Delegasi FH UNAIR di ajang kompetisi Philip C. Jessup. (Foto: Istimewa)
ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS –Badan Semi Otonom (BSO) Intenational Law Student Association (ILSA), Fakultas Hukum, Universitas Airlangga kembali meraih penghargaan melalui kompetisi peradilan semu (moot court). Kompetisi “Philip C. Jessup” ini diselenggarakan oleh Indonesian Society of International Law dan dilaksanakan di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, pada tanggal 10-12 Februari 2017.

“Philip C. Jessup adalah adalah lomba international moot court yang paling tua. Lomba ini diselenggarakan oleh Indonesian Society of International Law yang menjadi penyelenggara Philip C. Jessup setiap tahun untuk seleksi nasional,” tutur Titha selaku ketua delegasi.

Selama enam bulan lamanya, para delegasi mempersiapkan segala sesuatu untuk menunjang penampilan mereka saat lomba, mulai dari riset hingga latihan presentasi argumen.

“Perlu waktu yang lama karena riset harus dilakukan secara ekstensif, mengingat ini menggunakan hukum internasional sehingga sumber bacaan sangat banyak dan semua dalam Bahasa Inggris,” ungkap mahasiswa semester 6 tersebut.

Para delegasi yang mewakili ILSA dalam kompetisi tersebut adalah Jasmine Amelia Ulfah (2013), Mutiara Kasih (2014), Dewi Santoso (2015), Bima Adhijoso (2015), Zulfikar D. Winarno (2015) sebagai penyaji, dan Maya Assegaf (2015), Regine Wiranata (2016), Megawati Widjaja (2016) sebagai periset.

BACA JUGA:  Beri Konsultasi Hukum Gratis, Dosen FH Terima Penghargaan Ashoka

Tahun ini, para delegasi ILSA berhasil masuk semifinal dan menduduki peringkat 4 untuk pertama kalinya. Prestasi yang didapatkan adalah 1st Best Overall Memorial, 1st Best Oralist yang didapatkan oleh salah satu delegasi yakni Jasmine Amelia Ulfah dengan nilai tertinggi selama sejarah Jessup National Round, dan penghargaan sebagai semifinalis.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kasus yang diberikan oleh penyelenggara kali ini juga unik yakni mengenai sengketa pengungsi. Meski demikian, tim mengaku tidak ada kendala serius selama lomba maupun persiapan lomba.

“Kami sangat senang atas kemenangan ini karena ini kali pertama untuk UNAIR berhasil mengalahkan institusi-institusi lain yang biasanya menjadi juara. Namun karena kerja keras kami akhirnya semua ini terbayar,” imbuh Titha.

Titha berharap kemenangan ini dapat membuat mahasiswa lain ikut terpacu dan tidak patah semangat untuk mengikuti kompetisi peradilan semu lainnya. “Tak ada sesuatu yang tak mungkin,” pungkas Titha.

Penulis: Pradita Desyanti

Editor: Defrina Sukma S

ShareShare on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someone