SUASANA serius ditunjukkan antara pemateri dan ratusan peserta “Workshop Pengelolaan Kekayaan Intelektual dan Drafting Paten”, di UNAIR, Senin (13/2) yang diselenggarakan LPPA-HKI UNAIR. (Foto: Bambang Bes)
SUASANA serius ditunjukkan antara pemateri dan ratusan peserta “Workshop Pengelolaan Kekayaan Intelektual dan Drafting Paten”, di UNAIR, Senin (13/2) yang diselenggarakan LPPA-HKI UNAIR. (Foto: Bambang Bes)
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga berharap tahun akademik 2017 ini bisa mengantarkan puluhan produk penelitian dosen yang potensial untuk memperoleh hak paten dan hak kekayaan intelektual lainnya. Dari 300 penelitian, 270 berorientasi produk (paten), dan 75 kandidat diantaranya potensial untuk dilakukan hilirisasi. Dari yang potensi itulah diharapkan setidaknya 32 penelitian memperoleh hak paten tahun ini.

”Dengan demikian akan segera menambah jumlah daftar register paten yang masih teregristasi dan hingga saat ini terdapat 90 paten,” kata Ketua Lembaga Pengembangan Produk Akademik dan Hak Kekayaan Intelektual (LPPA-HKI) Universitas Airlangga, Prof. Dr. Sukardiman, MS., Apt.

Guna mewujudkan target itulah LPPA-HKI menyelenggarakan “Workshop Pengelolaan Kekayaan Intelektual dan Drafting Paten”, di Aula Kahuripan, Gedung Administrasi, Kampus C UNAIR Jl. Mulyorejo Surabaya, Senin (13/2). Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Rektor IV Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., M.Sc.

Dalam workshop yang diikuti 200-an dosen dan peneliti UNAIR ini, LPPA-HKI menghadirkan dua nara sumber yaitu Direktur Pengelolaan Kekayaan Intelektual (KI) Kemenristek Dikti Dr. Sadjuga, M.Sc., dan Direktur Paten, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, Rahasia Dagang, Dirjen KI, Dr. Mercy Marvel, SH., M.Si.

Ditambahkan oleh Prof. Sukardiman, dari workshop terkait HKI dan Paten di UNAIR ini, dalam waktu yang tidak lama lagi juga akan dilanjutkan dengan acara pendampingan dan mediasi, khususnya terhadap beberapa peneliti yang sudah mengajukan sertifikasi paten dan hingga kini belum turun.

Sementara Wakil Rektor IV UNAIR, Junaidi Khotib, dalam sambutannya mengatakan bahwa dengan diperolehnya Paten, baik secara lembaga dan perseorangan maka akan menunjang program university holding, karena hasil-hasil penelitian itu bisa segera dilakukan hilirisasi dan bisa dimanfaatkan secara industri dan akhirnya juga bermanfaat untuk masyarakat. Terutama penelitian-penelitian yang mempunyai dampak terhadap kemanusiaan.

”Ketika hasil penelitian didaftarakan untuk memperoleh hak cipta atau hak paten, memang belum memberikan dampak. Tetapi dalam jangka panjang setelah memperoleh hak paten, maka bisa memberikan dampak ekonomis baik secara individu dan lembaga,” kata dosen Fakultas Farmasi UNAIR ini.

BACA JUGA:  Lewat Workshop, Dorong Eksistensi Pusat Studi Wanita

Sebagaimana pada banyak universitas terkemuka di dunia, di mana sekitar 75% dana pendidikannya berasal dari produk akademik dan paten. Sehingga dampak hilirisasi sebagai bagian akhir penelitian itu, secara kelembagaan bisa sebagai bagian dari sumber dana pendidikan, yang selanjutnya akan membantu pembiayaan dari yang ditanggung oleh mahasiswa.

Sedangkan bagi universitas, ketersediaan dana yang relatif mandiri maka sangat memungkinkan untuk bisa memilih calon-calon mahasiswa yang berkualitas. Dengan mahasiswa yang berkualitas tersebut, maka selanjutnya juga memungkinkan mencapai efek positif yang lebih baik.

Dalam sosialisasinya, Dr. Sadjuga, M.Sc., antara lain menjelaskan bahwa di Indonesia ini rata-rata per tahun terdapat antara 700 hingga 800 pemohon paten. Dengan demikian dari manfaat paten ini juga bisa menjadi sumber pemasukan negara selain pajak. Dengan semakin banyak peneliti dan pencipta produk mengajukan hak intelektualitasnya, maka ratusan anak bangsa ini akan bisa ikut menikmati produk-produk dari HKI/paten.

”Undang-undang No. 13 Tahun 2016 tentang Paten memberi peluang besar bagi masyarakat untuk mendapatkan hak paten,” kata Sadjuga, seraya memerinci produk-produk penelitian yang bisa diajukan untuk dimintakan paten, merek dagang, hak cipta, dan hak intelektual lainnya. Baik itu berupa karya ilmiah, buku, temuan-temuan baru software, dan karya produk/barang, dsb.

Demikian juga Dr. Mercy Marvel, SH., M.Si., sebagai pakar hukum ia juga merinci secara teknis cara-cara dan persyaratan-persyaratan bagi peneliti yang akan mengajukan hak paten dan hak kekayaan intelektual lainnya.

“Negara kita ini kaya-raya dan memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa, baik itu ragam budayanya, ragam wisatanya, ragam hasil buminya, dsb. Itu pula sehingga maka pemerintah akan membina dan tidak akan melepaskan potensi tersebut begitu saja,” kata Dr. Marvel. (*)

Penulis : Bambang Bes