Alumni Farmasi
Drs. Sugeng Wijono, Apt., (tengah) pendiri Rumah Sakit Dian Husada di Mojokerto, alumnus Fakultas Farmasi angkatan tahun 1978. (Foto: Nuri Hermawan)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Disela kemeriahan reuni akbar yang digelar oleh Alumni Farmasi Airlangga Surabaya (ALFAS) Sabtu malam (11/3), tim UNAIR NEWS bertemu dengan salah satu alumni yang sukses meniti karir dalam mendirikan Rumah Sakit Dian Husada di Mojokerto. Ialah Drs. Sugeng Wijono, Apt., alumni Fakultas Farmasi Universitas Airlangga angkatan tahun 1978.

Dalam reuni yang dilangsungkan di Salt Resto Semarang, Sugeng sapaan akrab bapak dua anak tersebut menjelaskan, jauh sebelum RS. Dian Husada berdiri, ia bersama rekan-rekannya mendirikan sebuah lembaga belajar.

“Semua ini berawal dari bimbingan belajar yang saya dirikan bersama Prof. Djoko Agus Purwanto. Setelah Prof. Djoko fokus jadi dosen, saya lanjutkan bimbel hingga tahun 1996,” terang Sugeng.

Tekad Sugeng tidak berhenti sampai di situ. Kepekaannya dalam melihat kondisi masyarakat membuatnya terus berupaya memberikan suatu hal yang bisa dimanfaatkan secara bersama. Tahun 2007, Sugeng berniat membeli lahan di daerah Sooko, Mojokerto. Lahan itulah yang kemudian dibangun RS. Dian Husada.

“Saya mulai merintis RS itu tahun 2007. Saya beli lahan dulu. Kemudian tahun 2010 RS mulai kami bangun sampai tahun 2016. Kemudian awal tahun 2017 baru saja diresmikan,” paparnya.

Laki-laki kelahiran Mojokerto, 10 Maret 1958 itu menjelaskan, banyak tantangan yang ia hadapi selama mendirikan lembaga pendidikan hingga rumah sakit. Namun, tekad pengabidan dan niat untuk bisa menjadi manusia yang bermanfaat menjadi salah satu alasan kuat Sugeng bisa bertahan hingga saat ini.

“Tantangannya banyak sekali, terutama materi. Untuk hal pendanaan, pembangunan RS memang sulit sekali seperti dalam proses pembangunan dan pengadaan alat kesehatan,” cerita Sugeng.

“Kalau bilang RS, ini bukan untuk bisnis, tapi lebih dari itu adalah bentuk pengabdian dan bermanfaat untuk orang lain. Ini juga memang kewajiban, saya tidak berandai apakah untung tidaknya, yang penting manfaatnya,” tambahnya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone