntungan sembari merugikan pihak lain yang dipojokkan. Hoax muncul sebagai bagian dari dampak negatif penyalahgunaan teknologi dan informasi. Informasi yang tidak benar jika dibiarkan akan membawa ketidakpastian pada masyarakat.

Hoax tidak dapat dihentikan seratus persen sebab dari dulu berita palsu menjadi bagian dari arus kehidupan manusia. Hal yang bisa dilakukan hanyalah dengan mencegah agar hoax tidak berkembang masif dan menimbulkan gejolak,” tutur Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Prof. Dr. Cholichul Hadi, Drs., M.Si.

“Persoalannya bukan pada hoax, melainkan bagaimana kita mengubah hal negatif menjadi hal yang konstruktif. Mulailah dari diri kita. Buatlah diri menjadi orang hebat. Orang hebat ada karena orang lain, termasuk diri kita,” tutur Cholichul.

Pakar psikologi industri dan organisasi itu mengatakan, penyebaran informasi abal-abal bisa dicegah apabila pelaku sadar betul bahwa hal tersebut merugikan lingkungannya. Hal lainnya yang bisa dilakukan adalah mericek kembali kebenaran informasi yang diterima.

“Validitas data menjadi keharusan untuk memilah informasi yang akan dikonsumsi,” imbuhnya.

Selain itu, setiap orang harus memperhatikan etika dalam menyebarluaskan informasi.  “Yang paling penting adalah memperhatikan kepentingan orang,” tuturnya.

 

Penulis: Helmy Rafsanjani

Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone