pakar kanker paru-paru
Persemayaman pakar kanker paru-paru di Aula FK UNAIR, Kamis (9/3). (Foto: Sefya H. Istighfarica)
ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Duka mengiringi upacara persemayaman janazah pakar kanker paru-paru Prof. Dr. Benjamin Palgunadi Margono, dr., Sp.P (K). Guru Besar Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu disemayamkan di Aula FK UNAIR, Kamis (9/3). Sang pakar kanker paru-paru yang dikenal tegas dan tidak setengah-setengah dalam mentransfer ilmu ini meninggal pada usia ke-71 tahun.

Prof. Ben, sapaan akrabnya, meninggalkan dunia pada hari Sabtu (4/3) setelah sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Siloam Surabaya beberapa waktu lalu. Setelah dari rumah sakit, jenazah sempat disemayamkan di Yayasan Adi Jasa sebelum akhirnya diantarkan ke FK UNAIR dan FK Universitas Widya Mandala untuk diberikan penghormatan terakhir. Setelah itu, jenazah diantar menuju krematorium Eka Praya untuk diperabukan.

Kabar berpulangnya Prof. Ben ternyata tidak saja menyisakan kesedihan yang mendalam di benak keluarga, tetapi juga para sejawat dokter khususnya dari Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi FK UNAIR.

Dokter Soedarsono mengaku kehilangan salah seorang guru terbaiknya. Baginya, Prof. Ben adalah sosok guru idola dengan ciri khas yang berbeda. Salah satunya adalah karakter mendiang dalam mentransfer ilmunya kepada para muridnya. “Ilmu apapun yang beliau punya, semuanya disebarkan ke semua muridnya. Semua diberikan sampai muridnya pandai,” tutur Soedarsono.

Semasa hidup, Prof. Ben juga aktif melakukan banyak penelitian di bidang kanker paru-paru. Meskipun sang guru besar adalah pakar kanker paru, namun pada kenyataannya Prof. Ben juga menguasai banyak bidang, seperti penyakit infeksi paru, hingga penyakit asma.

Selain menguasai banyak kasus terkait paru-paru, Prof. Ben bahkan menguasai tujuh bahasa, antara lain bahasa Belanda hingga Perancis. “Saya sampai tidak tahu di mana beliau belajar menguasai bahasa sampai sebanyak itu. Namun karena Prof. Ben dikenal paling pandai waktu kuliah, sehingga mudah baginya untuk mempelajari banyak hal.  Yang saya ketahui beliau banyak belajar sesuatu secara otodidak,” ungkapnya.

Sebagai orang yang sering  mendampingi Prof. Ben melakukan berbagai penelitian, Soedarsono memastikan ada banyak sekali penelitian almarhum yang sifatnya aplikatif sehingga dapat diimplementasikan untuk kepentingan masyarakat.

“Beberapa diantaranya adalah penelitian tentang bagaimana penatalaksanaan pasien kanker paru. Lalu bagaimana cara memberikan edukasi pada pasien, serta bagaimana membuat paduan obat-obatan untuk kemoterapi. Metode penemuan Prof. Ben  hingga saat ini masih diterapkan di departemen kami, “ ungkapnya.

Kenangan lain tentang sosok almarhum juga diceritakan oleh rekan sejawat lainnya yaitu dokter Isnu Pradjoko. Isnu mengenang almarhum sebagai sosok yang tegas dan tidak setengah-setengah dalam berbagi ilmu.

BACA JUGA:  Minyak Zaitun Terozonisasi Efektif Taklukkan Bakteri MRSA

“Kelihatannya beliau memang galak dan tegas, namun sebenarnya beliau itu amat sayang dengan anak didiknya. Beliau berupaya keras agar muridnya dapat mewarisi ilmu yang diperolehnya,” kenangnya.

Sebagai seorang guru, Prof. Ben dikenal bertanggung jawab untuk memandaikan anak didiknya semaksimal mungkin. Salah satu upayanya adalah dengan mengadakan evaluasi rutin setiap minggu bersama mahasiswa dokter spesialis maupun dokter muda.

“Semua mahasiswa dikumpulkan dalam satu ruangan untuk melaporkan semua kasus ringan dan berat yang sedang mereka tangani,” ungkap Isnu.

Dengan cara demikian, Prof. Ben terbantu untuk menilai sejauh mana kinerja para muridnya dalam menangani para pasien. “Kalau salah, ya, betul-betul disalahkan. Kalau belum memahami betul prosedur pelayanan yang benar, beliau pasti suruh muridnya belajar lagi sampai betul. Sikapnya memang tegas, namun dampaknya luar biasa untuk kemajuan anak didiknya,” kenangnya.

Kontribusi Prof. Ben terhadap sistem paliatif yang diterapkan kepada para pasien kanker paru-paru terbilang cukup besar. Demi pasien kanker paru-paru, Prof. Ben kemudian menempuh pendidikan tambahan di Murdoch University (MURDOCH ) setelah mendapat gelar guru besar untuk mendalami ilmu paliatif.

“Prof. Ben termotivasi untuk menggalakkan upaya paliatif demi meringankan penderitaan para pasien paru-paru yang umumnya sudah dalam kondisi kronis,” jelas Isnu.

Kecintaan Prof. Ben terhadap ilmu pengetahuan juga dibuktikan dengan melakukan banyak sekali penelitian. Mayoritas penelitiannya masuk ke dalam jurnal-jurnal tingkat nasional hingga internasional.

“Tak heran jika kemudian sepeninggal Prof. Ben  banyak sekali tumpukkan jurnal penelitian yang belum sempat dikumpulkan kembali. Inilah yang menjadi mimpi besar seorang Prof. Ben, yaitu ingin mengkompilasi semua hasil penelitiannya menjadi sebuah buku,” ungkapnya.

Untuk mewujudkan impian sang profesor, pihak keluarga dibantu sejawat Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi FK UNAIR berusaha mengumpulkan semua data penelitian baik itu dalam bentuk salinan digital maupun salinan cetak.

“Karena dari keluarga tidak ada yang dokter, maka akan coba kami (rekan sejawat) bantu. Sebelum sakit, beliau sedikit-sedikit sudah mengumpulkan beberapa arsip data, rencananya kalau sudah jadi buku akan diserahkan ke FK UNAIR dan UNAIR,” ungkapnya.

Garis Kematian memang mutlak rahasia Tuhan. Isnu berharap, semangat keilmuan seorang Prof Benjamin dapat dilanjutkan oleh para generasinya. “Selain handal di bidang pendidikan, Prof. Ben juga hobi sekali kuliner. Kalau sedang ke luar negeri, beliau bisa menunjukkan tempat makan mana saja yang masakannya enak dan halal,” kenangnya.

Penulis: Sefya H. Istighfarica

Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone